Kamis, 29 April 2010

Bab 21 - Permainan

Musim Panas 2001 - Musim Semi 2002

Pada tanggal 27 Agustus, 2001, sebuah helikopter Israel menembakkan dua buah roket ke kantor Abu Ali Mustafa, sekretaris jendral PFLP. Satu dari roket² itu menghajarnya saat dia duduk di kantornya.

Image
Abu Ali Mustafa, ketua PFLP.

Keesokan harinya, lebih dari 50.000 masyarakat Palestina yang marah, dan juga keluarga Mustafa, menghadiri penguburannya. Mustafa telah menentang proses perdamaian dan isi Perjanjian Oslo. Meskipun begitu, dia adalah Muslim moderat sama seperti ayahku, dan kami sering pergi bersama untuk mendengarkan ceramahnya.

Israel menuduhnya melakukan sembilan serangan bom mobil, tapi hal ini tidak benar. Sama seperti ayahku, dia adalah pemimpin politik, dan bukan pemimpin militer. Israel tidak punya bukti apapun terhadap dirinya. Tapi tampaknya itu tak jadi masalah. Mereka tetap saja membunuh Mustafa - mungkin sebagai balas dendam pembantaian di Sbarro atau di Dolphinarium. Atau kemungkinan besar mereka ingin menyampaikan peringatan pada Yasser Arafat. Selain menjadi ketua PFLP, Mustafa juga adalah anggota Komite Pelaksana PLO.

Image
Serangan teroris Muslim 9/11 di AS.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 11 September, sembilan belas teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat jet AS. Dua pesawat yang diterbangkan teroris menabrak dua gedung World Trade Center di New York City. Pesawat ketiga jatuh di gedung Pentagon di Washington DC. Pesawat yang keempat jatuh di lapangan County Somerset, Pennsylvania. Semua korban berjumlah 2.973, termasuk para teroris itu sendiri.

Sewaktu berbagai media berlomba memberitakan kejadian luar biasa ini, aku duduk bersama orang² seluruh dunia melihat berulang-ulang tayangan jatuhnya Gedung Kembar itu, di mana abu putih menutupi Jalan Gereja bagaikan badai salju di bulan Februari. Aku merasa malu melihat cuplikan film anak² Palestina bersorak-sorai merayakan serangan itu di jalanan Gaza.

Serangan ini membuat usaha perlawanan Palestina terhadap Israel jadi hangus, sewaktu seluruh dunia berteriak dengan satu pesan melawan terorisme – pokoknya segala macam terorisme, apapun tujuannya. Dalam beberapa minggu berikutnya, Shin Bet mulai mengambil pelajaran dari peristiwa 9/11 tersebut.

Mengapa organisasi² kemanan rahasia AS tidak mampu mencegah malapetaka tersebut? Jawabannya adalah: pertama, masing² organisasi tersebut ternyata bekerja sendiri² dan malah saling bersaing dan kurang ada kerjasama. Kedua, mereka kebanyakan bergantung pada teknologi dan jarang bekerjasama dengan para teroris. Taktik seperti ini mungkin cocok dalam Perang Dingin (melawan komunis), tapi sungguh sukar melawan orang² yang menganut ideologi fanatik dengan bantuan teknologi saja.

Di lain pihak, organisasi kemanan rahasia Israel kebayakan bergantung pada sumberdaya manusia; dan mereka punya mata² yang tak terhingga jumlahnya di mesjid², organisasi² Islam, dan berbagai badan kepemimpinan. Mereka bahkan sanggup merekrut teroris² yang terganas sekalipun. Mereka tahu bahwa mereka perlu memiliki mata dan telinga di bagian dalam, dan juga pikiran untuk mengerti motif dan emosi, yang semuanya dibutuhkan untuk menghubungkan keterangan satu dan yang lain untuk menghasilkan pemahaman yang lengkap.

Amerika tidak tahu apapun tentang ideologi dan budaya Islam. Selain itu, bagian perbatasan AS dibiarkan terbuka dan keamanan sangat lemah, sehingga AS jadi target yang jauh lebih empuk dibandingkan Israel. Meskipun perananku sebagai mata² memungkinkan Israel menangkapi ratusan teroris di jalanan, kami tetap saja tidak mampu menghentikan terorisme sepenuhnya - bahkan di negara sekecil Israel.

