Kamis, 29 April 2010

Bab 8 – Mengipas Api

1992-1994

Di tanggal 13 Desember, 1992, lima anggota al-Qassam menculik polisi perbatasan Israel bernama Nissim Toledano dekat Tel Aviv. Mereka menuntut pihak Israel untuk melepaskan Syeikh Ahmed Yassin. Israel menolak. Dua hari kemudian, mayat Toledano ditemukan, dan Israel lalu melancarkan serangan keras terhadap Hamas. Dalam waktu sekejap, lebih dari 1.600 orang Palestina ditangkap. Lalu Israel mengambil keputusan untuk diam² mendeportasi 415 pemimpin Hamas, Jihad Islam (Islamic Jihad), dan Persaudaraan Muslim. Diantara mereka adalah ayahku, yang sedang dipenjara, dan tiga pamanku.
Aku baru berusia 14 tahun saat itu, dan kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sewaktu berita mulai tersebar, kami akhirnya bisa mengumpulkan keterangan dari sana sini untuk menduga bahwa ayahku kemungkinan dimasukkan ke dalam kelompok guru, pemimpin agama, insinyur, dan pekerja sosial yang diborgol, ditutup mata, dan dimasukkan ke dalam bus. Beberapa jam setelah kabar tersebar, para pengacara dan pejuang HAM mulai mengajukan petisi protes. Bus² dihentikan saat Pengadilan Tinggi Israel bertemu pada jam 5 pagi untuk membahas tantangan² hukum yang diajukan. Selama 14 jam perdebatan, ayahku dan tawanan lain yang bakal dideportasi tetap berada dalam bus. Borgol dan penutup mata tetap dipasang. Tiada makanan. Tiada air minum. Tiada waktu jeda untuk buang air. Akhirnya, pihak pengadilan mendukung keputusan Pemerintah, dan bus² lalu menuju ke utara. Kami nantinya mengetahui bahwa bus² ini dilajukan ke daerah tak bertuan di sebelah selatan Lebanon yang ditutupi salju. Saat itu adalah pertengahan musim dingin, dan para penumpang bus diturunkan di tempat itu tanpa tersedia tempat bernaung. Baik pihak Israel maupun Lebanon tidak memperkenankan badan² kemanusiaan mengirim makanan atau obat²an. Beirut tidak mau mengirim orang² yang sakit dan terluka ke rumah sakit.

Di tanggal 18 Desember, Konsul Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 799, yang meminta orang² yang dideportasi “dikembalikan dengan segera dengan selamat.” Israel menolak. Kami selalu bisa mengunjungi ayah ketika dia dipenjara, tapi karena perbatasan Lebanon ditutup, kami tidak bisa menemuinya di pengasingan. Dua minggu kemudian, kami akhirnya melihat dia di layar TV untuk pertama kalinya sejak dia dideportasi. Rupanya, para anggota Hamas telah menjulukinya sebagai sekretaris jendral kamp itu, dan merupakan orang kedua setelah Abel Aziz al-Rantissi, ketua Hamas yang lain.

Setiap hari setelah itu, kami menonton berita sambil berharap melihat wajah ayah lagi. Kadangkala kami bisa melihat dia memakai pengeras suara tanduk kerbau untuk memberikan pidato pada orang² yang diasingkan itu. Ketika musim semi tiba, dia bisa mengirim pada kami surat dan foto² yang diambil para wartawan dan anggota organisasi kemanusiaan. Akhirnya orang² yang diasingkan bisa memiliki ponsel dan kami bicara dengan ayah selama beberapa menit setiap minggu.

Dalam usaha menggalang simpati bagi orang² yang diasingkan, pihak media mewawancarai anggota² keluarga mereka. Saudara perempuanku Tasnim membuat seluruh dunia menangis tatkala dia menjerit, “Baba! Baba!” (Ayah! Ayah!) di hadapan kamera. Entah kenapa, keluarga kami tampaknya jadi wakil tak resmi atas keluarga² lainnya. Kami diundang untuk menghadiri protes, termasuk demonstrasi di hadapan kantor Perdana Menteri Israel di Yerusalem. Ayahku berkata pada kami bahwa dia merasa sangat bangga, dan kami pun senang melihat banyak dukungan dari masyarakat dunia, bahkan orang² Israel yang menuntut perdamaian. Enam bulan kemudian, kami mendengar bahwa 101 orang yang diasingkan diperbolehkan untuk pulang. Seperti keluarga² lainnya, kami sangat berharap ayah ada diantara mereka.

Tapi ternyata dia tidak ada.
Keesokan harinya, kami menemui para pahlawan yang telah kembali dari Lebanon untuk menanyakan apakah ada kabar tentang ayah. Tapi yang hanya bisa mereka sampaikan adalah bahwa dia baik² saja dan akan segera pulang. Tiga bulan berlalu sebelum akhirnya pihak Israel bersedia mengirim semua yang tersisa pulang. Kami senang sekali mendengar hal itu.

Di hari yang telah dijanjikan, kami menunggu dengan tak sabar di penjara Ramallah di mana sisa orang² yang diasingkan akan dibebaskan. Sepuluh orang keluar. Dua puluh. Dia ternyata tidak ada diantara mereka. Orang terakhir lewat di hadapan kami, dan prajurit berkata hanya itu saja yang ada. Tiada sedikit pun tanda² kehadiran ayah dan tiada keterangan apapun tentang keberadaannya. Keluarga² lain menyambut orang yang mereka kasihi dengan penuh suka cita, sedangkan kami diam saja di tengah² malam hari tanpa mengetahui di manakah ayah berada. Kami pulang ke rumah dengan rasa kecewa, putus asa, dan khawatir. Mengapa dia tidak ada diantara mereka? Di manakah dia sekarang?

Keesokan harinya, pengacara ayah memberitahu bahwa ayah kami dan beberapa orang yang dideportasi lainnya telah kembali dipenjara. Rupanya, katanya, deportasi ini tidak menguntungkan pihak Israel. Sewaktu di pengasingan, ayah dan para pemimpin Palestina lainnya malah jadi berita internasional, mendapatkan simpati dunia karena mereka menganggap hukuman yang dijatuhkan berlebihan dan melanggar kemanusiaan. Di seluruh dunia Arab, orang² ini dipandang sebagai pahlawan, dan dengan begitu mereka jadi lebih penting dan berpengaruh.

Deportasi ini juga menimbulkan efek lain yang sangat jelek bagi Israel. Tawanan² menggunakan waktu mereka di pengasingan untuk membangun hubungan antara Hamas dan Hezbollah, organisasi Islam politik dan militer di Lebanon. Pertemuan ini menciptakan hubungan yang bersejarah. Ayah dan para pemimpin Hamas seringkali meninggalkan kamp agar tak terlihat oleh media untuk bertemu dengan para pemimpin Hezbollah dan Persaudaraan Muslim. Hal ini tidak bisa mereka lakukan di dalam daerah Palestina.

Ketika ayah dan orang² tersebut berada di Lebanon, anggota² Hamas yang paling radikal masih bebas dan mereka menjadi jauh lebih ganas daripada sebelumnya. Dan sewaktu anggota² baru radikal berkuasa untuk sementara dalam Hamas, kesenjangan antara Hamas dan PLO semakin lebar.

Image
PM Israel Yitzhak Rabin berjabat tangan dengan Yasser Arafat di hadapa Presiden AS Bill Clinton.

Di saat itu, Israel dan Yasser Arafat mengadakan negosiasi rahasia, yang menghasilkan Perjanjian Oslo (Oslo Accords) di tahun 1993. Di tanggal 9 September, Arafat menulis surat pada PM Israel Yitzhak Rabin di mana Arafat mengakui secara resmi “hak Negara Israel untuk berdiri dengan aman dan damai” dan menolak “penggunaan terorisme dan segala aksi kekerasan.”

Rabin lalu juga mengakui PLO secara resmi sebagai “perkawilan masyarakat Palestina,” dan Presiden Bill Clinton mencabut larangan pihak Amerika untuk menghubungi PLO. Di tanggal 13 September, dunia terheran-heran melihat foto Arafat dan Rabin berjabatan tangan di Gedung Putih. Pengumpulan pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat Palestina di Tepi Barat dan Baza mendukung isi Perjanjian tersebut, yang juga dikenal sebagai Deklarasi Prinsip (Declaration of Principles = DOP). Dokumen perjanjian ini kemudian menciptakan Otoritas Palestina (Palestinian Authority = PA); yang meminta tentara Israel ditarik dari Gaza dan Yerikho; mengembalikan kekuasaan pada penghuni daerah itu; dan membuka pintu bagi Arafat dan juga bagi PLO dari pengasingan di Tunisia.

Tapi ayahku menentang DPO. Dia tidak percaya akan Israel atau PLO dan karenanya tidak percaya pada proses perdamaian tersebut. Pemimpin Hamas lainnya, jelasnya, punya alasan sendiri dalam menentang DPO, termasuk menduga perjanjian damai itu sebenarnya adalah tongkat pemukul. Hidup berdampingan secara damai dengan Israel berarti berakhirnya Hamas. Dari sudut pandang mereka, organisasi Hamas tidak bisa hidup dalam lingkungan damai. Kelompok² perlawanan lain juga terus saja melakukan kekerasan. Sungguh sukar mencapai perdamaian di mana terdapat begitu banyak tujuan dan minat yang berbeda.

Karena itu, penyerangan terus dilakukan:

○ Seorang pria Israel ditusuk sampai mati pada tanggal 24 September oleh feda’iyin Hamas di sebuah perkebunan di Basra.
○ Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina dan Jihad Islam mengatakan bertanggung jawab atas kematian dua orang Israel di gurun pasir Yudea dua minggu kemudian.
○ Dua minggu setelah itu, Hamas menembak bati dua prajurit IDF di luar daerah perumahan Yahudi di Gaza.

Tapi semua pembunuhan ini tidak jadi berita utama media seperti pembantaian Hamas di hari Jum’at, 25 Februari, 1994.
Sewaktu perayaan Yahudi Purim dan bulan suci Muslim Ramadan, seorang dokter Yahudi yang lahir di Amerika bernama Baruch Goldstein masuk Mesjid Al-Haram Al-Ibrahimi di Hebron. Menurut tradisi, Adam dan Hawa, Abraham dan Sarah, Ishak dan Rebeka, dan Yakub dan Lea dikuburkan di mesjid ini. Tanpa peringatan apapun, Goldstein menembaki orang², membunuh 25 orang Palestina yang datang untuk sholat dan melukai lebih dari 100 orang lainnya sebelum dia sendiri akhirnya dipukuli sampai mati oleh massa yang mengamuk.


Mesjid Al-Haram Al-Ibrahimi di Hebron.

Image
Dr. Baruch Goldstein, pelaku pembantaian Hebron.

Kami duduk dan menonton melalui layar TV satu persatu mayat berdarah dibawa dari tempat suci itu. Aku sangat amat terkejut. Semuanya terasa bergerak secara lamban. Di satu saat jantungku berdebar dengan kemarahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, kemarahan yang mengejutkan dan lalu menenangkan diriku. Di menit kemudian, aku merasa beku karena rasa duka. Lalu aku tiba² marah lagi – dan lalu terasa beku lagi. Tapi aku tidak sendirian merasakan hal ini. Tampaknya emosi masyarakat Palestina juga bangkit dan tenggelam dalam ritme yang sureal, dan membuat kami merasa lelah.

Karena Goldstein memakai baju tentara militer Israel dan jumlah prajurit IDF di tempat itu lebih sedikit daripada biasanya, maka orang² Palestina yakin bahwa dia memang dikirim oleh Pemerintah di Yerusalem. Bagi kami, prajurit yang senang menarik pelatuk senjata atau warga sipil Yahudi sinting adalah sama saja dan tak ada bedanya. Hamas sekarang bicara dengan kemarahan meluap. Mereka ingin balas dendam atas pengkhianatan ini.

Pada tanggal 6 April, sebuah bom mobil meledakkan bus di Afula, menewaskan 8 dan melukai 44 orang. Hamas berkata ini adalah pembalasan dendam atas Hebron. Di hari yang sama, dua orang Israel ditembak mati dan empat lainnya terluka saat Hamas menyerang sebuah bus yang sedang berhenti di dekat Ashdod.

Image
Serangan bom bunuh diri pertama di Israel, 13 April, 1994.

Seminggu kemudian, sejarah baru terjadi ketika untuk pertamakalinya Israel mengalami serangan bom bunuh diri pertama yang resmi. Di hari Rabu pagi, tanggal 13 April, 1994 – hari yang sama ayah akhirnya dibebaskan dari penjara setelah dideportasi ke Lebanon – seorang pemuda Palestina usia 21 tahun bernama Amar Salah Diab Amarna masuk ke stasiun bus Hadra yang terletak diantara Haifa dan Tel Aviv di Israel Tengah. Dia membawa tas penuh metal dan lebih dari dua kilogram bahan peledak aseton peroksaid yang dirakit sendiri. Pada jam 9:30, dia naik bus ke Tel Aviv. Sepuluh menit kemudian, sewaktu bus keluar dari stasiun, dia meletakkan tas di lantai dan meledakkannya.

Pecahan bom menembus para penumpang dalam bus, membunuh 6 orang dan melukai 30 orang. Bom pipa yang kedua meledak di tempat yang sama, saat para pekerja palang merah tiba. Ini merupakan “serangan kedua dari lima serangan” sebagai balas dendam bagi Hebron, demikian diumumkan dalam sebuah pamflet Hamas.

Aku merasa bangga atas Hamas dan menganggap serangan² ini sebagai kemenangan besar atas pendudukan Israel. Di usia 15 tahun, aku melihat segalanya dalam hitam dan putih saja. Ada pihak yang baik dan pihak yang jahat. Pihak yang jahat layak menerima segala musibah yang mereka alami. Aku melihat bagaimana besar kehancuran yang disebabkan oleh bom dua kilogram penuh dengan paku² dan kelereng² metal terhadap daging manusia. Kuharap pihak Israel menangkap pesan keras kami.

Mereka ternyata memang menangkap pesan dengan jelas.

Setiap kali terjadi pemboman bunuh diri, para sukarelawan Yahudi Ortodox yang dikenal sebagai ZAKA (Disaster Victim Identification = Pengenalan Korban Musibah) datang di tempat, mengenakan rompi kuning. Tugas mereka adalah mengumpulkan darah dan sisa² tubuh manusia - termasuk korban non-Yahudi dan pembom sendiri - dan semuanya lalu dibawa ke pusat forensik di Jaffa. Para ahli patologi di sana bertugas mengumpulkan data bagian² tubuh yang tersisa untuk mengetahui jati diri korban. Seringkali hanya test DNA saja yang bisa menghubungkan sisa tubuh seseorang dengan sisa tubuhnya yang lain.

Image
Sukarelawan ZAKA mengumpulkan sisa² tubuh korban.

Anggota keluarga korban yang belum menemukan keluarga mereka diantara yang terluka di rumah sakit-rumah sakit lokal akan dianjurkan untuk memeriksa di Jaffa, di mana akhirnya kebanyakan dari mereka jadi terkejut bercampur rasa duka yang besar.