Image
Rehavam Ze’evi, Menteri Turisme Israel.

Sekitar sebulan kemudian, di tanggal 17 Oktober, empat orang bersenjata PFLP masuk ke Hotel Hyatt Yerusalem dan membunuh Menteri Turisme Rehavam Ze’evi. Mereka mengatakan pembunuhan ini adalah tindakan balas dendam atas pembunuhan Mustafa. Meskipun tampaknya bidang Ze’evi tidak banyak terlibat dalam politik, tapi sudah bisa ditebak bahwa dia akan jadi target penyerangan. Hal ini karena dia secara terang²an menganjurkan kebijaksanaan politik yang membuat hidup tiga juta masyarakat Palestina jadi sangat sengsara di Jalur Gaza dan tepi Barat, sehingga akhirnya mereka dengan sukarela mengungsi ke negara² Arab lainnya. Sewaktu diwawancarai oleh wartawan Associated Press, Ze’evi mengatakan bahwa sebagian rakyat Palestina bagaikan ‘kutu penghisap darah’ yang harus dibasmi seperti membasmi ‘kanker yang menyebar dalam tubuh kita.’ [8]
[8]”Berita kematian: Rehavam Zeevi,” BBC News, 17 Oktober, 2001, http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/1603857.stm (diakses tanggal 24 November, 2009).

Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan saling bunuh karena dendam terus berlangsung. Sementara itu, masih banyak mata dan gigi yang tersedia.

Aku telah bekerja keras selama beberapa tahun untuk mengumpulkan semua keterangan sebisa mungkin untuk menolong Shin Bet menghentikan pertumpahan darah. Kami terus mengamati Muhammad Jamal al-Natsheh, Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya yang dulu kuantar ke apartemen setelah mereka keluar dari penjara PA. Mereka berubah-ubah tempat tinggal, dan hanya Saleh saja yang tepat berhubungan denganku. Tapi kami tetap mengawasi keempat orang lainnya melalui keluarga mereka dan menyadap percakapan telepon mereka.

Saleh percaya padaku. Dia selalu mengatakan di mana dia tinggal dan sering mengundangku untuk bertamu. Setelah aku mengenalnya, aku sangat suka bersahabat dengannya. Dia adalah orang yang mengagumkan - ilmuwan cerdas, lulus sebagai insinyur terpandai di kelasnya, dan salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Birzeit. Baginya, aku adalah putra Hassan Yousef, dan juga teman baik dan pendengar yang setia.

Aku sering bertemu dengannya; aku mengenal istrinya yakni Majeda dan juga kelima anak²nya (dua anak laki dan tiga anak perempuan). Putra sulungnya bernama Mosab, sama seperti namaku. Majeda dan anak²nya datang ke Ramallah dari Hebron untuk menjenguk Saleh di apartemen rahasia tempatnya bersembunyi. Saat itu aku masih berusaha menyelesaikan pendidikan S1-ku. Di suatu petang, Saleh bertanya bagaimana studiku.

“Ada kesulitan dengan bahan kuliah?”

“Iya nih, Statistik Ekonomi.”

“Baiklah, besok bawa kemari bukumu dan kita akan duduk bersama dan belajar bagaikan di kelas kecil.”

Ketika aku katakan pada Loai dan Shin Bet tentang hal itu, mereka senang. Mereka berpikir kegiatan belajar bersama ini merupakan penyamaran yang baik bagiku.

Tapi sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya penyamaran, karena aku dan Saleh memang berteman baik. Dia mengajarku, dan aku berhasil mendapatkan angka ujian yang sangat baik dua minggu kemudian. Aku mengasihinya dan keluarganya. Aku pun sering bertamu dan makan di tempatnya. Kami menjadi sahabat erat. Ini tentunya hubungan yang aneh karena saat itu aku sudah tahu bahwa Saleh adalah orang yang sangat berbahaya. Tapi di lain pihak, demikian pula aku baginya.