Para ahli patologi seringkali menasehati para keluarga untuk tidak melihat sisa² tubuh korban. Mereka memberitahu bahwa sebaiknya pihak keluarga mengingat keluarga yang mereka cintai sebagaimana mereka utuh sewaktu masih hidup. Tapi kebanyakan dari keluarga tetap ingin menyentuh tubuh korban keluarga mereka, bahkan jika yang tersisa hanyalah sebuah tapak kaki saja.

Karena hukum Yahudi mewajibkan seluruh tubuh mayat dikubur di hari yang sama orang itu mati, mereka pertama mengubur sisa² tubuh yang berukuran besar. Bagian² tubuh yang kecil dikuburkan kemudian, setelah identifikasi DNA dilakukan, dan ini mengorek lagi luka yang telah diderita para anggota keluarga.

Meskipun Hadera adalah pembom bunuh diri resmi yang pertama, sebenarnya usahanya adalah usaha ketiga bom bunuh diri yang dilakukan, dan ini merupakan bagian dari fase uji coba yang dilakukan ahli bom Hamas bernama Yahya Ayyash dalam menyempurnakan hasil karyanya. Ayyash adalah mahasiswa teknik di Universitas Birzeit. Dia bukanlah Muslim radikal atau pejuang nasionalis. Dia marah hanya karena dia dulu pernah meminta ijin untuk melanjutkan studinya di negara lain, dan Pemerintah Israel menolak permintaannya. Karena itu dia lalu bikin bom² dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Palestina dan menjadi orang yang paling dicari Israel.

Selain dua usaha bom bunuh diri yang gagal dan pemboman bunuh diri di tanggal 6 dan 13 April, Ayyah pada akhirnya bertanggungjawab atas kematian sedikitnya 39 orang dalam lima serangan bunuh diri berikutnya. Dia juga mengajar yang lain, seperti kawannya Hassan Salameh, untuk membuat bom.

Selama Perang Teluk, Yasser Arafat mendukung serangan Saddam Hussein ke Kuwait, dan ini membuat dia dijauhi Amerika Serikat dan negara² Arab yang mendukung tentara sekutu melawan Iraq. Karena ini pulalah maka negara² itu mengalihkan dana bantuan keuangan dari PLO ke Hamas.

Meskipun begitu, Arafat tetap terpandang karena berhasil menciptakan Perjanjian Oslo. Setahun kemudian, dia, PM Israel Yitzhak Rabin, dan Menlu Israel Shimon Peres menerima Hadiah Perdamaian Nobel.

Perjanjian Oslo mewajibkan Arafat untuk mendirikan Pemerintahan Nasional Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Maka pada tanggal 1 Juli, 1994, dia berkunjung ke perbatasan Mesir yakni Rafah, dekat Gaza, dan lalu tinggal di sana.

“Kesatuan nasional,” katanya pada kumpulan massa yang merayakan dia kembali dari pengasingan, “adalah ... perisai kita, perisai masyarakat kita. Kesatuan. Kesatuan. Kesatuan.” [3] Tapi daerah² Palestina sangatlah tidak bersatu.
[3] "Kembalinya Arafat: Kesatuan adalah Perisai Masyarakat Kita," New York Times, 2 Juli, 1994, http://www.nytimes.com/1994/07/02/world ... eople.html (diakses tanggal 23 November, 2009).

Hamas dan pendukungnya marah terhadap Arafat yang telah mengadakan pertemuan rahasia dengan Israel dan berjanji pada masyarakat Palestina bahwa mereka tidak perlu lagi berperang. Teman² kami masih berada di penjara² Israel. Kami tidak punya negara Palestina. Satu²nya otonomi yang kami miliki hanyalah kota Yerikho di Tepi Barat - kota kecil yang tak punya apapun - dan Gaza yang hanya sekedar kamp penampungan besar dan terlalu padat terletak dekat pantai.

Sekarang Arafat duduk bersama dengan orang² Israel di meja yang sama dan berjabatan tangan. “Bagaimana dengan darah orang² Palestina?” tanya kami pada satu sama lain. “Apakah dia menganggap darah itu murah sekali?”

Di lain pihak, sebagian orang Palestina beranggapan bahwa setidaknya PA menyerahkan Gaza dan Yerikho pada kami. Sedangkan apa yang dicapai Hamas selama ini bagi kami? Apakah Hamas berhasil membebaskan satu desa kecil Palestina saja?

Mungkin pemikiran mereka masuk akal. Tapi Hamas tidak percaya pada Arafat - terutama karena dia tidak keberatan akan Negara Palestina di dalam Israel dan bukannya merebut kembali seluruh daerah Palestina sebelum negara Israel berdiri.

“Kalian ingin kami berbuat apa?” tanya Arafat dan para juru bicaranya setiap kali mereka didesak. “Selama berpuluh tahun, kami memerangi Israel dan menyadari kami tidak akan bisa menang. Kami dibuang dari Yordania dan Lebanon dan terdampar di Tunisia yang jauhnya lebih dari 1.000 mil dari tempat asal. Masyarakat internasional juga menentang kami. Kami tak punya kekuatan. Uni Sovyet rubuh, dan membuat AS menjadi satu²nya negara adidaya, dan AS juga mendukung Israel. Kami diberi kesempatan untuk mendapatkan semua yang kami miliki sebelum terjadi Perang Enam Hari di 1967 dan untuk memerintah diri kami sendiri. Inilah kesempatan yang kami ambil.”

Beberapa bulan sebelum tiba di Gaza, Arafat mengunjungi Ramallah untuk pertama kalinya. Diantara lusinan para pemimpin agama, politik, dan bisnis, ayahku berdiri dalam barisan orang yang menyambut Arafat. Ketika pemimpin PLO itu tiba di hadapan Syeikh Hassan Yousef, dia mencium tangan ayahku, sebagai tanda bahwa dia mengakuinya sebagai pemimpin agama dan juga pemimpin politik.

Tahun berikutnya, ayahku dan para pemimpin Hamas sering bertemu dengan Arafat di kota Gaza dalam usaha rujuk dan menyatukan PA dan Hamas. Tapi pembicaraan gagal ketika Hamas akhirnya menolak untuk berpartisipasi dalam proses perdamaian. Perbedaan ideologi dan tujuan kami tidak dapat disatukan.

Perubahan Hamas menjadi organisasi teroris sepenuhnya telah lengkap sudah. Banyak dari anggota mereka yang telah memanjat tangga Islam dan berada di puncak tangga. Para pemimpin politik moderat seperti ayahku tidak akan memberitahu para militan bahwa yang mereka lakukan salah. Para pemimpin itu tidak bisa mengatakan begitu; atas dasar apa perbuatan militan itu dianggap salah? Para militan itu didukung sepenuhnya oleh Qur’an.

Meskipun belum pernah membunuh orang secara langsung, ayahku setuju saja dengan serangan² yang dilakukan. Pihak Israel yang tak mampu menemukan dan menangkap militan² muda yang ganas, jadi mengarah pada sasaran empuk seperti ayahku. Kupikir mungkin mereka mengira karena ayah adalah pemimpin Hamas yang memerintahkan penyerangan² tersebut, keputusan memenjarakan ayah akan bisa menghentikan serangan. Tapi pihak Israel tidak pernah benar² berusaha untuk mencari tahu siapa dan apakah Hamas sebenarnya. Baru setelah bertahun-tahun penuh derita, akhirnya mereka bisa menyadari bahwa Hamas bukanlah organisasi biasa yang bertingkat dan punya aturan seperti organisasi yang umumnya dikenal orang. Hamas itu bagaikan hantu. Hamas adalah sebuah gagasan. Kau tidak dapat menghancurkan sebuah gagasan; kau hanya bisa membangkitkannya. Hamas itu bagaikan cacing pita yang jika dipotong kepalanya, maka kepala itu akan tumbuh jadi seekor cacing yang baru.

Masalahnya adalah tujuan dan cita² organisasi Hamas hanyalah ilusi belaka. Syria, Lebanon, Iraq, Yordania, dan Mesir telah berkali-kali mencoba dan gagal untuk mendorong Israel tenggelam ke laut dan merubah tanah itu menjadi negara Palestina. Bahkan Saddam Hussein dan rudal² Scud-nya juga gagal. Agar jutaan pengungsi Palestina bisa mendapatkan kembali rumah, tanah pertanian, dan harta benda mereka yang hilang lebih dari 50 tahun yang lalu, Israel harus mau berganti tempat dengan mereka. Dan karena hal ini tidak akan pernah terjadi, maka Hamas itu bagaikan tokoh Sisyfus dalam mythologi Yunani - dia dikutuk selamanya untuk menggulirkan batu bundar besar pada bukit terjal yang menanjak, hanya untuk kemudian melihat batu itu menggelundung lagi ke bawah, dan tidak akan pernah mencapai puncak bukit.

Image
Tokoh Sisyfus dalam dongeng Yunani.

Meskipun begitu, Muslim yang menyadari bahwa missi Hamas adalah sia² belaka tetap beriman bahwa Allâh suatu hari akan menghancurkan Israel, bahkan jika dia harus melakukannya melalui muzizat.

Bagi Israel, nasionalis PLO adalah masalah politik yang butuh solusi politik. Di lain pihak, Hamas adalah masalah Palestina yang diIslamisasikan, dan membuat itu jadi masalah agama. Dengan begitu, masalah ini hanya bisa dipecahkan melalui solusi agama, dan ini juga berarti masalah itu tidak akan pernah bisa dipecahkan karena kami beriman bahwa tanah itu milik Allâh. Titik. Pembicaraan selesai. Jadi bagi Hamas, masalah utama bukanlah kebijaksanaan politik Israel, melainkan keberadaan negara Israel itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan ayahku? Apakah dia juga jadi seorang teroris? Di suatu sore, aku membaca berita utama di koran tentang bom bunuh diri (atau disebut sebagai “operasi syahid” oleh sebagian Hamas) yang membunuh banyak penduduk sipil, termasuk para wanita dan anak². Sungguh mustahil bagiku untuk menghubungkan kebaikan sifat ayahku dan kepemimpinannya dengan organisasi yang melakukan hal semacam itu. Aku menunjukkan artikel itu padanya dan bertanya pendapatnya akan perbuatan² membunuh seperti itu.

“Suatu kali,” jawabnya, “aku meninggalkan rumah dan diluar tampak sebuah serangga. Aku berpikir dua kali untuk membunuhnya atau tidak. Dan aku tak sanggup membunuhnya.” Jawaban tak langsung ini adalah caranya berkata bahwa dia secara pribadi tidak akan ikut dalam pembunuhan membabibuta seperti itu. Tapi warga sipil Israel bukanlah serangga.

Ayahku memang tidak merakit bom², mengikatkannya di tubuh pembom bunuh diri, dan menyeleksi target sasaran ledak. Bertahun-tahun kemudian aku mengenang jawaban ayahku ketika aku membaca kisah di Alkitab Perjanjian Baru tentang perajaman pemuda tak berdosa bernama Stefanus. Tertulis di situ bahwa, “Saulus berada di situ, memberi persetujuan Stefanus mati dibunuh” (Kisah Para Rasul 8:1).

Aku sangat mencintai ayahku, dan aku sangat mengagumi dirinya dan perjuangannya. Tapi bagi seorang pria yang tak tega untuk menyakiti serangga, dia tentunya menemukan cara untuk membenarkan tindakan meledakkan diri sendiri dengan tujuan membunuh orang lain menjadi serpihan daging, selama dia pribadi tidak membasahi tangannya dengan darah.

Pada saat itu, pandanganku terhadap ayah berubah menjadi lebih rumit.

Bab 9 – Persenjataan

Musim Dingin 1995 - Musim Semi 1996

Setelah Perjanjian Oslo, masyarakat internasional berharap Pemerintahan Palestina bisa mengontrol Hamas. Di hari Sabtu, 4 November, 1995, aku sedang menonton TV ketika laporan berita darurat tiba² diumumkan. Yitzhak Rabin ditembak ketika sedang kampanye perdamaian di Lapangan Raja² (Kings Square) di Tel Aviv. Tampaknya hal ini serius. Dua jam kemudian, penyiar mengatakan Yitzhak Rabin telah mati.

“Wow!” teriakku keras pada diri sendiri. “Ternyata orang Palestina mampu membunuh Perdana Menteri Israel! Ini seharusnya terjadi dari dulu.” Aku sangat senang atas kematiannya dan kerusakan yang diakibatkan pada PLO dan persetujuannya dengan Israel.

Lalu telepon berdering. Aku seketika mengenal suara orang di seberang. Orang itu adalah Yasser Arafat, dan dia ingin bicara dengan ayahku.

Aku mendengar saat ayah bicara di telepon. Dia tidak banyak bicara; sikapnya tetap ramah dan sopan, dan tampak setuju dengan apapun yang dikatakan Arafat di tempatnya.

“Aku mengerti,” kata ayah. “Selamat tinggal.”

Lalu ayah berpaling padaku. “Arafat meminta agar kita mencegah Hamas merayakan kematian sang Perdana Menteri,” katanya. “Pembunuhan ini adalah kehilangan besar bagi Arafat karena Rabin menunjukkan keberanian besar dalam melakukan perjanjian damai dengan PLO.”

Kami kemudian mengetahui bahwa Yitzhak Rabin ternyata tidak dibunuh oleh orang Palestina. Dia ditembak dari belakang oleh mahasiswa hukum Israel (Yigal Amir). Banyak anggota Hamas yang kecewa atas fakta ini. Aku sendiri heran bahwa ternyata ada fanatik Yahudi yang bertujuan sama dengan Hamas.

Image
Yigal Amir, pembunuh Yitzhak Rabin.

Pembunuhan ini membuat dunia semakin menuntut Arafat untuk mengontrol daerah Palestina. Maka dia lalu melancarkan serangan besar²an terhadap Hamas. Para polisi PA datang ke rumah kami, meminta ayah untuk mempersiapkan diri, dan membawanya untuk ditawan di tempat tinggal Arafat. Arafat selalu memperlakukannya dengan rasa hormat dan keramahan terbaik.

Meskipun begitu, untuk pertamakalinya orang² Palestina memenjarakan sesama orang Palestina. Hal ini sungguh menyedihkan, tapi setidaknya mereka memperlakukan ayahku dengan hormat. Tidak seperti tawanan yang lain, ayah diberi kamar yang nyaman, dan Arafat kadangkala mengunjunginya untuk membicarkan berbagai masalah.

Tak lama kemudian semua pemimpin utama Hamas, dan juga ribuan anggotanya dimasukkan ke dalam penjara² Palestina. Banyak dari mereka yang disiksa saat interogasi. Sebagian bahkan mati. Tapi mereka yang berhasil menghindari penangkapan menjadi pelarian, dan terus melakukan serangan terhadap Israel.

Sekarang kebencianku jadi bercabang. Aku benci Pemerintah Israel dan Yasser Arafat, aku benci Israel, dan aku benci orang² Palestina yang sekuler. Mengapa ayahku yang cinta Allâh dan masyarakatnya harus sangat menderita, sedangkan orang² tak bertuhan seperti Arafat dan PLO-nya diberi kemenangan besar oleh orang² Israel - padahal Qur’an menyebut para Yahudi ini sebagai babi dan monyet? Masyarakat internasional bertepuk tangan memuji Israel karena mengakui hak teroris Arafat dan anteknya untuk eksis.