Pada malam di tanggal 2 Maret, 2002, aku sedang duduk di rumah ketika dua orang pria datang ke rumah.

Dengan rasa curiga aku bertanya padanya, “Apakah ada yang bisa kutolong?”

“Kami mencari Syeikh Hassan Yousef. Ini hal penting.”

“Katakan padaku mengapa penting.”

Mereka menerangkan bahwa mereka adalah dua dari lima pembom bunuh diri yang baru saja tiba dari Yordania. Orang penghubung mereka baru saja ditangkap, dan mereka butuh tempat aman untuk tinggal.

“Baiklah, “kataku. “Kau datang di tempat yang tepat.”

Aku tanya apa yang mereka butuhkan.

“Kami bawa mobil penuh dengan bahan peledak dan bom, dan kami butuh tempat aman untuk parkir mobil.”

Waduh, pikirku, apa yang harus kulakukan dengan mobil penuh bahan peledak? Aku harus cepat berpikir. Aku mengambil keputusan untuk menyimpan mobil di garasi di sebelah rumah kami. Ini tentunya bukan gagasan yang baik, tapi aku harus cepat mengambil keputusan saat itu juga.

“Baiklah, ini uang bagi kalian,” kataku sambil mengosongkan dompetku. “Silakan cari tempat untuk tinggal, kembali padaku lagi malam ini, dan kita rencanakan apa yang harus kita lakukan.”

Setelah mereka pergi, aku telepon Loai, dan aku lega ketika Shin Bet datang dan membawa pergi mobil itu.

Kelima pembom bunuh diri kembali ke rumahku dalam waktu singkat. “Baiklah,” kataku pada mereka, “mulai sekarang, akulah koneksi kalian dengan Hamas. Aku akan menyediakan kalian target, lokasi, transportasi, dan segala yang kalian butuhkan. Jangan bicara pada siapapun, atau kalian bisa² terlanjur terbunuh sebelum mampu membunuh satu orang Israel saja.”

Kesempatan ini bagaikan menemukan durian runtuh, karena selama ini tiada seorang pun yang mengetahui para pembom bunuh diri sebelum mereka meledakkan bom. Sekarang tiba² saja lima calon pembom bunuh diri muncul di hadapanku dengan mobil penuh dengan bom. Tiga puluh menit kemudian aku memberitahu Shin Bet tentang lokasi mereka. Perdana Menteri Sharon memerintahkan agar mereka dibunuh.

“Wah, ya tidak bisa,” kataku pada Loai.

“Apa?!”

“Aku tahu mereka adalah teroris, dan mereka akan meledakkan diri. Tapi kelima orang ini bodoh dan tak tahu apa yang mereka lakukan. Kau tidak boleh membunuh mereka. Jika kau membunuh mereka, maka ini adalah terakhir kali aku membantumu.”

“Kau ini mengancam kami?”

“Tidak, tapi kau tahu bagaimana aku bekerja. Aku membuat satu perkecualian dengan Halawa, dan kau tentunya ingat bagaimana kesudahannya. Aku tidak mau lagi jadi bagian pembunuhan orang.”

“Apa ada pilihan lain?”

“Tangkap mereka,” kataku, meskipun aku tahu ini berbahaya sekali. Kami memang telah memiliki mobil dan bom mereka, tapi mereka masih punya sabuk penuh bom pula. Jika mereka melihat seorang prajurit berada dalam jarak 100 meter dari kamar mereka, mereka tentunya akan meledakkan sabuk bom dan membunuh semua orang di sekitarnya.

Bahkan jikalau sekalipun kami berhasil menangkap mereka semua tanpa ada korban nyawa, mereka pasti akan menyebut namaku pada interogator mereka di penjara, sehingga aku pasti ketahuan. Yang termudah tampaknya memang membiarkan saja helikopter meluncurkan roket² ke apartemen mereka, dan beres sudah.

Tapi hati nuraniku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Meskipun belum jadi Kristen, aku benar² mencoba melakukan ajaran Yesus. Allâh tidak keberatan dengan pembunuhan dan malah mewajibkannya. Tapi Yesus menarikku ke standard yang lebih tinggi. Sekarang aku tidak tega untuk membunuh, bahkan teroris sekalipun.

Di saat yang sama, aku juga telah jadi aset yang sangat berharga bagi Shin Bet. Mereka tidak senang dengan keadaan ini, tapi mereka akhirnya setuju untuk membatalkan rencana pembunuhan.

“Kita harus tahu apa yang berlangsung dalam kamar itu,” kata mereka padaku. Aku datang ke apartemen mereka dengan berdalih membawa perabot² sederhana yang mereka butuhkan. Mereka tak mengetahui bahwa kami memasang alat penyadap pada perabotan tersebut sehingga kami bisa mendengar pembicaraan mereka. Bersama-sama Shin Bet, aku mendengarkan mereka diskusi siapa yang akan mati pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Semua ingin jadi orang pertama yang mati sehingga mereka tidak usah melihat rekannya meledak. Sungguh mengerikan. Rasanya bagaikan mendengarkan sekelompok orang mati mengobrol.

Pada tanggal 16 Maret, pasukan keamanan bersiaga di sekitar apartemen itu. Apartemen para pembom itu berada di tengah² kota Ramallah, sehingga IDF tidak bisa membawa tank. Karena pasukan harus berjalan kaki, operasi penyergapan ini sangat berbahaya. Aku mengikuti semua kegiatan dari tempatku, dan Loai bicara denganku di telepon dan memberitahu apa yang sedang terjadi.

“Mereka sekarang akan tidur.”

Kami menunggu sampai terdengar suara dengkuran dari monitor. Akan bahaya sekali jika mereka terbangun. Pasukan tentara harus bisa masuk dan mencapai ranjang sebelum para pembom bisa bergerak.

Seorang prajurit memasang bom di gagang pintu, dan kami mendengarkan monitor untuk mendeteksi suara apapun yang menandakan mereka terjaga. Para prajurit sekarang memberi tanda aba² untuk siap beraksi.

Pintu diledakkan, dan pasukan khusus anti teroris menyerbu masuk ke apartemen kecil itu, menangkap semua teroris kecuali satu orang. Dia mengambil senjata dan berlari keluar jendela. Dia mati sebelum menghujam lantai.

Semua orang menarik napas lega, kecuali aku. Begitu pasukan keamanan membawa mereka ke dalam Jeep tentara, salah seorang dari mereka menyebut namaku sebagai mata² Israel.

Apa yang amat kukhawatirkan telah benar² terjadi. Aku telah ketahuan. Sekarang gimana dong?

Loai punya jalan keluar. Shin Bet mendeportasi orang tersebut kembali ke Yordania, dan mengirim teman²nya yang lain ke penjara. Jadi tatkala orang tersebut bebas kembali ke rumahnya dan senang bertemu dengan keluarganya, ketiga pembom lainnya yang dipenjara tentu mengira dialah yang mengkhianati mereka, dan bukan aku. Ini adalah solusi yang sangat cerdik.

Aku selamat sekali lagi, tapi nyaris ketahuan. Tapi sudah jelas bahwa aku kurang berhati-hati.

Image
Avi Dichter, ketua Shin Bet di tahun 2002.

Suatu hari, aku menerima pesan dari ketua Shin Bet yakni Avi Dichter, yang berterima kasih padaku atas pekerjaan yang kulakukan bagi mereka. Dia berkata bahwa dia telah memeriksa semua arsip perang Israel melawan terorisme dan menemukan nama Pangeran Hijau di setiap arsip. Meskipun membanggakan, tapi hal ini juga merupakan suatu peringatan. Aku menyadari akan hal ini, begitu juga Loai. Jika aku terus melakukan hal yang sama, aku tentunya akan mati karena ketahuan. Jejak langkahku sudah terlalu panjang. Seseorang akhirnya akan bisa mengendusnya. Entah bagaimana caranya, tapi penting untuk menghapus jejakku.