Aku berusia 17 tahun dan hanya beberapa bulan saja sebelum lulus SMA. Setiap kali aku mengunjungi ayah di penjara atau membawa makanan dari rumah dan hal lain yang menyenangkan dirinya, dia berpesan padaku, “Satu²nya hal yang harus kau lakukan adalah lulus ujian. Fokus pada sekolahmu. Jangan khawatir akan diriku. Aku tidak mau pendidikanmu terganggu.” Tapi hidup sudah tak bermakna lagi bagiku. Aku tidak bisa berpikir apapun selain bergabung dengan sayap militer Hamas dan membalas dendam pada Israel dan Pemerintah Palestina. Aku mengenang segala sesuatu yang telah kulihat dalam hidupku. Apakah semua perjuangan dan pengorbanan akan berakhir seperti ini, dalam perjanjian damai murahan dengan Israel? Jikalau aku mati berperang, setidaknya aku akan mati syahid dan masuk surga.

Ayahku tidak pernah mengajarku untuk membenci, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghindari perasaan itu. Meskipun dia dengan penuh semangat menentang pendudukan, dan meskipun kupikir dia tidak akan ragu memerintahkan pemboman nuklir terhadap Israel jika dia memiliki bom tersebut, dia tidak pernah menjelek-jelekkan orang Yahudi, tidak seperti yang sering dilakukan para pemimpin Hamas rasis. Dia lebih tertarik pada tuhan Qur’an daripada politik. Allâh telah memberi kami tanggung jawab untuk melenyapkan bangsa Yahudi, dan ayahku tidak mempertanyakan perintah itu, meskipun dia secara pribadi tidak punya masalah dengan mereka.

“Bagaimana hubunganmu dengan Allâh?” tanya ayah setiap kali aku menemuinya. “Apakah kau sholat hari ini? Meluangkan waktu baginya?” Dia tidak pernah berkata, “Aku ingin kau menjadi mujahid (pejuang gerilya) yang baik.” Pesannya padaku sebagai anak laki sulungnya selalu saja, “Berbuatlah baik terhadap ibumu, Allâh, dan masyarkatmu.”

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu penuh belas kasih dan pemaaf, bahkan terhadap para prajurit yang berkali-kali datang untuk menangkapnya. Dia memperlakukan mereka bagaikan anak². Ketika aku membawa makanan baginya di pusat PA, dia seringkali mengajak para penjaga untuk bergabung bersama kami dan makan makanan daging dan nasi yang khusus dimasak ibu. Beberapa bulan kemudian, para penjaga PA juga mengasihi ayahku. Sungguh mudah bagiku untuk mencintai ayah, tapi dia juga adalah orang yang sungguh sukar dimengerti.

Dengan penuh kemarahan dan nafsu balas dendam, aku mulai mencari senjata². Meskipun senjata tersedia di daerah kami saat itu, harganya sangat mahal, dan aku hanyalah pelajar SMA miskin yang tak berduit.

Ibrahim Kiswani adalah teman kelas yang berasal dari desa di sebelah Yerusalem. Dia pun punya minat yang sama denganku dan dia berkata bahwa dia bisa menyediakan uang yang kami butuhkan - meskipun tidak cukup untuk beli senapan otomatis, tapi cukup untuk beli sebuah pistol. Aku bertanya pada saudara sepupuku Yousef Daud di mana aku bisa beli pistol.

Yousef dan aku tidaklah terlalu akrab, tapi aku tahu dia punya beberapa koneksi.

“Aku punya dua teman di Nablus yang mungkin bisa menolong,” katanya padaku. “Apa yang ingin kau lakukan dengan senjata itu?”

“Setiap keluarga punya senjata,” kataku berbohong. “Aku ingin melindungi keluargaku.”

Tapi ini bukan sepenuhnya bohong. Ibrahim tinggal di desa di mana setiap keluarga memang punya senjata untuk bela diri, dan dia bagaikan saudara dekat bagiku.

Selain karena ingin balas dendam, kupikir sebagai remaja tentunya menyenangkan untuk punya pistol. Aku tidak lagi tertarik dengan sekolah. Buat apa pergi ke sekolah di negara gila ini?

Akhirnya di suatu sore aku dihubungi per telepon oleh saudara sepupu Yousef.

“Oke, kita akan pergi ke Nablus. Aku tahu seseorang yang bekerja bagi pasukan keamanan PA. Kupikir dia bisa memberi kita sebuah pistol,” katanya.

Ketika kami tiba di Nablus, seseorang menemui kami di pintu rumah kecil dan membawa kami masuk. Di dalam rumah dia memperlihatkan senapan² mesin Swedia Carl Gustav M45 dan sebuah Port Said, jenis senjata serupa versi Mesir. Dia membawa kami ke tempat terpencil di pegunungan dan menunjukkan pada kami bagaimana menggunakan senjata² itu. Ketika dia bertanya apakah aku ingin mencoba, jantungku berdebar-debar. Aku tidak pernah menembak dengan sebuah senapan mesin sebelumnya, dan tiba² aku merasa takut.

“Tidak, aku percaya kamu,” kataku padanya. Aku beli dua buah senapan Gustav dan sebuah pistol dari orang itu. Aku menyembunyikan senjata² ini di pintu mobil, menaburi merica hitam di atasnya agar anjing² polisi Israel tidak berminat menciumnya di pos² penjagaan.

Sewaktu sedang menyetir mobil kembali ke Ramallah, aku menelpon Ibrahim.

“Hey, aku udah dapet barangnya, lho!”

“Benar begitu?”

“Iya, benar.”

Kami tahu sebaiknya tidak menggunakan kata² seperti pistol² atau senjata² karena kemungkinan telepon disadap Israel. Kami lalu berjanji bertemu di suatu tempat di mana Ibrahim lalu mengambil “barang²nya” dan kami lalu pisah.

Saat itu adalah musim semi 1996, dan aku baru saja berusia 18 tahun, dan sekarang bersenjata.

Di suatu malam, Ibrahim menelponku, dan aku bisa mengetahui dari suaranya bahwa dia sangat marah.

“Senapan² mesinnya tidak berfungsi!” dia berteriak ke telepon.

“Ngomong apa sih kau?” aku berkata balik, berharap tiada yang mendengar percakapan kami.

“Senapan²nya tidak bisa dipakai,” dia mengulangi lagi, “Kita ditipu!”

“Aku tidak bisa bicara sekarang,” kataku padanya.

“Baik, tapi aku ingin bertemu denganmu malam ini.”

Ketika dia tiba di rumahku, aku seketika mengecamnya.

“Kau gila ya ngomong seperti itu di telepon?” kataku.

“Aku tahu, tapi senapan² mesinnya tidak berfungsi. Pistolnya sih oke, tapi senapan²nya tidak bisa digunakan untuk menembak.”

“Baiklah, senapan² itu tak bisa dipakai. Tapi apakah kau tahu cara menggunakannya dengan benar?”

Dia meyakinkan aku bahwa dia tahu benar bagaiman menggunakan senjata² tersebut, jadi aku berkata akan mengurus masalah itu. Karena ujian akhir SMA tinggal dua minggu lagi, aku sebenarnya tidak punya waktu. Meskipun demikian aku berjanji untuk membawa senjata² kembali pada Yousef.

“Wah, payah nih,” kataku pada Yousef ketika bertemu dengannya. “Pistolnya sih berfungsi dengan baik, tapi senapan² mesinnya tidak. Telepon temanmu di Nablus agar kami setidaknya bisa mendapat kembali uang kami.” Dia berjanji untuk mencoba.

Di keesokan harinya, saudara lakiku Sohayb memberitahu kabar menegangkan.

“Pasukan keamanan Israel datang ke rumah tadi malam, mencari dirimu,” katanya dengan suara yang khawatir.

Pikiranku pertama adalah, Kami kan belum membunuh siapapun! Aku ketakutan, tapi juga merasa penting karena tampaknya aku mulai dianggap berbahaya oleh pihak Israel. Ketika aku menjenguk ayahku kemudian, dia sudah mendengar bahwa prajurit² Israel mencari diriku.

“Apakah yang terjadi?” katanya tajam. Aku memberitahu apa yang terjadi dengan jujur, dan dia jadi sangat marah. Melalui kemarahannya, aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sebenarnya kecewa dan khawatir.

“Ini sangat serius,” dia memperingatkan aku. “Mengapa kau sampai mendapatkan masalah seperti ini? Kau seharusnya mengurus ibumu, adik² laki dan perempuanmu, dan bukannya lari dari pihak Israel. Tidakkah kau mengerti bahwa mereka akan menembakmu?”

Aku pulang, dan mulai mengepak pakaian dan buku² sekolah, dan meminta pelajar² Persaudaraan Muslim untuk menyembunyikan diriku sampai aku bisa mengikuti ujian akhir dan tamat SMA.

Ibrahim ternyata tidak mengetahui keseriusan keadaan. Dia terus meneleponku, bahkan juga ke ponsel ayahku.

“Apa sih yang terjadi? Ada apa denganmu? Aku berikan semua uangku. Aku minta uang itu kembali.”

Aku beritahu dirinya bahwa pasukan keamanan telah mengunjungi rumahku, dan dia mulai berteriak-teriak dan tak berhati-hati lagi dengan kata²nya di telepon. Aku cepat² mematikan telepon sebelum dia bisa membahayakan dirinya lebih lanjut. Tapi keesokan harinya, IDF muncul di rumahnya, menggeledah, dan menemukan pistol itu. Mereka segera menangkapnya.

Aku merasa sangat putus asa. Aku percaya pada orang yang salah. Ayahku dipenjara, dan dia kecewa akan diriku. Ibuku sangat khawatir akan diriku. Aku harus menghadapi ujian akhir. Dan sekarang aku dicari-cari prajurit Israel.

Bagaimana mungkin keadaan bisa jadi lebih jelek daripada sekarang?

Bab 10 - Rumah Jagal

1996

Meskipun aku mencoba untuk berhati-hati, pasukan keamanan Israel berhasil melacakku. Mereka telah menyadap percakapan teleponku dengan Ibrahim. Sekarang beginilah nasibku, diborgol dan ditutup mata, dijejalkan ke bagian belakang Jeep, sambil berusaha menghindar sodokan popor senapan sebisa mungkin.

Akhirnya Jeep itu berhenti. Rasanya perjalanan berlangsung berjam-jam. Pengikat tangan terasa menusuk tajam ke pergelangan tanganku sewaktu prajurit menarik lenganku untuk berdiri dan mendorongku naik tangga. Aku sudah tidak merasakan apapun pada tanganku. Di sekitarku, aku mendengar suara orang² bergerak dan berteriak dalam bahasa Ibrani.

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di mana pengikat tangan dan mataku dibuka. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya lampu, aku berusaha melihat keadaan. Kecuali sebuah meja kecil di sudut, ruangan itu kosong. Aku menduga-duga apakah yang nanti dilakukan para prajurit itu padaku. Interogasi? Pemukulan lagi? Siksaan? Aku tidak perlu menduga terlalu lama. Hanya dalam beberapa menit saja, seorang prajurit muda membuka pintu. Dia mengenakan cincin pada hidungnya, dan dia bicara dengan aksen Rusia. Dia adalah prajurit yang telah memukuliku di belakang Jeep. Sambil mencekal lenganku, dia menggiringku melalui koridor yang panjang dan berliku, dan akhirnya masuk ke ruang kecil. Tampak peralatan pengukur tekanan darah, monitor, komputer, dan TV kecil di atas sebuah meja tua. Bau yang memuakkan menerjang hidungku sewaktu aku masuk ruangan, sehingga rasanya mau muntah lagi.

Seorang lelaki memakai baju dokter masuk ruangan, dan dia tampak lelah dan murung. Dia tampak heran melihat muka dan mataku yang babak belur, yang sekarang sudah membengkak dua kali dari ukuran asli. Tapiandaikata dia mengkhawatirkan keadaanku, hal itu tak tampak sama sekali. Aku telah melihat dokter binatang yang lebih berbelas kasihan pada binatang yang diperiksanya daripada dokter yang sekarang memeriksaku.

Seorang penjaga berbaju polisi masuk. Dia membalikkan tubuhku, memasang kembali pengikat tangan, dan memasang penutup seluruh kepala berwarna hijau di kepalaku. Sekarang aku tahu sumber bau busuk itu. Penutup kepala itu baunya seperti belum pernah dicuci. Aromanya berasal dari gigi yang tak pernah digosok dan bau mulut ratusan tawanan yang mengenakannya. Aku berusaha menahan napas. Tapi setiap kali aku menarik napas, aku menghisap kain busuk itu ke dalam mulutku. Aku jadi panik dan tercekik tapi aku tidak bisa bebas dari kain penutup itu.

Penjaga memeriksa diriku, mengambil semuanya, termasuk sabuk dan tali sepatu. Dia mencekal penutup kepalaku dan menyeretku melalui koridor lagi. Belok kanan. belok kiri. Kanan. Kanan lagi. Aku tidak tahu sedang berada di mana dan kemana aku dibawa.

Akhirnya kami berhenti dan kudengar dia mengeluarkan kunci. Dia membuka pintu yang terdengar berat dan tebal. “Tangga,” katanya. Dan aku menuruni beberapa anak tangga. Melalui penutup kepala aku bisa melihat sinar yang berkejap, yang biasanya kau lihat di sirine mobil polisi.

Penjaga menarik lepas penutup kepala, dan aku aku berdiri di hadapan baris gorden. Di sebelah kanan aku melihat keranjang penuh penutup kepala. Kami menunggu beberapa menit sampai akhirnya suara dari balik gorden mengijinkan kami masuk. Penjaga memasang borgol di pergelangan kakiku dan menutupi kepalaku dengan penutup kepala lain. Dia lalu menarik bagian depannya sehingga aku turut maju menembus gorden.

Udara dingin menyembur dari lubang udara, dan musik terdengar keras dari arah lain. Koridor ini tentunya sempit sekali karena tubuhku kerap membentur tembok di sebelah kanan dan kiri. Aku merasa pusing dan lelah. Akhirnya kami berhenti lagi. Penjaga itu membuka pintu dan mendorong aku masuk. Dia melepaskan penutup kepala dan pergi, sambil mengunci pintu yang berat di belakangnya.

Aku melihat sekeliling, mengamati keadaan sekitar. Sel ini berukuran 6 kaki persegi (sekitar 2 meter persegi) - cukup untuk sebuah matras kecil dan dua buah selimut. Orang yang dulu tinggal di sini telah menggulung selimut menjadi bantal. Aku duduk di atas matras; rasanya lengket dan baunya seperti penutup kepala. Aku tutup hidungku dengan lengan bajuku, tapi lengan bajuku tercemar muntahanku. Sebuah lampu redup tergantung di atap langit, tapi tak ada tombol untuk mematikan atau menyalakannya. Celah kecil di pintu adalah satu²nya jendela di ruangan itu. Udara terasa sesak, lantai basah, dan tembok ditutupi lumut. Serangga merayap di mana². Semuanya terasa busuk, kotor, dan jelek.