Sikap keras kepalaku untuk menolak lima pembom tersebut dibunuh juga telah mempersulit keadaanku. Meskipun semua orang yakin bahwa pembom yang dikirim balik ke Yordania berkhianat sehingga teman²nya tertangkap, mereka juga tahu bahwa Israel tak akan ragu menangkap siapapun yang membantu para pembom tersebut. Dan mereka tahu aku sudah jelas banyak membantu para pembom bunuh diri itu. Sekarang masalahnya: mengapa aku belum juga ditangkap IDF?

Seminggu setelah penangkapan para pembom bunuh diri tersebut, tim keamanan Israel menyampaikan dua gagasan yang dapat menyelamatkan diriku agar tetap tak ketahuan. Pertama, mereka bisa menangkapku dan mengembalikan aku ke penjara. Tapi aku khawatir ini bisa mengakibatkan kematian ayah, karena tidak lagi dilindungi diriku.

“Pilihan lain bagi kita adalah melakukan sebuah permainan.”

“Permainan apa?”

Loai menjelaskan bahwa kami harus menyelenggarakan penangkapan besar, yang bisa meyakinkan semua orang Palestina bahwa Israel benar² ingin menangkap atau membunuhku. Agar tampak meyakinkan, hal ini harus dilakukan secara nyata dan tidak bersandiwara. IDF (Israeli Deffence Force) harus benar² mengira bahwa mereka harus menangkapku. Ini berarti Shin Bet harus menipu IDF – sekutu mereka sendiri.

Shin Bet memberi waktu IDF hanya beberapa jam saja untuk mempersiapkan operasi besar ini. Shin Bet mengatakan pada IDF bahwa sebagai putra Hassan Yousef, aku adalah orang yang sangat berbahaya, karena aku punya hubungan erat dengan para pembom bunuh diri dan kemungkinan bersenjata bom pula. Shin Bet mengatakan mereka mendengar laporan mata² bahwa aku akan datang ke rumah ayahku pada malam itu untuk menengok ibuku. Aku hanya akan tinggal untuk waktu singkat, dan aku bersenjata M16.

Bukan main permainan tipu-tipuan ini.

IDF dibuat yakin bahwa aku adalah teroris kelas hiu yang bisa hilang lenyap dengan cepat jika mereka gagal menangkapku. Karena itu IDF berjanji akan melakukan yang terbaik agar mereka tidak gagal. Pasukan keamanan khusus datang memakai pakaian Arab, bersama para penembak jarak jauh. Mereka masuk ke kota dengan mengendarai mobil Palestina, dan berhenti dalam jarak dua menit menyetir dari rumahku, sambil menunggu aba² dari Shin Bet. Tank² berat sudah berada dalam posisi 15 menit dari perbatasan wilayah Palestina. Helikopter² dengan senjata lengkap sudah siap untuk membantu dari udara, jika saja para feda’iyin Palestina menyerang pasukan IDF di jalanan.

Di luar rumah ayahku, aku duduk di mobilku sambil menunggu panggilan telepon dari Shin Bet. Mereka memberitahu bahwa jika telepon berdering, aku hanya punya waktu 60 detik tepat untuk melarikan diri sebelum pasukan keamanan datang mengepung rumahku. Aku tidak boleh melakukan kesalahan.

Terasa tusukan rasa sesal di hatiku membayangkan betapa takutnya ibu dan adik² kecilku di tengah penyerangan tersebut. Seperti biasa, mereka harus membayar harga bagi tindakan yang dilakukan ayah dan diriku.

Aku melihat kebun bunga ibu yang indah. Dia telah mengumpulkan bunga² tersebut dari berbagai tempat, juga dari teman² dan keluarganya. Dia merawat bunga²nya bagaikan merawat anak²nya.

“Berapa banyak bunga lagi yang kita butuhkan?” kadang² aku menggodanya.

“Hanya sedikit tambahan lagi, kok,” begitu selalu jawab ibu.

Aku ingat saat dia menunjuk ke satu bunga dan berkata, “Tanaman ini lebih tua daripada dirimu. Ketika kau masih anak², kau memecahkan potnya, tapi aku menyelamatkannya dan sampai sekarang tanaman itu masih hidup.”