Aku duduk di tempat itu untuk waktu yang lama, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin buang air dan lalu berdiri menggunakan toilet karatan di sudut ruangan. Aku tekan handel untuk menyiram dan aku langsung menyesal. Kotoran bukannya masuk lubang, tapi air malahan meluap mengotori lantai, membuat matras basah.

Aku duduk di satu²nya sudut yang masih kering di ruangan itu dan mencoba berpikir. Benar² tempat yang menjijikan untuk bermalam! Mataku berdenyut-denyut dan terasa panas. Sukar bernapas di ruangan itu. Rasa panas sel sungguh tak tertahankan, dan bajuku yang penuh keringat melekat erat pada tubuhku.

Aku tidak makan dan minum sejak minum susu kambing di rumah ibu. Sekarang bau muntah susu itu melumuri semua baju dan celanaku. Terdapat sebuah pipa menjulur di dinding. Aku putar handelnya dengan harapan air akan keluar. Tapi yang keluar adalah cairan kental berwarna coklat.

Jam berapa sekarang? Apakah mereka akan meninggalkanku di sini sepanjang malam?

Kepalaku berdenyut-denyut. Aku tahu aku tidak akan bisa tidur. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa pada Allâh saja.

Lindungi aku, begitu pintaku. Selamatkan aku dan segera bawa aku kembali kepada keluargaku.

Melalui pintu baja tebal, aku bisa mendengar suara musik yang keras dari jarak jauh - lagu yang sama diulang-ulang terus-menerus. Aku mendengar lirik lagu untuk membantuku menghabiskan waktu.

‘They sentenced me to twenty years of boredom
(mereka menghukum aku 20 tahun penuh kebosanan)
For trying to change the system from within
(Karena mencoba mengubah sistem dari dalam)
I’m coming now, I’m coming to reward them
(Sekarang aku datang, aku datang untuk membalas mereka)
First we take Manhattan, then we take Berlin
(Pertama-tama kita ambil Manhattan, lalu Berlin)
[4]
[4] Leonar Cohen, "First We Take Manhattan" copyright @ 1988 Leonar Cohen, Stranger Music, Inc..

Dari jauh kudengar banyak pintu dibuka dan ditutup. Perlahan suara mendekat. Lalu seseorang membuka pintu selku, sebuah nampan biru didorong masuk, dan lalu pintu ditutup keras lagi. Aku melihat nampan yang sekarang berada di atas isi jamban yang tadi meluap. Di atas nampan itu terdapat sebutir telur rebus, sepotong roti, sesendok yougurt yang berbau masam, tiga butir zaitun, dan air dalam cangkir plastik. Ketika aku hendak meminum air itu, aku mencium baunya yang aneh. Aku minum sedikit dan lalu menggunakan air untuk mencuci tanganku. Aku makan semua yang ada di nampan, tapi aku masih lapar. Apakah ini sarapan pagi? Jam berapakah sekarang? Mungkin sore hari.

Ketika aku sedang berbaring memikirkan berapa lama aku berada di situ, pintu sellku dibuka. Seseorang - atau sesosok makhluk - berdiri di situ. Apakah dia itu manusia? Tubuhnya pendek, tampak setua 75 tahun, dan kelihatan seperti keras besar yang bungkuk. Dia berteriak padaku dengan aksen Rusia, mengutuk aku, mengutuk Tuhan, dan meludahi wajahku. Aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih jelek lagi.

Rupanya makhluk ini adalah penjaga penjara karena dia lalu menyodorkan penutup kepala lagi dan memerintahkan aku untuk mengenakannya. Lalu dia menarik bagian muka penutup kepala dan menyeretku dengan kasar di sepanjang koridor. Dia membuka pintu sebuah kantor, mendorong aku masuk, dan memaksa aku duduk di sebuah kursi kecil yang rendah; kursi ini seperti kursi anak² di kelas SD. Kursi itu disekrup di lantai.

Dia memborgol tanganku, satu lengan diantara kaki² kursi dan lengan satunya lagi di bagian luar kursi. Lalu dia memborgol kakiku juga. Kursi kecil itu miring sehingga memaksaku membungkuk ke muka. Tidak seperti sellku, ruangan ini sangat dingin. Aku kira AC-nya dipasang di suhu beku.

Aku duduk di sana berjam-jam, gemeteran karena dingin yang menusuk, duduk miring menyakitkan, dan tak mampu bergerak ke posisi yang lebih nyaman. Aku mencoba bernapas sedikit melalui penutup kepala berbau busuk ini. Aku merasa lapar, lelah, dan mataku basih bengkak dengan darah.

Pintu dibuka dan seseorang menarik lepas penutup kepalaku. Aku heran melihat orang itu ternyata orang sipil dan bukan prajurit atau penjaga. Dia duduk di sisi meja. Kepalaku terletak sama tinggi dengan dengkulnya.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Aku Mosab Hassan Yousef.”

“Apakah kau tahu sedang berada di mana?”

“Tidak.”

Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Sebagian orang menyebut tempat ini sebagai Malam Kelam. Yang lain menyebutnya sebagai Rumah Jagal. Kau dalam masalah besar, Mosab.”

Aku mencoba untuk tidak menunjukkan emosi apapun, mataku fokus memandang noda di dinding yang terletak di belakang kepala orang itu.

“Bagaimana keadaan ayahmu di penjara PA?” dia bertanya. “Apakah dia lebih senang berada di sana daripada di penjara Israel?”

Aku mengubah posisi dudukku sedikit, sambil tetap membisu.

“Apakah kau tahu bahwa inilah tempat yang sama ketika ayahmu pertama kali ditangkap?”

Jadi ternyata aku berada di: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Ayahku telah memberitahu aku tentang tempat ini. Dulu, tempat ini digunakan sebagai gereja Rusia Ortodox, dan sudah berdiri selama 6000 tahun. Pemerintah Israel merubahnya menjadi fasilitas keamanan ketat yang mencakup pusat² Kepolisian, kantor², dan pusat interogasi Shin Bet.

Image
Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Gedung ini adalah bekas gereja Rusia Orthodox yang diubah Pemerintah Israel jadi Pusat Keamanan dan Penjara.

Image
Letak Maskobiyeh (Mosqobiyeh) di Yerusalem. Daerah ini merupakan salah satu daerah tertua di Yerusalem.

Di ruang bawah tanah yang dalam adalah penjara yang gelap, kotor, hitam, mirip dengan ruang tahanan di jaman abad pertengahan yang sering kau lihat di film. Moskabiyeh memiliki reputasi yang sangat jelek.

Sekarang aku harus mengalami hukuman yang sama yang dialami ayahku. Ini adalah orang² yang sama yang telah memukuli danmenyiksa dia bertahun-tahun yang lalu. Mereka menghabiskan banyak waktu berurusan dengannya, dan mereka sangat kenal ayahkku. Mereka juga gagal mendapatkan keterangan apapun dari ayah. Dia tetap tegar dan bahkan menjadi lebih tegar lagi.

“Katakan padaku mengapa kau berada di sini.”

“Aku tak tahu.” Perkiraanku, tentu saja ini karena aku membeli senjata² rusak yang tidak bisa dipakai. Punggungku terasa membara. Interogator mengangkat daguku.

“Kau mau jadi setegar ayahmu? Kau sungguh tak tahu apa yang menunggumu di luar ruangan ini. Katakan padaku tentang Hamas! Rahasia apa yang kau ketahui? Katakan padaku tentang gerakan pelajar Islam! Aku ingin tahu segalanya!”

Apakah dia benar² mengira aku ini begitu berbahaya? Aku sungguh tak percaya. Tapi, semakin lama kupikir, aku lalu menyadari bahwa memang begitulah yang dirasakannya. Dari sudut pandangnya, fakta bahwa aku ini adalah putra Syeikh Hassan Yousef yang membeli senapan² otomatis tentunya sudah cukup untuk merasa curiga padaku.

Orang² memenjarakan dan menyiksa ayahku dan sekarang akan menyiksaku. Apakah mereka benar² percaya bahwa semua ini akan membuatku menyerah? Sudut pandangku sangatlah berbeda. Masyarakat kami sedang berjuang bagi kemerdekaan, bagi tanah kami.

Ketika aku tak menjawab pertanyaannya, orang itu menghantam meja dengan kepalan tangannya. Lagi, dia mengangkat daguku.

“Aku akan pulang istirahat bersama keluargaku. Silakan bersenang-senang di sini.”

Aku duduk di kursi itu selama berjam-jam, masih membungkuk ke depan dengan posisi tak nyaman. Akhirnya seorang penjaga masuk, membuka borgol tangan dan kaki, memasang kembali penutup kepala, dan menyeretku berjalan melewati koridor lagi. Suara Leonard Cohen terdengar semakin keras.

Kami berhenti, dan penjaga membentakku untuk duduk. Sekarang suara musik sungguh memekakkan telinga. Sekali lagi, tangan dan kakiku diborgol di kursi pendek yang bergetar akibat hentakan musik “First we take Manhattan, then we take Berlin!

Otot²ku terasa kejang karena udara dingin dan posisi duduk yang tak nyaman. Juga sukar bernapas dalam penutup kepala. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa aku tidaklah sendirian. Meskipun suara Leonar Cohen sangat keras, aku bisa mendengar rintihan orang² yang menderita kesakitan.

“Ada orang di sini?” aku berteriak melalui kerudung kepalaku yang berminyak.

“Siapa kau?” terdengar balasan teriakan suara berjarak dekat.

“Aku Mosab.”

“Berapa lama kau berada di sini?”

“Dua hari.”

Dia tak berkata apapun selama dua menit.

“Aku telah duduk di kursi ini selama tiga minggu,” akhirnya dia berkata.

“Mereka membiarkan aku tidur selama empat jam setiap minggu.”

Aku terkejut. Ini tentunya bukan kabar yang ingin kudengar. Orang lain mengatakan dia ditangkap di saat yang sama dengan penangkapanku. Kuperkirakan ada dua puluh orang di ruangan itu.

Percakapan kami terhenti tiba² tatkala seseorang memukul bagian belakan kepalaku keras². Rasa sakit menyengat seluruh kepalaku, memaksaku mataku bekerjap air mata kesakitan di balik kerudung kepala.

“Jangan bicara!” bentak penjaga.

Setiap menit terasa bagaikan sejam, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya sejam itu. Duniaku terasa berhenti. Di luar, aku tahu orang² bangun dan pergi bekerja, dan kembali ke rumah bertemu keluarga mereka. Teman² kelasku sedang belajar untuk menghadapi ujian akhir. Ibuku sedang masak, mencuci, memeluk, dan menciumi adik² laki dan perempuanku.

Tapi di ruangan ini, semuanya duduk. Tiada seorang pun yang bergerak.

First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin.

Beberapa orang di sekitarku melolong menangis, tapi aku bertekad untuk tidak menangis. Aku yakin ayahku tidak pernah menangis. Dia kuat. Dia tidak menyerah.

Shoter! Shoter!” (Penjaga! Penjaga!), salah seorang dari kami berteriak. Tiada yang menjawabnya karena musik begitu keras. Akhirnya, sang penjaga datang.

“Mau apa kamu?”

“Aku ingin buang air. Aku harus buang air!”

“Tidak boleh. Sekarang bukan waktu buang air.” Dan dia lalu pergi.

Shoter! Shoter!” orang ini menjerit.

Setengah jam kemudian, penjaga kembali. Orang yang berteriak berlaku liar. Sambil memaki orang itu, sang penjaga melepaskan borgol dan menyeretnya keluar. Beberapa menit kemudian, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan lalu pergi.

Shoter! Shoter!” teriak yang lainnya.

Aku lelah dan merasa mual. Leherku sangat pegal. Aku tidak pernah menyadari sebelumnya betapa berat kepalaku. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke tembok di sebelahku. Tapi begitu aku hampir tertidur, penjaga datang dan memukul kepalaku untuk membangunkanku. Tampaknya satu²nya pekerjaannya adalah membuat kami tetap bangun dan diam. Aku merasa bagaikan dikubur hidup² dan sedang disiksa oleh malaikat maut Munkar dan Nakir setelah memberi jawaban pertanyaan yang salah.

Tentunya sudah pagi hari ketika aku mendengar penjaga berjalan bolak-balik. Dia melepaskan borgol kaki dan tangan tahanan dan menggiring orang itu keluar. Setelah beberapa menit, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan pergi ke orang berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, dia tiba di giliranku.

Setelah membuka borgolku, dia menarik penutup kepalaku dan membawaku melalui koridor. Dia membuka pintu sel dan menyuruhku masuk. Ketika dia membuka kerudung kepala, aku bisa melihat bahwa dia ternyata orang tua bungkuk yang mirip kera besar yang dulu memberiku makan pagi. Dia mendorong nampan biru bersisi telor rebus, roti, yogurt, dan buah zaitun padaku dengan kakinya. Air comberan setinggi setengah inci menutupi lantai dan tersiram memenuhi nampan. Aku lebih baik mati kelaparan daripada makan makanan itu.

“Kau punya waktu dua menit untuk makan dan menggunakan jamban,” katanya padaku.

Yang kuinginkan hanyalah merenggangkan tubuh, berbaring, dan tidur, barang dua menit saja. Tapi aku hanya berdiri saja, dan waktu berlalu dengan cepatnya.

“Keluar! Keluar!”

Sebelum aku sempat berbuat apapun, penjaga telah menarik penutup kepalaku lagi, menggiring aku kembali ke ruangan di mana aku diborgol di kursi kecil lagi.

First we take Manhattan, then we take Berlin!

Bab 11 - Tawaran

1996

Sepanjang hari, pintu terbuka dan tertutup, sewaktu para tahanan ditarik penutup kepalanya untuk menghadapi pemeriksa yang satu ke pemeriksa yang lain. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai, dipukuli. Kadangkala pemeriksa mengguncang keras tahanan. Biasanya hanya dibutuhkan sepuluh kali guncangan sebelum akhirnya tahanan pingsan. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai. Pintu² dibuka dan pintu² ditutup.

Setiap pagi kami dibawa keluar untuk makan makanan di atas nampan biru, dan beberapa jam kemudian, kami diberi makan malam di atas nampan oranye. Jam demi jam. Hari demi hari. Makan pagi di atas nampan biru. Makan malam di atas nampan oranye. Aku dengan cepat belajar untuk menunggu waktu makan. Ini bukannya karena aku ingin makan, tapi karena aku ingin mendapat kesempatan untuk berdiri tegak.

Di malam hari setelah kami semua diberi makan, pintu² berhenti dibuka dan ditutup. Para pemeriksa pulang. Kegiatan hari itu berakhir sudah. Dan mulailah malam panjang tak berkesudahan. Orang² menangis, melolong, dan berteriak-teriak. Mereka tidak lagi terdengar sebagai manusia normal. Sebagian malah tidak jelas lagi apa yang mereka ucapkan. Para Muslim mulai melafalkan ayat² Qur’an, memohon kekuatan pada Allâh. Aku berdoa pula, tapi aku tidak mendapat tambahan kekuatan. Aku berpikir tentang Ibrahim yang edit moderator*) dan senjata² sial dan tingkahnya yang ceroboh karena menelpon ponsel ayahku.

Aku berpikir tentang ayahku. Hatiku sakit ketika menyadari semua hal yang harus ditanggungnya saat dipenjara. Tapi aku tahu sifat ayahku dengan baik. Bahkan ketika disiksa dan dihina sekalipun, dia tetap menerima nasibnya dengan tabah dan pasrah. Dia bahkan mungkin berteman dengan penjaga² yang diperintahkan untuk memukulinya. Dia juga mungkin bertanya secara tulus pada mereka tentang keadaan keluarganya, latar belakangnya, dan kesukaan mereka.

Ayahku adalah contoh jelas kesederhanaan, kasih, dan pengabdian; meskipun tingginya hanya 170 cm., dia berdiri sama tinggi dengan siapapun yang pernah kukenal. Aku sangat ingin menjadi seperti ayahku, tapi aku tahu perjalananku masih sangat panjang.

Di suatu sore, kegiatan rutinku tiba² terhenti. Seorang penjaga datang dan melepaskan diriku dari kursi kecilku. Aku tahu saat itu belum waktu makan malam, tapi aku tak bertanya apapun. Aku merasa senang bisa pergi ke mana pun, bahkan ke neraka sekalipun, jika ini berarti aku bisa bangkit berdiri dari kursi itu. Aku dibawa ke sebuah kantor kecil di mana aku diborgol lagi, tapi kali ini pada kursi biasa. Seorang petugas Shin Bet masuk ruangan dan memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Meskipun rasa sakit tidak separah sebelumnya, tapi aku tahu mukaku penuh bekas luka dari pukulan popor prajurit.

“Bagaimana keadaanmu?” katanya. “Apa yang terjadi pada matamu?”

“Mereka memukulku.”

“Siapa?”

“Prajurit² yang membawaku ke sini.”

“Itu perbuatan yang dilarang. Itu melanggar hukum. Aku akan periksa untuk mengetahui mengapa ini terjadi.”

Dia tampak yakin pada diri sendiri dan bicara dengan lembut dan penuh hormat padaku. Aku berpikir apakah dia sedang melakukan siasat agar aku bicara padanya.

“Kau akan menghadapi ujian tak lama lagi. Mengapa kau berada di sini?”

“Aku tak tahu.”

“Tentu saja kau tahu. Kau tidak bodoh, dan kami juga tidak bodoh. Namaku adalah Loai, kapten Shin Bet di daerahmu. Aku tahu tentang semua keluargamu dan lingkungan tetanggamu. Dan aku tahu segalanya akan dirimu.”

Dan dia rupanya benar. Ternyata dia bertanggung jawab atas setiap orang di lingkungan perumahan kami. Dia tahu siapa bekerja di mana, siapa yang masih bersekolah, apa yang mereka pelajari, istri mana yang baru saja punya anak, dan tentunya juga tahu berapa berat bayi yang baru lahir. Pokoknya semuanya.

“Kau punya pilihan. Aku datang jauh² hari ini untuk duduk dan bicara denganmu. Aku tahu penyidik yang lain tidak ramah padamu.”

Aku melihat wajahnya dengan seksama, mencoba mengetahui apa maksudnya. Orang ini berkulit terang, berambut pirang, dan dia bicara dengan ketenangan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Expresi wajahnya ramah, bahkan tampak peduli akan diriku. Aku berpikir apakah ini bagian dari siasat Israel: semenit sebelumnya memukuli tahanan, dan lalu di menit berikutnya mencoba berbaik hati padanya.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyaku.

“Dengar, kau tahu mengapa kami membawa kamu kemari. Kau harus menjelaskan segalanya, apapun yang kau ketahui.”

“Aku tidak tahu kamu ini ngomong apa.”

“Baiklah, aku akan mempermudah penjelasan bagimu.”

Di sebuah papan tulis putih di belakang meja dia menulis tiga huruf: Hamas, senjata², dan organisasi.

“Silakan jelaskan padaku tentang Hamas. Apa yang kau ketahui tentang Hamas? Bagaimana posisimu dalam Hamas?”

“Aku tak tahu.”

“Apakah kau tahu tentang senjata² yang mereka miliki, datang dari mana, bagaimana mereka mendapatkannya?”

“Tidak tuh.”

“Apakah kau tahu tentang gerakan pemuda Islam?”

“Tidak.”

“Baiklah. Terserah padamu. Aku tak tahu harus bilang apa padamu, tapi kau jelas memilih jalan yang salah… Dapatkah aku membawa makanan bagimu?”

“Tidak. Aku tidak ingin apapun.”

Loai meninggalkan ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa sepiring nasi ayam dan semangkuk sup. Baunya enak sekali, membuat perutku berbunyi nyaring. Sudah jelas itu adalah makanan yang disediakan bagi para pemeriksa.

“Silakan, Mosab, makanlah. Tak perlu jadi bersikap tegar. Makanlah dan rilekslah sedikit. Kau tahu bahwa aku mengenal ayahmu dalam waktu yang lama. Ayahmu adalah orang yang baik. Dia bukanlah orang yang fanatik. Kami tak tak mengapa kamu jadi bermasalah seperti ini. Kami tidak bisa mengijinkan siapapun menyakiti warga Israel. Kami telah cukup menderita sepanjang hidup kami, dan kami tidak akan bersikap lunak terhadap orang yang mencoba menyakiti warga kami.”

“Aku tidak pernah menyakiti orang Israel manapun. Malah kamu yang menyakiti kami. Kamu menangkap ayahku.”

“Ya. Dia adalah orang yang baik, tapi dia pun menentang Israel. Dia membujuk orang² untuk berperang melawan Israel. Itulah sebabnya kami memenjarakan dia.”

Aku dapat melihat bahwa Loai benar² yakin bahwa aku ini berbahaya. Aku tahu dari pembicaraan dengan orang lain yang telah ditawan di penjara² Israel bahwa biasanya orang² Palestina tidak selalu diperlakukan sekeras perlakuan mereka terhadapku. Mereka pun tidak diinterogasi selama yang dialami diriku.

Yang aku tak tahu adalah bahwa saat itu Hassan Salameh ditangkap di saat yang bersamaan dengan penangkapanku.

Salameh melakukan berbagai serangan sebagai balas dendam atas pembunuhan terhadap gurunya, si pembuat bom Yahya Ayyash. Ketika Shin Bet mendengar aku bicara dengan Ibrahim melalui ponsel ayahku tentang usaha mencari senjata, mereka mengira aku tidak bekerja seorang diri. Malah mereka lalu yakin aku direkrut Al-Qassam.

Akhirnya Loai berkata, “Inilah saat terakhir aku mengajukan tawaran bagimu, setelah itu aku akan pergi. Aku masih banyak kerjaan. Kau dan aku bisa memecahkan masalah saat ini juga. Kita bisa membuat persetujuan. Kau tidak perlu lagi mengalami interogasi lebih lanjut. Kau ini hanya anak muda, dan kau butuh pertolongan.”

Ya, aku memang ingin jadi orang yang berbahaya, dan aku punya akal yang berbahaya. Tapi sudah jelas bahwa aku tidak bisa menjadi radikal. Aku merasa lelah duduk di kursi kecil dan ditutup dengan kerudung yang bau. Agen rahasia Israel ini menganggap aku lebih penting daripada keadaanku yang sebenarnya. Maka aku pun menceritakan semua kejadian mencari senjata, tanpa menyampaikan niatku sebenarnya adalah membunuh orang² Israel. Aku berkata padanya bahwa aku membeli senjata² untuk menolong temanku Ibrahim melindungi keluarganya.

“Sekarang kalian memiliki senjata²?”

“Ya.”

“Di mana senjata² itu sekarang?”

Aku berharap senjata² itu ada di rumahku karena aku akan menyerahkannya dengan segala senang hati pada pihak Israel. Tapi sekarang aku harus melibatkan saudara sepupuku.

“Baiklah. Begini masalahnya. Seseorang yang tak ada hubungannya dengan hal ini menyimpan senjata² itu.”

“Siapa dia?”

“Sepupuku Yousef menyimpan senjata² itu. Dia menikah dengan wanita Amerika, dan sekarang baru punya seorang bayi.” Aku berharap mereka akan membiarkan keluarga itu, dan hanya mengambil senjata² saja, tapi kenyataan lebih rumit daripada harapanku.

Dua hari kemudian, aku mendengar suara² di sebelah dinding selku. Aku merunduk mendekati pipa berkarat yang menghubungkan selku dengan sel sebelah.

“Halo,” panggilku. “Adakah orang di situ?”

Diam saja.

Dan lalu …

“Mosab?”

Apa?!! Aku tidak percaya pada kupingku sendiri. Ternyata itu adalah sepupuku!

“Yousef? Apakah itu kamu?”

Aku sangat senang mendengar suaranya. Hatiku berdebar-debar. Orang itu ternyata Yousef! Tapi dia lalu mulai mencaci-maki diriku.

“Mengapa kau melakukan hal itu? Aku kan baru punya bayi…”

Aku lalu mulai menangis. Aku begitu merindukan untuk bicara dengan manusia lain sewaktu dipenjara. Sekarang saudaraku sendiri duduk di balik tembok, dan dia memaki-maki diriku. Dan tiba² aku sadar: orang² Israel sedang mendengarkan kami; mereka sengaja menempatkan Yousef di sebelah selku agar mereka bisa mendengarkan percakapan kami dan mengetahui apakah aku mengatakan keterangan yang sebenarnya. Tak jadi masalah bagiku. Aku juga telah mengatakan pada Yousef dulu bahwa aku ingin punya senjata untuk melindungi keluargaku, karena itu aku tak khawatir.

Begitu Shin Bet mengetahui bahwa kisahku benar, mereka memindahkanku ke sel yang lain. Lagi² aku sendirian saja dalam selku. Saat itu aku merenungkan bagaimana aku telah membuat kacau kehidupan saudara sepupuku, bagaimana aku telah menyakiti keluargaku, dan bahwa aku telah menyia-nyiakan duabelas tahun bersekolah – dan semua ini gara² aku percaya dengan Ibrahim sialan itu!

Aku tinggal dalam sel itu selama beberapa minggu tanpa kontak dengan manusia lain. Penjaga memasukkan makanan dari lubang di bawah pintu tanpa pernah mengatakan apapun padaku. Aku bahkan mulai rindu akan Leonard Cohen. Aku tak punya bahan bacaan, dan satu²nya cara menghabiskan waktu adalah menunggu makanan yang disajikan di atas nampan berwarna. Tiada kegiatan apapun selalin berpikir dan berdoa.

Akhirnya suatu hari aku dibawa lagi ke sebuah kantor. Di situ Loai telah menunggu untuk berbicara denganku.

“Jika kau bersedia bekerja sama dengan kami, Mosab, maka aku akan melakukan segala yang bisa kulakukan agar kau tidak usah lagi dipenjara.”

Sesaat muncul harapan. Mungkin aku bisa mengakalinya agar dia mengira aku bersedia bekerja sama dengannya dan setelah itu dia akan mengeluarkan aku dari penjara.

Kami berbicara sedikit mengenai berbagai hal yang umum. Lalu dia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku menawarkanmu untuk bekerja bagi kami? Para pemimpin Israel juga duduk bersama dengan para pemimpin Palestina. Mereka telah berkelahi dalam kurun waktu yang lama, dan di akhir hari mereka berjabatan tangan dan makan malam bersama.”

“Islam melarangku untuk bekerja bagimu.”

“Di satu saat, Mosab, bahkan ayahmu sendiri juga akan datang, dan duduk dan berbicara dengan kami dan kami akan berbicara dengannya. Marilah bekerja sama dan membawa perdamaian bagi masyarakat.”

“Apakah begini caramu membawa perdamaian? Kami membawa perdamaian dengan menghentikan pendudukan.”

“Tidak, kami membawa perdamaian melalui orang² yang berani melakukan perubahan.”

“Aku tidak setuju. Hal itu tidak ada gunanya.”

“Apakah kau takut dibunuh sebagai orang yang bekerja sama bagi Israel?”

“Bukan begitu. Setelah semua penderitaan yang kami alami, aku tidak akan pernah bisa duduk dan bicara denganmu sebagai seorang teman, apalagi bekerja bagimu. Aku tidak bisa melakukan itu. Hal itu bertentangan dengan segala yang kupercaya.”

Aku masih benci segalanya di sekitarku. Pendudukan. PA. Aku telah jadi radikal karena aku ingin menghancurkan sesuatu. Tapi dorongan melakukan itulah yang membuatku mengalami segala macam masalah. Saat ini aku berada di penjara Israel, dan sekarang pria ini memintaku untuk bekerja baginya. Jika aku berkata ya, aku tahu resiko bahaya yang akan kutanggung – dalam kehidupan saat ini dan di akherat.

“Oke. Aku perlu berpikir sejenak tentang tawaranmu,” kudengar diriku berkata.

Aku kembali ke sel penjaraku dan berpikir tentang tawaran Loai. Aku telah mendengar kisah² tentang orang² yang berpura-pura setuju untuk bekerja bagi Israel tapi sebenarnya mereka adalah agen dobel (bekerja bagi Palestina dan juga bagi Israel). Mereka membunuh perekrut Israelnya, mencuri senjatanya, dan menggunakan segala kesempatan untuk menyakiti orang² Israel terlebih hebat lagi. Jika aku berkata ya pada Loai, kupikir Loai tentunya akan membebaskanku. Dia bahkan mungkin memberiku kesempatan untuk punya senjata api yang berfungsi baik kali ini, dan dengan senjata ini aku akan membunuhnya.

Api kebencian berkobar-kobar dalam tubuhku. Aku ingin balas dendam pada prajurit yang memukuliku habis²an. Aku ingin balas dendam pada Israel. Aku tidak peduli berapa harganya, bahkan jikalau pun nyawaku melayang.

Tapi bekerja bagi Shin Bet mengandung lebih banyak resiko daripada sekedar membeli persenjataan. Mungkin lebih baik aku segera melupakannya, menyelesaikan waktu hukuman di penjara, pulang dan belajar, dekat dengan ibu, dan mengurus adik²ku.

Keesokan harinya, penjaga membawaku kembali ke kantor itu. Beberapa menit kemudian Loai masuk.

“Bagaimana keadaanmu hari ini? Tampaknya kau kelihatan lebih segar. Apakah kau mau minum sesuatu?”

Kami duduk dan minum kopi bersama seperti dua kawan lama.

“Bagaimana jika aku terbunuh?” tanya, meskipun sebenarnya dalam hati aku tak peduli begitu peduli jika terbunuh. Aku hanya ingin dia mengira aku berpikir begitu sehingga dia mengira aku jujur.

“Kuberitahu ya, Mosab,” kata Loai. “Aku telah bekerja bagi Shin Bet selama 18 tahun, dan selama itu, hanya satu orang saja yang ketahuan. Semua orang² lain yang terbunuh tak ada hubungannya dengan kami. Masyaratkat jadi curiga pada orang² itu karena mereka tak punya keluarga dan melakukan hal² yang mencurigakan, maka masyarakat lalu membunuh mereka. Tiada seorang pun yang akan tahu tentang dirimu. Kami akan merahasiakanmu sehingga kau tidak akan terungkap. Kami akan melindungimu dan mengurusmu.”

Aku mengamatinya untuk waktu yang lama.

“Baiklah,” aku berkata. “Aku bersedia melakukannya. Sekarang apakah kau bisa membebaskanku?”

“Wah, bagus,” kata Loai dengan senyum lebar. “Sayangny, kami tidak bisa membebaskanmu sekarang. Karena kau dan saudara sepupumu ditangkap setelah Salameh ditangkap, kisahnya tercantum di halaman depan Al-Quds (koran utama Palestina). Setiap orang mengira kau ditangkap karena terlibat dengan pembuat bom itu. Jika kami melepaskanmu terlalu cepat, orang² akan curiga, dan kau bisa ketahuan sebagai orang yang bekerja sama dengan kami. Cara terbaik melindungimu adalah mengirimmu ke penjara – tidak untuk waktu yang lama, jangan khawatir. Kami akan memeriksa apakah ada pertukaran tahanan atau perjanjian pembebasan yang bisa kami gunakan untuk mengeluarkanmu dari sini. Begitu kau sudah pindah penjara, aku yakin Hamas akan menanganimu, terutama karena kau adalah putra Hassan Yousef. Kita akan bertemu lagi setelah kau bebas.”

Mereka membawaku kembali ke dalam sel, di mana aku harus tinggal di sana selama dua minggu lagi. Aku tidak sabar untuk meninggalkan Maskobiyeh. Akhirnya di suatu pagi, penjaga mengatakan padaku sudah saatnya pergi. Dia memborgolku, tapi kali ini tanganku terletak di depanku. Tidak usah lagi pakai penutup kepala bau. Dan untuk pertamakalinya selama 45 hari, aku melihat matahari dan menghirup udara segar. Aku menarik nafas dalam², mengisi paru²ku dengan udara segar dan menikmati hembusan angin di wajahku. Aku duduk di kursi belakang sebuah mobil van Ford. Saat itu adalah musim panas dan aku diborgol pada bangku metal yang jadi panas pula, tapi aku tak peduli. Aku merasa bebas!

Dua jam kemudian, kami tiba di penjara Megiddo, tapi aku lalu harus tetap duduk dalam van selama satu jam lagi, menunggu ijin untuk masuk. Saat akhirnya kami masuk, dokter penjara memeriksaku dan mengumumkan bahwa aku sehat. Aku lalu mandi dengan sabun dan diberi baju bersih dan peralatan mandi lainnya. Di waktu makan siang, aku makan makanan panas untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.

Aku ditanyai dengan organisasi apa aku terlibat.

“Hamas,” jawabku.

Di penjara² Israel, setiap organisasi diperbolehkan mengawasi anggota² mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk menghentikan masalah sosial atau malah menciptakan konflik lebih besar dalam organisasi tersebut. Jika para tawanan menggunakan kekuatan mereka untuk berkelahi satu sama lain, maka mereka terlalu lemah untuk melawan Israel.

Sewaktu masuk ke penjara baru, semua tawanan wajib mengumumkan asal organisasi. Kami harus memilih berasal dari organisasi Hamas, Fatah, Jihad Islam, Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), atau organisasi lain. Kita tidak bisa tidak berhubungan dengan apapun. Tawanan yang tidak berhubungan dengan apapun harus memilih untuk bergabung dengan organisasi apa. Di Megiddo, Hamas berkuasa total dalam penjara. Hamas adalah organisasi terkuat dan terbesar di sana. Hamas menetapkan aturan, dan semua tunduk padanya.

Ketika aku masuk, tawanan² yang lain menyambutku dengan hangat, menepuk pundakku dan menyelamati diriku karena bergabung bersama mereka. Di petang hari, kami duduk bersama dan membagi kisah kami. Setelah beberapa saat, aku mulai merasa tidak nyaman. Salah satu dari orang² ini tampaknya adalah pemimpin dari para tawanan, dan dia banyak tanya padaku – terlalu banyak pertanyaan. Meskipun dia adalah emir – julukan bagi ketua Hamas di penjara – aku tidak percaya padanya. Aku sudah banyak mendengar cerita tentang “burung,” istilah bagi mata² musuh dalam penjara.

Jika dia adalah mata² Shin Bet, pikirku, mengapa dia tidak percaya padaku? Bukankah mereka sudah menganggap aku bekerja bagi mereka? Tapi aku pura² tidak terganggu dan tidak bicara apapun selain yang telah kusampaikan pada para penanya di penjara yang dulu.

Aku berada di penjara Megiddo selama dua minggu, sholat dan puasa dan membaca Qur’an. Ketika tawanan² baru datang, aku memperingatkan mereka tentang si emir.

“Kau harus berhati-hati,” kataku, “Orang itu dan teman²nya tampaknya adalah burung².” Para tawanan baru itu dengan cepat memberitahu emir tentang kecurigaanku, dan keesokan harinya aku dikembalikan ke Maskobiyeh. Di pagi harinya, aku dibawa menghadap ke kantor.

“Bagaimana perjalananmu ke Megiddo?” tanya Loai.

“Menyenangkan,” kataku sarkastik.

“Tahu engga’, tak banyak orang yang bisa melihat burung di saat pertama kali dia melihatnya. Beristirahatlah sekarang. Dan suatu hari nanti kita akan melakukan sesuatu bersama.”

Ya, dan suatu hari nanti akan kutembak kepalamu, begitu pikirku sewaktu aku melihatnya berlalu. Aku merasa bangga bisa berpikiran radikal seperti itu.

Aku kembali dipenjara di situ selama 25 hari, tapi kali ini aku ditempatkan di sebuah sel bersama tiga tawanan lainnya, termasuk saudara sepupuku Yousef. Kami menghabiskan waktu dengan bicara dan berbagi cerita. Salah seorang mengatakan bahwa dia telah membunuh seseorang. Yang lain membual bahwa dia mengirim seorang pembom bunuh diri. Setiap orang punya kisah menarik untuk disampaikan. Kami duduk bersama, sholat, bernyanyi, dan mencoba melakukan kegiatan yang menyenangkan. Apapun kami lakukan untuk melupakan keadaan sekitar. Tempat itu bukanlah tempat yang layak bagi manusia.

Akhirnya, kami semua kecuali saudara sepupuku dikirim ke Megiddo. Tapi kali ini kami tidak akan bersama para burung lagi; kami menuju penjara sebenarnya. Dan sejak itu keadaan tidak akan pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Bab 12 – Nomer 823

1996

Mereka dapat mencium bau kami saat kami datang.

Image
Peta letak Megiddo di Israel.

Image
Mungkin ini penjara Megiddo.

Image

Rambut dan jenggot kami jadi panjang setelah tiga bulan tanpa gunting atau silet pencukur. Baju kami kotor sekali. Dibutuhkan waktu dua minggu untuk menghilangkan bau bekas penjara Maskobiyeh. Tubuh digosok kuat² sekali pun tidak sanggup menghilangkan bau. Hanya waktu yang akhirnya bisa menghilangkannya.

Kebanyakan tawanan awalnya ditempatkan terlebih dulu di mi’var, yang adalah sebuah unit di mana setiap orang diproses sebelum dipindahkan ke kamp penjara yang lebih besar. Akan tetapi, beberapa tawanan dianggap terlalu berbahaya untuk bergabung dengan tawanan² lainnya dan harus tetap tinggal di mi’var selama bertahun-tahun. Orang² ini, sudah bisa ditebak, semuanya adalah anggota Hamas.

Sebagai putra Syeikh Hassan, aku merasa terbiasa dikenal kemana pun aku pergi. Jika ayah adalah raja, maka aku adalah pangeran – pewaris takhta kekuasaan. Dan begitulah aku diperlakukan.

“Kami dengar kau berada di sini sebulan yang lalu. Pamanmu sekarang berada di sini. Dia akan segera mengunjungimu.”

Makan siang disajikan panas² dan mengenyangkan, meskipun tidak seenak makanan yang kumakan ketika dulu bersama para burung. Meskipun begitu aku tetap merasa senang. Sekalipun masih dipenjara, aku merasa lebih bebas. Ketika aku sedang seorang diri, aku memikirkan tentang Shin Bet. Aku telah berjanji pada mereka untuk bekerja bagi mereka, tapi mereka tak memberitahu aku apapun. Mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana mereka akan berkomunikasi denganku atau apa sebenarnya yang dimaksud dengan bekerja sama. Mereka membiarkan aku begitu saja, tanpa ada nasehat apapun tentang bagaimana aku harus berlaku. Aku sangat heran. Aku juga tidak tahu siapa diriku sebenarnya sekarang. Kupikir ada kemungkinan aku telah dijebak.

Tempat mi’var ini dibagi dalam dua asrama yang besar – Ruang Delapan dan Ruang Sembilan – kedua ruang ini penuh dengan ranjang bertingkat. Bangunan asrama² berbentuk huruf L dan setiap bangunan ditempati 20 tawanan. Di sudut L terdapat lapangan olahraga dengan lantai semen yang dicat dan meja ping-pong rusak yang disumbangkan oleh Palang Merah. Kami diperbolehkan berolahraga dua kali sehari.

Tempat tidurku terletak di ujung Ruang Sembilan, dekat kamar mandi. Terdapat dua kamar kecil dan dua tempat mandi. Tempat buang air hanyalah sebuah lubang di lantai di mana kami harus berdiri atau jongkok, lalu setelah selesai buag air, kami siram sendiri kotoran dengan seember air. Ruangan ini panas dan lembab, dan baunya sungguh memuakkan.

Sebenarnya malah seluruh asrama juga begitu keadaannya. Orang² menderita sakit dan batuk²; sebagian malah tidak pernah mandi. Semua tawanan berbau mulut busuk. Asap rokok memenuhi ruangan dan kipas angin lemah tidak berarti apapun. Juga tak ada jendela ventilasi.

Kami dibangunkan setiap jam 4 pagi agar bersiap untuk sholat Fajar. Kami menunggu di antrian dengan handuk kami, masih dalam keadaan mengantuk dan bau. Lalu kami harus melakukan wudu. Untuk memulai membersihkan diri secara Islam sebelum sholat, kami membasuh tangan sampai ke pergelangan tangan, kumur², dan membersihkan lubang hidung dengan air. Kami gosok wajah kami dengan dua tangan dari jidat sampai ke dagu, dan dari kuping satu ke kuping yang lain, membasuh tangan sampai ke sikut, dan membasuh kepala dari jidat sampai ke belakang leher dengan tangan yang basah air. Akhirnya membasahi jari² tangan untuk membersihkan kuping bagian dalam dan luar, seluruh leher, dan membasuh kaki sampai ke pergelangan kaki. Lalu kami ulang semua proses ini dua kali lagi.

Pada jam 4:30 pagi, setelah semua selesai melakukan wudu, seorang imam – yang besar, sangar dengan jenggot lebat – melafalkan adhan. Lalu dia mulai melafalkan Al-Fatihah (Sura pertama Qur’an), dan kami lalu melakukan empat rakat (gerakan berdoa, berdiri, berlutut, dan bersujud).

Kebanyakan tawanan adalah Muslim anggota Hamas atau Jihad Islam, jadi melakukan sholat seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi kami. Tapi tawanan² lain yang sekuler dan komunis juga dipaksa bangun di waktu yang sama, meskipun mereka tidak ikut sholat. Dan tentu saja mereka tidak senang akan hal ini.

Seorang tawanan sudah menjalani setengah dari masa hukuman 15 tahun. Dia muak sekali dengan segala rutinitas Islam, dan dia menghabiskan waktu lama sekali untuk bangun subuh. Beberapa tawanan menepuknya, memukulnya, sambil membentak, “Bangun!” Akhirnya mereka menyiramkan air ke kepalanya. Aku kasihan padanya. Semua proses wudhu, sholat, dan pelafalan Qur’an memakan waktu satu jam. Setelah itu orang² kembali tidur. Tiada seorang pun yang bicara. Sunyi senyap.

Aku selalu tidak bisa tidur kembali, dan biasanya aku tidak tertidur setelah jam 7 pagi. Sewaktu akhirnya aku tertidur, seseorang berteriak, “Adad! Adad!” (Nomer! Nomer!). Ini adalah peringatan bahwa sekarang adalah saatnya melakukan penghitungan kepala.

Kami duduk di tempat tidur kami dengan punggung menghadap prajurit Israel yang menghitung kami, karena dia tak bersenjata. Dia hanya butuh waktu lima menit untuk menghitung kami dan lalu kami boleh tidur lagi.

Jalsa! Jalsa!” jerit emir pada jam 8:30 pagi. Ini adalah saat rapat dua kali sehari yang dilakukan organisasi Hamas dan Jihad Islam. Aku tidak bisa tidur dua jam penuh. Ini sungguh menjengkelkan. Sekali lagi, orang² berbaris ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri menghadiri jalsa jam 9 pagi.

Di jalsa Hamas pertama hari itu, kami belajar aturan membaca Qur’an. Aku sudah tahu akan hal ini dari ayahku, tapi kebanyakan tawanan tidak mengetahuinya. Jalsa kedua hari itu membicarakan tentang Hamas, sikap disiplin di dalam penjara, pengumuman tentang tawanan² yang baru datang, dan kabar tentang kejadian di luar penjara. Tak ada rahasia atau rencana apapun, hanya berita umum saja.

Setelah setiap jalsa, kami seringkali menghabiskan waktu dengan nonton TV di bagian ujung ruangan, berhadapan dengan kamar kecil. Suatu pagi, aku sedang menonton kartun dan lalu sebuah iklan ditayangkan.

GEDEBUG!

Sebuah papan kayu besar jatuh di hadapan layar TV.

Aku meloncat kaget dan melihat sekeliling.

“Ada apa?”

Aku lalu mengetahui bahwa papan itu terikat pada tali besar yang diikatkan pada langit². Di sebelah ruangan tampak seorang tawanan memegang erat² ujung tali itu. Rupanya tugasnya adalah melihat segala yang dianggap haram dan menjatuhkan papan kayu di depan TV agar penonton tidak bisa melihatnya.

“Kenapa kau menjatuhkan papan kayu itu?” tanyaku.

“Untuk melindungi kamu sendiri,” katanya kasar.

“Melindungi? Dari apa?”

“Gadis di iklan itu,” jelasnya. “Gadis itu kan tak pakai jilbab.”

Aku melihat emir. “Apakah dia serius tentang ini?”

“Ya, tentu saja,” kata emir.

“Tapi kami semua punya TV di rumah kami, dan kami tidak melakukan hal seperti ini di rumah. Kenapa musti melakukannya di sini?”

“Berada di penjara membuat orang menghadapi godaan² yang tak lumrah,” jelasnya. “Di sini tidak ada perempuan. Yang mereka tayangkan pada TV bisa menimbulkan masalah dan berakibat buruk bagi mereka. Karena itulah dibuat aturan seperti ini dan beginilah kami menanggulangi masalah itu.”

Tentu saja tidak semua orang setuju akan hal itu. Apa yang boleh atau tak boleh dilihat sangat tergantung dari orang yang memegang tali. Jika orang itu berasal dari Hebron, dia akan menjatuhkan papan untuk menutupi layar TV, bahkan jika yang muncul hanyalah sosok kartun wanita tanpa jilbab. Tapi jika orang itu berasal dari Ramallah, kami bisa nonton lebih bebas. Kami seharusnya bergiliran memegang tali, tapi aku tak mau menyentuh benda edit moderator*) itu.

Setelah makan siang, tiba waktunya untuk melakukan sholat Dhuhr, lalu setelah itu saat tenang. Kebanyakan tawanan tidur siang. Biasanya aku membaca buku. Dan di sore hari, kami diperbolehkan pergi ke lapangan olahraga untuk berjalan-jalan sedikit atau mengobrol dengan tawanan lain.

Hidup di penjara sangatlah membosankan bagi para anggota Hamas. Kami tak boleh bermain kartu. Kebebasan membaca buku dibatasi dan hanya boleh membaca Qur’an dan literatur Islam saja. Organisasi non-Hamas tidak menerapkan aturan sekeras itu.

Saudara sepupuku Yousef akhirnya muncul di suatu sore, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Penjaga² Israel memperbolehkan kami menyimpan alat cukur, dan kami memangkas habis rambut kepalanya untuk menghilangkan bau penjara Moskabiyeh.

Yousef bukanlah anggota Hamas; dia adalah orang sosialis. Dia tidak percaya pada Allâh, tapi percaya akan Tuhan. Dengan begitu, dia lebih cocok jadi anggota Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), DFLP berjuang untuk berdirinya Negara Palestina, dan ini tidak sama dengan tujuan Hamas yang bercita-cita mendirikan Negara Islam.

Beberapa hari setelah Yousef datang, pamanku yakni Ibrahim Abu Salem, datang menjenguk. Dia berada di penahanan administratif sejak dua tahun lalu, meskipun tiada tuduhan resmi yang diajukan padanya. Karena dia dianggap berbahaya bagi keamanan Israel, dia akan terus berada di sana untuk waktu yang lama. Sebagai Hamas VIP (Very Important Person = Orang Sangat Penting), pamanku Ibrahim diijinkan mengunjungi mi’var dan kamp penjara dan dari satu kamp ke kamp yang lain. Maka dia datang berkunjung ke mi’var untuk menengok keponakannya, agar yakin aku baik² saja, dan membawa beberapa baju bagiku – tanda peduli yang sangat bertentangan dengan sifatnya sebagai orang yang dulu suka memukuliku dan tidak peduli pada keluargaku saat ayah sedang dipenjara.

Dengan tinggi hampir mencapai 180 cm, Ibrahim Abu Salem adalah orang yang tinggi besar. Perutnya yang menonjol keluar – tanda kecintaannya pada makanan – membuat dia tampak gembul dan tidak berbahaya. Tapi aku tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pamanku Ibrahim adalah orang yang kejam, mementingkan diri sendiri, pendusta, dan munafik – sangat bertolak belakang dengan ayahku.

Tapi di dalam tembok penjara Megiddo, paman Ibrahim diperlakukan bagaikan seorang raja. Semua tawanan menghormatinya, tidak peduli dari organisasi manapun , karena usianya, kemampuannya mengajar, pekerjaannya di universitas², dan prestasi politik dan akademinya. Biasanya, para pemimpin tawanan memanfaatkan kedatangannya dan memintanya untuk memberi kuliah.

Semua tawanan suka mendengarkan Ibrahim saat dia memberi kuliah. Dia tidak mengajar seperti dosen, tapi lebih sebagai penghibur. Dia suka membuat orang tertawa, dan jika dia mengajar tentang Islam, maka dia menyampaikan ajarannya dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapapun bisa mengerti.

Akan tetapi, hari ini tiada seorang pun yang tertawa. Sebaliknya, semua tawanan duduk bersebelahan dengan diam saat Ibrahim bicara dengan kemarahan berkobar-kobar tentang orang² yang bekerja sama dengan Israel dan bagaimana mereka mempermalukan keluarga mereka dan merupakan musuh orang² Palestina. Dari caranya bicara, aku merasa dia sebenarnya berkata padaku, “Jika kau tahu sesuatu yang belum kau sampaikan padaku, Mosab, katakan padaku sekarang juga.”

Tentu saja aku tetap diam saja. Bahkan andaikata sekalipun Ibrahim curiga akan hubunganku dengan Shin Bet, dia tidak akan berani mengatakannya terus terang pada putra Syeikh Hassan Yousef.

“Jika kau butuh apapun,” katanya padaku sebelum pergi, “beritahu aku saja. Aku akan mencoba agar kau berada dekat denganku.”

Saat itu adalah musim panas 1996. Meskipun aku baru berusia 18 tahun, aku merasa bagaikan telah menjalani beberapa kehidupan dalam waktu beberapa bulan saja. Dua minggu setelah paman datang, seorang wakil tawanan, atau shawish, datang ke Ruangan Sembilan dan memanggil, “Delapan dua tiga!” Aku mendongak terkejut karena mendengar nomerku dipanggil. Lalu dia juga memanggil tiga atau empat nomer lain dan memberitahu kami agar mengumpulkan barang² kami.

Sewaktu kami keluar dari mi’var ke padang gurun, udara panas menerpaku bagaikan napas naga dan membuat kepalaku pusing sejenak. Sejauh mata memandang tak ada lain yang tampak selain ujung² bagian atas tenda coklat. Kami berbaris menuju bagian tenda pertama, bagian kedua, bagian ketiga. Ratusan tawanan datang berlari menuju pagar tinggi berantai untuk melihat tawanan² yang baru datang. Kami tiba di Bagian Lima, dan pintu gerbang terbuka. Lebih dari lima puluh orang mengelilingi, memeluk kami, dan menjabat tangan kami.

Image

Kami dibawa ke bagian tenda administrasi dan ditanyai dari organisasi mana kami berasal. Lalu aku dibawa ke tenda Hamas, di mana emir menerimaku dan menjabat tanganku.

“Selamat datang,” katanya. “Senang berjumpa denganmu. Kami sangat bangga akan kamu. Kami akan menyiapkan tempat tidur bagimu dan memberi beberapa handuk dan barang² lain yang kau butuhkan.” Lalu dia mengatakan lelucon penjara, “Anggaplah seperti rumah sendiri dan nikmati tinggal di sini.”

Setiap bagian penjara terdiri dari 12 tenda. Setiap tenda berisi 20 tempat tidur dan tempat sepatu. Kapasitas maximum setiap bagian adalah 240 tawanan. Bayangkan bingkai empat persegi panjang, dihalangi dengan pagar kawat duri silet. Bagian Lima dibagi dalam kotak². Sebuah tembok yang bagian atasnya diberi kawat duri silet, membagi-bagi Bagian dari utara ke selatan, dan pagar rendah membagi tempat itu dari timur ke barat.

Image
Kawat duri silet.

Kotak bagian Satu dan Two (sebelah kanan dan kiri atas) masing² memiliki tiga buah tenda Hamas. Kotak bagian Tiga (kanan bawah) memiliki empat tenda – masing² untuk Hamas, Fatah, kombinasi DFLP/PFLP, dan Jihad Islam. Dan Kotak bagian Empat (kiri bawah) memiliki dua tenda, satu untuk Fatah, dan satu lagi untuk DFLP/PFLP.

Kotak Empat memiliki sebuah dapur, WC, tempat mandi, dan tempat untuk shawish dan pekerja dapur, dan baskom² untuk wudhu. Kami berbaris di antrean untuk melakukan sholat di lapangan terbuka di Kotak Dua. Tentunya terdapat menara penjaga di setiap sudut. Pintu gerbang utama di Kotak Lima terletak di pagar kawat antara Kotak Tiga dan Empat.

Satu keterangan lagi: pagar dari timur ke barat memiliki pintu² gerbang diantara Kotak Satu dan Tiga dan Dua dan Empat. Pintu² dibiarkan terbuka hampir sepanjang hari, kecuali pada saat penghitungan kepala di mana pintu² ini ditutup agar penjaga bisa menghitung setiap bagian.

Aku ditempatkan di tenda Hamas di ujung atas Kotak bagian Satu, di ranjang ketiga dari kanan. Setelah penghitungan kepala, kami semua duduk² sambil ngobrol, dan lalu terdengar suara, “Barid, ya mujahidin! Barid!” (Surat bagi pejuang kemerdekaan! Surat!).

Suara itu milik sawa’id dari bagian lain, dan semua orang memperhatikannya. Sawa’id adalah petugas keamanan Hamas di dalam penjara, yang membagi-bagikan pesan dari satu bagian ke bagian lainnya. Kata Sawa’id dalam bahasa Arab berarti “tangan² yang melempar.”

Setelah terdengar teriakan itu, dua orang laki berlari ke luar tenda, menjulurkan tangan² mereka di udara dan melihat langit. Bagaikan sudah diatur saja, sebuah bola datang entah dari mana dan jatuh tepat di tangan² yang sudah siap itu. Beginilah cara para pemimpin Hamas di bagian kami menerima perintah² bersandi rahasia dari pemimpin di bagian lain. Setiap organisasi Palestina di penjara menggunakan cara ini untuk berkomunikasi. Masing² organisasi memiliki nama sandi tersendiri, sehingga jika suara diteriakkan, para “penangkap bola” tahu bahwa mereka harus lari ke tempat di mana bola itu akan jatuh.

Bola² ini dibuat dari roti yang diempukkan dengan air. Pesan dimasukkan ke dalamnya dan roti digulung bulat bagaikan bola sebesar bola softball, dikeringkan sampai mengeras. Tentu saja hanya pelempar dan penerima terbaik yang dipilih sebagai “tukang pos.”

Kejadian menarik itu berakhir dengan cepat. Lalu tiba saat makan malam.

Bab 13 – Jangan Percaya Siapapun

1996

Setelah ditahan di bawah tanah begitu lama, rasanya senang sekali bisa melihat langit. Rasanya bagaikan belum melihat bintang² di langit selama bertahun-tahun. Bintang² tampak indah, meskipun lampu² kamp tahanan meredupkan terang bintang. Tapi kemunculan bintang² juga merupakan tanda sudah waktunya dilakukan penghitungan kepala dan waktu tidur. Dan inilah yang sebenarnya membingungkan diriku.

Nomerku adalah 823, dan para tawanan ditempatkan berdasarkan urutan nomer. Ini berarti seharusnya aku berada di tenda Hamas di Kotak Tiga. Tapi karena tenda di sana sudah penuh, aku lalu ditempatkan di tenda di sudut di Kotak Satu.

Ketika dilakukan penghitungan kepala, aku harus berada di tempat yang tepat di Kotak Tiga. Dengan begitu, saat penjaga menghitung daftarnya, dia tidak usah mengingat semua penyesuaian yang harus dilakukan agar semua berjalan rapih.

Semua gerakan pada penghitungan kepala dilakukan dengan teratur.

Dua puluh lima prajurit yang bersenjatakan senapan M16 masuk ke Kotak Satu dan bergerak dari tenda ke tenda. Kami semua berdiri menghadap kanvas tenda, punggung kami menghadap prajurit. Tiada seorang pun yang berani bergerak karena takut ditembak.

Setelah mereka selesai di satu tenda, para prajurit itu bergerak ke Kotak Dua. Setelah itu, mereka menutup dua pintu gerbang di pagar, sehingga tiak ada seorang pun dari Kota Satu atau Dua bisa menyelip ke Kotak Tiga atau Empat untuk menutupi tawanan yang hilang.

Di malam pertama di Kotak Lima, aku menyadari adanya hal misterius yang terjadi. Ketika aku pertama kali masuk ke Kotak Tiga, seorang tawanan yang tampak sangat sakit berdiri di sebelahku. Dia tampak sangat menyedihkan, seperti hampir mati saja. Kepalanya dicukur gundul; dia jelas tampak lelah sekali. Dia juga tidak memandang mataku. Siapakah orang ini, dan apa yang terjadi dengannya? Aku heran.

Ketika para prajurit selesai menghitung di Kotak Satu dan bergerak ke Kotak Dua, seseorang merenggut orang itu keluar tenda, dan seorang tawanan mengambil tempatnya di sebelahku. Aku di waktu kemudian mengetahui bahwa celah kecil telah dibuat di pagar antara Kotak Satu dan Tiga sehingga mereka bisa mengganti tawanan dengan tawanan lain.

Sudah jelas bahwa para tawanan tidak mau prajurit²itu melihat orang yang dicukur gundul tersebut. Tapi mengapa?

Malam itu, sambil berbaring di tempat tidurku, aku mendengar seseorang merintih kesakitan tak jauh dari tempatku. Seseorang jelas sangat menderita kesakitan. Tapi aku lalu tertidur lelap.

Pagi hari selalu datang terlalu cepat, dan sebelum aku menyadari, kami telah dibangunkan untuk sholat Fajar. Dari 240 tawanan di Kotak Lima, 140 orang bangun dan berdiri di antrian untuk menggunakan 6 WC – sebenarnya hanya enam lubang dengan pembatasan yang mengelilinginya. Delapan baskom tersedia untuk melakukan wudu. Waktu yang disediakan adalah 30 menit.

Lalu kami berjejer untuk sholat. Kegiatan sehari-hari serupa seperti di mi’var. Tapi jumlah tawanan di sini 12 kali lebih besar. Meskipun banyak tawanan, semua kegiatan berlangsung dengan sangat teratur. Tampaknya tiada seorang pun yang membuat kesalahan. Hal ini terasa aneh.

Setiap orang tampak ketakutan. Tiada seorang pun yang berani melanggar aturan. Tiada seorang pun yang berani menggunakan WC terlalu lama. Tiada yang berani melihat mata tawanan yang sedang diinterogasi atau mata prajurit Israel. Tiada yang berdiri terlalu dekat dengan pagar.

Tak lama kemudian aku mulai mengetahui alasannya. Di bawah pengamatan pengawas penjara, Hamas berkuasa diantara para tawanan penjara dan mereka mencatat angka perbuatan tawanan. Jika tawanan melanggar aturan, maka dia mendapat angka merah. Jika jumlah angka merah terlalu banyak, maka kau harus menghadap maj’d, petugas keamanan Hamas – orang² maj’d ini sangar dan tidak pernah tertawa atau bercanda.

Pada umumnya kami tidak melihat maj’d karena mereka sibuk mengumpulkan keterangan. Bola² berisi pesan dikirimkan dari satu bagian ke bagian lain berasal dari mereka dan untuk mereka.

Suatu hari, ketika aku sedang duduk di tempat tidurku, para maj’d masuk dan berteriak, “Semua keluar dari tenda ini!” Tiada seorang pun yang mengatakan apapun. Tenda itu kosong dalam sekejap. Mereka lalu menarik seorang pria masuk ke dalam tenda, menutup tenda, dan lalu dua orang menjaga di luar tenda. Seseorang memasang TV keras². Orang² lain mulai bernyanyi dan membuat suara² keras.

Aku tak tahu apa yang terjadi dalam tenda, tapi aku tidak pernah mendengar manusia menjerit kesakitan seperti jeritan orang dalam tenda itu. Apa sih yang dilakukannya sampai dia diperlakukan begitu? Aku sangat heran. Siksaan berlangsung selama 30 menit. Lalu dua maj’d membawa dia keluar dan memasukkannya ke dalam tenda lain di mana interogasi dilakukan lagi.

Aku sedang mengobrol dengan seorang teman bernama Akel Sorour, yang berasal dari desa dekat Ramallah, ketika kami disuruh keluar dari tenda.

“Apa yang terjadi di dalam tenda?” tanyaku.

“Oh, dia adalah orang jahat,” katanya ringan.

“Aku tahu dia orang jahat, tapi apa yang mereka lakukan terhadapnya? Dan apa yang telah dia lakukan?”

“Dia tidak melakukan kesalahan apapun di penjara,” jelas Akel. “Tapi kata mereka ketika dia berada di Hebron, dia memberi informasi ke Israel tentang anggota Hamas, dan tampaknya dia membocorkan banyak keterangan. Maka mereka menyiksa dia dari waktu ke waktu.”

“Bagaimana cara menyiksanya?”

“Mereka biasanya menusukkan jarum di bawah kuku²nya dan melelehkan nampan² makanan plastik ke atas kulitnya. Atau mereka membakar bulu tubuhnya. Kadangkala mereka meletakkan tongkat besar di belakang lututnya, memaksanya untuk jongkok selama berjam-jam, dan melarangnya tidur.”

Sekarang aku mengerti mengapa setiap orang begitu berhati-hati dan apa yang terjadi dengan orang gundul yang kulihat saat pertama kali aku datang ke sini. Para maj’d membenci orang² yang bekerja sama dengan Israel, kami semua dicurigai sebagai mata² Israel kecuali jika kami bisa membuktikan tidak melakukan itu.

Karena Israel begitu berhasil mengenal cabang² Hamas dan memenjarakan para anggotanya, maj’d mengira organisasinya dipenuhi mata², dan mereka ingin menemukan mata² tersebut. Mereka mengamati segala perbuatan yang kami lakukan. Mereka mengawasi sikap kami, mendengarkan semua yang kami katakan. Dan mereka menghitung angka kesalahan. Kami tahu siapa mereka, tapi kami tidak tahu orang yang mengawasi kami bagi mereka. Orang yang kukira adalah teman, bisa jadi bekerja bagi maj’d, dan ini bisa saja mengakibatkan aku diinterogasi oleh mereka besok hari.

Aku mengambil keputusan untuk bersikap sangat berhati-hati. Begitu aku tahu keadaan yang sarat rasa curiga dan pengkhianatan di kamp ini, hidupku berubah drastis. Rasanya aku ini jadi orang lain sama sekali – orang yang tidak bisa bergerak bebas, tidak bisa bicara bebas, tidak bisa percaya atau berhubungan atau berteman dengan orang lain. Aku takut berbuat salah, takut terlambat, takut ketiduran pada saat harus bangun, atau lupa mengangguk saat jalsa.

Jika seseorang “tertangkap” oleh maj’d sebagai mata² Israel, tamat sudah hidupnya. Kehidupan keluarganya juga akan hancur. Anak²nya, istrinya, semua orang akan menyingkirkannya. Ketahuan sebagai mata² Israel adalah reputasi terjelek yang bisa dialami seseorang. Antara tahun 1993 sampai 1996, lebih dari 150 orang dituduh sebagai mata² diiterogasi oleh Hamas dalam penjara² Israel. Sekitar 16 orang mati dibunuh.

Karena aku bisa menulis dengan cepat dan rapih, maka maj’d meminta aku untuk jadi juru tulis mereka. Informasi yang kutulis adalah rahasia besar, kata mereka. Dan mereka memperingatkanku untuk tidak menyampaikannya pada siapapun.

Aku menghabiskan hari²ku menulis ulang catatan tentang para tawanan. Kami sangat berhati-hati agar informasi ini tidak jatuh ke tangan penjaga penjara. Kami tidak pernah menyebut nama, hanya nomer kode. Ditulis di atas kertas paling tipis yang ada, informasi itu bagaikan pornografi yang paling menjijikan. Isinya antara lain adalah orang² mengaku bersetubuh dengan ibu² mereka. Seseorang berkata dia bersetubuh dengan seekor sapi. Yang lain bersetubuh dengan anak perempuannya. Seorang pria bersetubuh dengan seorang wanita yang adalah juga tetangganya, dan merekam kegiatan itu dengan kamera rahasia, dan memberikan foto²nya pada Israel. Pihak Israel, kata laporan itu, menunjukkan foto² itu pada wanita itu dan mengancam untuk menyebarkannya pada keluarganya jika wanita itu menolak untuk bekerja sebagai mata² Israel. Maka mereka tetap berhubungan seks bersama sambil mengumpulkan keterangan dan mulai bersetubuh dengan orang lain dan merekamnya secara rahasia lagi, melaporkan pada Israel, Israel lalu mengancam, dan seterusnya, sampai seluruh desa tampaknya ramai² menjadi mata² Israel. Ini adalah informasi² pertama yang harus kutulis ulang.

Semuanya ini tampak tidak waras bagiku. Sewaktu sedang menulis ulang informasi² tersebut, aku menyadari bahwa orang² yang dicurigai itu disiksa hebat sambil ditanyai berbagai hal yang mereka pasti tidak tahu dan mereka memberi jawaban apapun yang memuaskan para penyiksa agar penyiksaan berhenti. Aku juga mengira sebagian interogasi dilakukan tanpa tujuan apapun selain untuk memuaskan fantasi seksual para maj’d yang dipenjara.

Lalu suatu hari, temanku Akel Sorour menjadi korban mereka pula. Dia adalah anggota cabang Hamas dan telah ditangkap beberapa kali, tapi untuk alasan tertentu dia tidak pernah diterima dengan baik oleh tawanan Hamas dari kota besar. Akel hanyalah petani sederhana. Caranya bicara dan makan tampak aneh bagi orang lain, dan mereka mengolok-oloknya. Dia mencoba sebaik mungkin untuk meraih kepercayaan dan hormat mereka dengan cara memasak dan membersihkan bagi mereka, tapi mereka memperlakukannya bagaikan sampah karena mereka tahu dia melayani mereka berdasarkan rasa takut.

Akel sendiri punya alasan untuk merasa takut. Kedua orangtuanya telah wafat. Satu²nya keluarga yang dimilikinya adalah saudara perempuannya. Ini membuat dia lemah, karena tak ada siapapun yang bisa membalas dendam atas siksaan yang dialaminya. Terlebih lagi, temannya yang diinterogasi oleh maj’d menyebut nama Akel saat disiksa. Aku sungguh merasa kasihan padanya. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya? Aku hanyalah anak muda yang kebingungan tanpa kekuasaan apapun. Aku tahu bahwa satu²nya alasan aku tidak diperlakukan sama seperti tawanan lain adalah karena ayahku.

Sekali sebulan, keluarga² tawanan boleh menjenguk kami. Makanan penjara Israel tidak enak, jadi para keluarga biasanya membawa makanan hasil masak sendiri dan barang² pribadi. Karena Akel dan aku berasal dari daerah yang sama, keluarga kami datang pada waktu yang sama pula.

Setelah proses permintaan yang lama, pihak Palang Merah mengumpulkan anggota² keluarga dari daerah tertentu dan menaikkan mereka semua ke dalam bus. Hanya dibutuhkan menyetir dua jam untuk sampai ke Megiddo. Tapi karena bus harus berhenti di setiap pos penjagaan, dan para penumpang harus diperiksa di setiap perhentian, keluarga kami harus berangkat jam 4 pagi agar bisa mencapai penjara jam 12 siang.

Suatu hari, setelah senang bertemu dengan saudara perempuannya, Akel kembali ke Kotak Lima dengan tas² penuh makanan yang dibeli saudaranya baginya. Dia sangat senang dan tidak tahu apa yang sedang menunggunya. Pamanku Ibrahim datang untuk memberi kuliah, dan ini biasanya adalah pertanda buruk. Aku sudah tahu bahwa biasanya Ibrahim mengumpulkan orang² untuk memberi kuliah agar para penjaga tidak sadar bahwa pada saat itu maj’d sedang membawa seseorang untuk diiterogasi. Kali ini, “seseorang” itu adalah Akel. Maj’d merampas hadiah makanannya dan membawanya masuk ke sebuah tenda. Dia hilang di belakang gorden, dan mulailah kesengsaraannya.

Aku melihat pamanku. Mengapa dia tidak melakukan apapun? Dia telah dipenjara bersama Akel berkali-kali. Mereka menderita bersama. Akel telah memasak dan mengurusnya. Pamanku mengenal orang ini. Apakah karena Akel ini miskin, petani pendiam dari desa, sedangkan pamanku berasal dari kota?

Apapun alasannya, Ibrahim Abu Salem duduk bersama maj’d, tertawa dan makan makanan milik Akel yang didapatnya dari saudara perempuannya. Di tempat yang tak jauh, para anggota Hamas – sesama orang Arab, sesama Palestina, sesama Muslim – menusukkan jarum² ke bawah kuku² Akel.

Aku hanya melihat Akel beberapa kali di minggu² berikutnya. Kepala dan jenggotnya telah dicukur, matanya melekat ke tanah. Dia sangat kurus dan tampak seperti orang tua yang hampir mati.

Tak lama kemudian, aku diberi keterangan tentang Akel yang harus kutulis ulang. Dia mengaku berhubungan seks dengan setiap wanita di desanya, dan juga dengan keledai, dan binatang² lainnya. Aku tahu setiap kata itu adalah dusta belaka, tapi aku tulis keterangannya, dan maj’d mengirim surat ini ke desanya. Saudara perempuannya mengasingkannya. Tetangga²nya menolaknya.

Bagiku, maj’d itu lebih bejad daripada mata² Israel. Tapi mereka berkuasa dan berpengaruh dalam sistem penjara. Kupikir aku bisa memanfaatkan mereka untuk kepentinganku.

Anas Rasras adalah ketua maj’d. Ayahnya adalah dosen perguruan tinggi di Tepi Barat dan teman dekat pamanku Ibrahim. Setelah aku tiba di Megiddo, pamanku meminta Anas untuk membantuku menyesuaikan diri di penjara. Anas berasal dari Hebron, berusia sekitar 40 tahun, sangat bersikap rahasia, sangat cerdas, dan sangat berbahaya. Dia diawasi Shin Bet setiap saat dia berada di luar penjara. Dia punya beberapa kawan, tapi dia tidak pernah ikut menyiksa. Karena itu, aku merasa hormat dan bahkan percaya padanya.

Aku beritahu dia bahwa aku setuju untuk bekerja sama dengan Israel agar aku bisa jadi agen dobel, memiliki persenjataan canggih, dan membunuh mereka dari dalam. Aku bertanya apakah dia bisa menolongku.

“Aku harus memeriksa dulu,” katanya, “Aku tak akan menceritakan hal ini pada siapapun, tapi akan kulihat dulu.”

“Apa maksudmu kau harus lihat dulu? Kamu ini bisa menolong aku atau tidak?”

Aku seharusnya sudah mengetahui bahwa aku tidak bisa mempercayai orang ini. Bukannya menolong diriku, dia langsung memberitahu pamanku Ibrahim dan beberapa anggota maj’d lain tentang rencanaku.

Keesokan paginya, pamanku datang menemuiku.

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?”

“Jangan takut. Tiada sesuatu yang terjadi. Aku punya rencana. Kau tidak perlu ambil bagian dalam hal ini.”

“Ini sungguh berbahaya, Mosab, bagi reputasimu dan reputasi ayahmu, bagi seluruh keluargamu. Orang lain melakukan hal ini, tapi kamu tidak.”

Dia lalu mulai menanyaiku. Apakah Shin Bet memberiku keterangan orang dalam penjara mana yang harus dihubungi? Apakah aku bertemu dengan petugas keamanan Israel? Apa yang diberitahu oleh dia padaku? Apa yang aku beritahu pada orang lain? Semakin banyak dia menginterogasiku, semakin marah aku jadinya. Akhirnya, aku meledak di hadapan wajahnya.

“Kenapa kau tidak mengurus urusan agama saja dan tidak usah mengurus perihal keamanan? Semua orang ini menyiksa orang lain tanpa tujuan berarti. Mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan. Aku tidak punya apapun lagi yang bisa kukatakan. Aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan, dan kau, silakan lakukan apa yang kau inginkan.”

Aku tahu perkembangan ini tentunya tidak baik untuk diriku. Aku yakin mereka tidak menyiksa atau menginterogasiku karena ayahku, tapi aku bisa melihat bahwa pamanku Ibrahim tidak tahu apakah aku mengatakan yang sebenarnya atau tidak.

Pada saat itu, aku sendiri juga tidak merasa yakin lagi.

Aku menyadari bahwa aku bertindak bodoh dengan mempercayai maj’d. Apakah aku juga bodoh jika mempercayai Israel? Mereka tetap belum memberitahu apapun padaku. Mereka tidak menyebut orang manapun yang harus kuhubungi. Apakah mereka ini juga sedang bermain-main denganku?

Aku masuk tendaku dan merasa diriku tertekan secara mental dan emosianal. Aku tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Tawanan² yang lain bisa melihat ada yang salah pada diriku, tapi mereka tidak tahu apa tepatnya. Meskipun maj’d tidak menyebarkan apa yang kusampaikan, tapi mereka mengawasiku dengan seksama. Setiap orang merasa curiga padaku. Aku pun merasa curiga terhadap siapapun. Dan kami semua hidup bersama di dalam kandang terbuka dan tidak bisa pergi ke tempat lain. Tiada tempat untuk menghindar atau sembunyi.

Waktu merambat. Kecurigaan pun bertambah besar. Setiap hari, terdengar jerit kesakitan; setiap malam, penyiksaan. Hamas menyiksa anggota²nya sendiri! Biarpun aku mencoba sekuat tenaga, aku tetap tidak bisa membenarkan tindakan itu.

Tak lama kemudian, keadaan semakin memburuk. Jika dulu yang diperiksa satu orang saja, sekarang tiga orang sekaligus pada saat yang sama. Pada saat subuh jam 4 pagi, seseorang berlari keluar, memanjat pagar, dan dalam waktu 20 detik dia sudah berada di luar kamp penjara, baju dan dagingnya tersobek oleh kawat silet. Seorang penjaga menara penjara mengayunkan senapannya dan membidik orang itu.

“Jangan tembak!” teriak orang itu. “Jangan tembak! Aku tidak mencoba melarikan diri. Aku hanya mencoba menghindari mereka!” Dan dia menunjuk pada para maj’d yang memelototinya dari balik pagar. Para prajurit berlari di luar pintu gerbang, melempar tawanan itu ke tanah, memeriksanya, dan membawanya pergi.

Apakah ini Hamas? Apakah ini Islam?