Apakah tanaman itu masih bisa terus hidup beberapa menit dari sekarang setelah pasukan khusus muncul dan menginjaknya?

Ponselku berdering.

Darah terasa mengalir deras dalam kepalaku. Hatiku berdebar-debar. Aku menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobil ke tengah kota menuju tempat persembunyian rahasia yang baru. Aku tidak berpura-pura lagi jadi buronan. Para pasukan tentunya lebih memilih membunuhku daripada menangkapku saat ini. Semenit setelah aku pergi, sepuluh mobil sipil dengan nomer mobil Palestina datang dan menginjak rem kuat² di depan rumah. Pasukan khusus Israel mengepung rumahku, senapan otomatis mengarah ke setiap jendela dan pintu. Halaman depan rumah² para tetangga penuh dengan anak², termasuk adik lakiku Naser. Mereka berhenti main sepakbola dan berlarian ketakutan.

Setelah pasukan berada dalam posisi siaga, lebih dari dua puluh tank menderu masuk. Sekarang seluruh masyarakat kota datang untuk menonton apa yang terjadi. Aku bisa mendengar suara mesin disel raksasa menderu hebat dari tempat persembunyianku. Ratusan militan Palestina bersenjata datang ke rumah ayah dan mengelilingi IDF. Tapi mereka tidak bisa menembak karena banyak anak kecil sedang berlarian untuk mencari perlindungan dan karena keluargaku masih berada di dalam rumah.

Ketika para feda’iyin muncul, maka helikopter juga dipanggil. Aku tiba² berpikir mungkin sebaiknya aku membiarkan saja kelima pembom bunuh diri itu dibunuh. Jika aku tidak melarang IDF meluncurkan bom pada mereka, tentunya keluarga dan para tetanggaku tidak terancam resiko besar seperti sekarang. Jika ada saudaraku yang mati tertembak karena pengepungan ini, aku tak akan bisa memaafkan diriku.

Agar yakin hasil karya kami jadi berita besar, aku memberi keterangan pada Al-Jazira bahwa akan terjadi penyerangan besar di rumah Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua mengira akhirnya Israel akan menangkap ayah, dan mereka ingin merekam peristiwa penangkapannya saat itu juga. Aku bisa membayangkan reaksi mereka tatkala melalui pengeras suara para pasukan meminta putra Syeikh yang tertua, Mosab, untuk keluar rumah dengan tangan di atas kepala. Setelah aku tiba di apartemen rahasiaku, aku menyalakan TV dan menonton drama penangkapan itu bersama dengan seluruh dunia Arab.

Pasukan mengumpulkan keluargaku keluar dari rumah dan menanyai mereka satu per satu. Ibuku berkata pada mereka bahwa aku pergi satu menit sebelum mereka tiba. Tentu saja mereka tak percaya keterangan ibuku. Mereka lebih percaya pada Shin Bet, pihak yang mengatur semua permainan ini. Ketika aku tetap juga tidak muncul untuk menyerah, maka pasukan Israel mengancam akan mulai menembak ke dalam rumahku.

Selama waktu sepuluh menit, semua orang menunggu dengan tegang. Tak lama kemudian, sebuah misil mendesis di udara dan meledakkan separuh rumahku. Para pasukan berlarian masuk ke dalam rumah. Aku tahu mereka memeriksa setiap rumah. Tapi mereka tak menemukan mayatku sama sekali.

IDF sangat malu dan marah sekali karena aku berhasil melarikan diri dari cekalan mereka. Jika mereka menangkap aku sekarang, Loai memperingatkan aku di telepon, mereka akan menembakku di tempat. Bagi kami, operasi itu sungguh sukses. Tiada seorang pun yang terluka, dan namaku seketika tercantum dalam daftar teroris yang paling dicari. Seluruh kota membicarakan tentang diriku. Dalam waktu semalam saja, aku telah menjadi teroris berbahaya.

Dalam beberapa bulan setelah itu, aku punya tiga prioritas: menghindari tentara Israel, melindungi ayahku, dan terus mengumpulkan keterangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar