Tampilkan postingan dengan label PUTRA HAMAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUTRA HAMAS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 April 2010

Mosab Hassan Yousef

Oleh Mosab Hassan Yousef
Dibantu oleh Ron Brackin

Image

Kisah mencekam penuh teror, pengkhianatan, intrik politik, dan pilihan² yang tak terbayangkan.

Image
Mosab Hassan Yousef

Bagi yang tercinta ayahku dan keluargaku yang terluka
Bagi korban² perseteruan Palestina – Israel
Bagi setiap umat manusia yang telah diselamatkan oleh Tuhanku

Wahai keluargaku, aku sangat bangga dengan kalian; hanya Tuhanku saja yang mengetahui segala hal yang telah kalian alami. Aku menyadari bahwa apa yang telah kulakukan menyebabkan luka yang dalam yang mungkin tak akan bisa sembuh di masa hidup ini dan mungkin kalian harus hidup dengan rasa malu untuk selamanya.

Aku bisa saja jadi seorang pahlawan dan membuat masyarakatku bangga akan diriku. Aku tahu jenis pahlawan apa yang mereka inginkan: seorang pejuang yang membaktikan dirinya dan keluarganya bagi kepentingan negara. Jikalau aku terbunuh, maka mereka akan menyampaikan kisah diriku pada generasi mendatang dan mereka akan merasa bangga terhadap diriku untuk selamanya, tapi pada kenyataannya aku bukanlah pahlawan yang mereka harapkan.

Sebaliknya, aku telah jadi pengkhianat di mata bangsaku. Meskipun dulu aku pernah membuat kalian bangga akan diriku, sekarang aku hanya membawa malu saja. Meskipun dulu aku adalah seorang pangeran bagimu, sekarang aku adalah orang asing di negeri orang yang melawan kesepian dan kegelapan.

Aku tahu kalian memandang aku sebagai seorang pengkhianat; tapi mohon untuk mengerti bahwa aku tidak bermaksud berkhianat pada kalian, tapi aku berkhianat pada angan² kalian akan sosok seorang pahlawan. Ketika negara² Timur Tengah – Yahudi dan Arab – mulai mengerti apa yang kumengerti, maka akan timbul perdamaian. Dan jika Tuhanku telah ditolak karena menyelamatkan seluruh dunia dari hukuman neraka, maka aku tidak keberatan ditolak!

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa datang, tapi aku tahu aku tidak merasa takut. Sekarang aku berikan apa yang menolong diriku untuk bisa selamat sampai sekarang: semua rasa bersalah dan rasa malu yang kutanggung selama bertahun-tahun hanyalah bayaran yang kecil saja jika semua ini bisa menyelamatkan bahkan satu nyawa seorang manusia saja.

Berapa banyak orang yang bisa menghargai apa yang telah kulakukan? Tidak banyak. Tapi itu tak jadi masalah. Aku percaya apa yang kulakukan dan aku tetap yakin sampai sekarang, dan keyakinan ini menjadi bahan bakar satu²nya bagiku dalam perjalanan panjang ini. Setiap tetesan darah orang tak berdosa yang berhasil diselamatkan dari kematian memberi harapan bagiku untuk terus berjuang sampai hari akhir.

Aku telah bayar, kau pun telah bayar, tapi tagihan perang dan damai terus berdatangan. Tuhan menyertai kita semua dan memberi apa yang kita butuhkan untuk menanggung beban berat ini.

Bab 1 – Tertangkap

1996

Aku mengemudikan mobil Subaru putihku yang kecil di sudut jalan sempit yang menuju ke jalan bebas hambatan di luar kota Tepi Barat Ramallah. Dengan menginjak pedal rem perlahan, aku mendekati satu pos pemeriksaan yang terdapat di sepanjang jalanan ke dan dari Yerusalem.

“Matikan mesin! Hentikan mobil!” seseorang berteriak dalam bahasa Arab yang kurang baik.

Tanpa peringatan apapun, enam prajurit Israel meloncat keluar dari semak tempat persembunyian dan menghalangi mobilku, setiap orang membawa senapan otomatis, dan setiap senapan ditodongkan langsung pada kepalaku.

Rasa panik mencekik tenggorokanku. Aku hentikan mobil dan melempar kunci mobil ke luar jendela.

“Keluar! Keluar!”

Tanpa menunda lagi, salah seorang prajurit membuka pintu dan melemparkan aku ke tanah berdebu. Aku tidak sempat melindungi wajahku ketika pemukulan dilakukan. Tapi meskipun aku mencoba melindungi mukaku, sepatu² bot prajurit yang berat dengan cepat menemukan target lain: iga, ginjal, punggung, leher, kepala.

Dua dari mereka menyeretku dan memasukkanku ke dalam pos pemeriksaan, di mana aku dipaksa berlutut di belakang barikade yang terbuat dari semen. Tanganku diikat di belakang punggung dengan tali plastik tajam yang diikat terlalu erat. Seseorang lalu menutup mataku dan mendorongku masuk ke dalam sebuah jip dan jatuh ke lantai. Rasa takut bercampur marah kurasakan sewaktu aku bertanya-tanya kemanakah mereka akan membawaku dan berapa lama aku akan berada di sana. Aku hampir mencapai usia 18 tahun dan dua minggu lagi akan menjalani ujian akhir SMA. Apakah yang akan terjadi padaku?

Setelah perjalanan singkat, mobil Jeep itu berhenti. Seorang prajurit menarik diriku keluar dari bagian belakang Jeep dan membuka penutup mataku. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya matahari, aku menyadari bahwa aku berada di Pusat Tentara Ofer. Tempat ini adalah pusat pertahanan militer Israel, dan Ofer merupakan fasilitas militer terbesar dan terketat di seluruh Tepi Barat.

Sewaktu kami berjalan ke bangunan utama, kami melewati beberapa tank bersenjata, yang ditutupi kanvas. Tank raksasa ini selalu membuatku ingin tahu setiap kali melihatnya dari luar daerah militer Israel. Tank² ini tampak seperti batu raksasa yang sangat besar.

Setelah berada di dalam gedung, kami bertemu dengan seorang dokter yang memeriksaku dengan cepat, untuk memastikan apakah aku mampu menanggulangi pemeriksaan keras. Tampaknya aku lulus karena dalam beberapa menit saja tanganku diikat dan mataku ditutup lagi, dan aku lalu didorong kembali masuk Jeep.

Tempatku berbaring kecil sekali, hanya cukup untuk kaki orang. Ketika aku berusaha menggerakkan badanku di tempat kecil itu, seorang prajurit kekar meletakkan sepatu botnya di pinggangku dan menekankan laras senjata M 16-nya pada dadaku. Uap bensin panas yang memenuhi bagian lantai Jeep menyesakkan tenggorokanku. Setiap kali aku berusaha menyesuaikan diri di tempat kecil tersebut, prajurit itu menekankan laras senjatanya lebih dalam ke dadaku.

Tanpa peringatan apapun, rasa sakit menusuk tajam di seluruh tubuhku dan membuat jari² kakiku mengejang kaku. Rasanya bagaikan sebuah roket meledakkan kepalaku. Pukulan di kepala ini datang dari bagian tempat duduk depan, dan aku lalu mengetahui bahwa salah satu prajurit tentunya telah menggunakan popor senapan untuk memukul kepalaku. Sebelum aku mampu melindungi diriku, dia memukulku lagi lebih keras di bagian mata. Aku mencoba menghindar dari jangkauannya tapi prajurit yang menggunakan tubuhku sebagai alas kakinya menarikku ke depan.

“Jangan bergerak atau aku tembak kamu!” bentaknya.

Tapi aku tidak bisa tak bergerak. Setiap kali temannya memukulku, tubuhku terhentak ke belakang dengan sendirinya.

Di bawah kain penutup, mataku mulai membengkak, dan mukaku terasa beku. Aku tidak merasa ada sirkulasi darah di bagian kakiku. Nafasku tersengal-sengal. Aku belum pernah mengalami rasa sakit sehebat itu. Tapi yang lebih buruk daripada rasa sakit adalah rasa takut berada di bawah kekuasaan orang² yang tak mengenal ampun dan tak manusiawi. Pikiranku melayang sewaktu aku berusaha mengerti motivasi para penyiksaku. Aku mengerti bahwa berperang dan membunuh karena rasa benci, amarah, balas dendam, dan bahkan karena terpaksa melakukannya. Tapi aku kan tidak melakukan apapun pada para prajurit ini. Aku bukanlah ancaman bagi mereka. Aku diikat, ditutup mata, dan tidak bersenjata. Apakah yang ada dalam diri mereka sehingga mereka begitu suka menyakitiku? Bahkan binatang yang paling sederhana sekalipun membunuh karena suatu alasan, dan bukan hanya karena kesenangan saja.

Aku memikirkan bagaimana perasaan ibuku jika dia mengetahui aku ditangkap. Karena ayahku sudah berada di penjara Israel, maka akulah satu²nya pria dalam keluargaku. Apakah aku akan dipenjara selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun seperti ayahku? Jika memang itu yang terjadi, apakah ibu kuat kehilangan aku pula? Aku mulai mengerti perasaan ayahku - khawatir akan keluarganya dan merasa sedih sekali membayangkan penderitaan keluarga yang mengkhawatirkan dirinya. Airmataku bergulir membayangkan wajah ibuku.

Aku juga berpikir apakah tahun² di SMA akan berlalu percuma begitu saja. Jika aku dipenjara di Israel, tentunya aku tidak akan bisa ikut ujian akhir SMA bulan depan. Pertanyaan dan jeritan berpacu dalam pikiranku kala pukulan² terus menerjang: Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa yang telah aku lakukan padamu? Aku bukan seorang teroris! Aku hanyalah pemuda biasa saja. Mengapa kau memukuliku seperti ini?

Aku yakin aku pingsan berkali-kali, tapi setiap kali aku siuman, para prajurit masih berada di sana untuk kembali memukuliku. Aku tidak bisa menghindari serangan mereka. Yang dapat kulakukan hanyalah menjerit. Aku merasakan rasa mual dari tenggorakanku dan aku muntah².

Aku merasa sangat sedih sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Apakah ini akhir hidupku? Apakah aku akan mati sebelum hidupku benar² dimulai?

Bab 12 – Nomer 823

1996

Mereka dapat mencium bau kami saat kami datang.

Image
Peta letak Megiddo di Israel.

Image
Mungkin ini penjara Megiddo.

Image

Rambut dan jenggot kami jadi panjang setelah tiga bulan tanpa gunting atau silet pencukur. Baju kami kotor sekali. Dibutuhkan waktu dua minggu untuk menghilangkan bau bekas penjara Maskobiyeh. Tubuh digosok kuat² sekali pun tidak sanggup menghilangkan bau. Hanya waktu yang akhirnya bisa menghilangkannya.

Kebanyakan tawanan awalnya ditempatkan terlebih dulu di mi’var, yang adalah sebuah unit di mana setiap orang diproses sebelum dipindahkan ke kamp penjara yang lebih besar. Akan tetapi, beberapa tawanan dianggap terlalu berbahaya untuk bergabung dengan tawanan² lainnya dan harus tetap tinggal di mi’var selama bertahun-tahun. Orang² ini, sudah bisa ditebak, semuanya adalah anggota Hamas.

Sebagai putra Syeikh Hassan, aku merasa terbiasa dikenal kemana pun aku pergi. Jika ayah adalah raja, maka aku adalah pangeran – pewaris takhta kekuasaan. Dan begitulah aku diperlakukan.

“Kami dengar kau berada di sini sebulan yang lalu. Pamanmu sekarang berada di sini. Dia akan segera mengunjungimu.”

Makan siang disajikan panas² dan mengenyangkan, meskipun tidak seenak makanan yang kumakan ketika dulu bersama para burung. Meskipun begitu aku tetap merasa senang. Sekalipun masih dipenjara, aku merasa lebih bebas. Ketika aku sedang seorang diri, aku memikirkan tentang Shin Bet. Aku telah berjanji pada mereka untuk bekerja bagi mereka, tapi mereka tak memberitahu aku apapun. Mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana mereka akan berkomunikasi denganku atau apa sebenarnya yang dimaksud dengan bekerja sama. Mereka membiarkan aku begitu saja, tanpa ada nasehat apapun tentang bagaimana aku harus berlaku. Aku sangat heran. Aku juga tidak tahu siapa diriku sebenarnya sekarang. Kupikir ada kemungkinan aku telah dijebak.

Tempat mi’var ini dibagi dalam dua asrama yang besar – Ruang Delapan dan Ruang Sembilan – kedua ruang ini penuh dengan ranjang bertingkat. Bangunan asrama² berbentuk huruf L dan setiap bangunan ditempati 20 tawanan. Di sudut L terdapat lapangan olahraga dengan lantai semen yang dicat dan meja ping-pong rusak yang disumbangkan oleh Palang Merah. Kami diperbolehkan berolahraga dua kali sehari.

Tempat tidurku terletak di ujung Ruang Sembilan, dekat kamar mandi. Terdapat dua kamar kecil dan dua tempat mandi. Tempat buang air hanyalah sebuah lubang di lantai di mana kami harus berdiri atau jongkok, lalu setelah selesai buag air, kami siram sendiri kotoran dengan seember air. Ruangan ini panas dan lembab, dan baunya sungguh memuakkan.

Sebenarnya malah seluruh asrama juga begitu keadaannya. Orang² menderita sakit dan batuk²; sebagian malah tidak pernah mandi. Semua tawanan berbau mulut busuk. Asap rokok memenuhi ruangan dan kipas angin lemah tidak berarti apapun. Juga tak ada jendela ventilasi.

Kami dibangunkan setiap jam 4 pagi agar bersiap untuk sholat Fajar. Kami menunggu di antrian dengan handuk kami, masih dalam keadaan mengantuk dan bau. Lalu kami harus melakukan wudu. Untuk memulai membersihkan diri secara Islam sebelum sholat, kami membasuh tangan sampai ke pergelangan tangan, kumur², dan membersihkan lubang hidung dengan air. Kami gosok wajah kami dengan dua tangan dari jidat sampai ke dagu, dan dari kuping satu ke kuping yang lain, membasuh tangan sampai ke sikut, dan membasuh kepala dari jidat sampai ke belakang leher dengan tangan yang basah air. Akhirnya membasahi jari² tangan untuk membersihkan kuping bagian dalam dan luar, seluruh leher, dan membasuh kaki sampai ke pergelangan kaki. Lalu kami ulang semua proses ini dua kali lagi.

Pada jam 4:30 pagi, setelah semua selesai melakukan wudu, seorang imam – yang besar, sangar dengan jenggot lebat – melafalkan adhan. Lalu dia mulai melafalkan Al-Fatihah (Sura pertama Qur’an), dan kami lalu melakukan empat rakat (gerakan berdoa, berdiri, berlutut, dan bersujud).

Kebanyakan tawanan adalah Muslim anggota Hamas atau Jihad Islam, jadi melakukan sholat seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi kami. Tapi tawanan² lain yang sekuler dan komunis juga dipaksa bangun di waktu yang sama, meskipun mereka tidak ikut sholat. Dan tentu saja mereka tidak senang akan hal ini.

Seorang tawanan sudah menjalani setengah dari masa hukuman 15 tahun. Dia muak sekali dengan segala rutinitas Islam, dan dia menghabiskan waktu lama sekali untuk bangun subuh. Beberapa tawanan menepuknya, memukulnya, sambil membentak, “Bangun!” Akhirnya mereka menyiramkan air ke kepalanya. Aku kasihan padanya. Semua proses wudhu, sholat, dan pelafalan Qur’an memakan waktu satu jam. Setelah itu orang² kembali tidur. Tiada seorang pun yang bicara. Sunyi senyap.

Aku selalu tidak bisa tidur kembali, dan biasanya aku tidak tertidur setelah jam 7 pagi. Sewaktu akhirnya aku tertidur, seseorang berteriak, “Adad! Adad!” (Nomer! Nomer!). Ini adalah peringatan bahwa sekarang adalah saatnya melakukan penghitungan kepala.

Kami duduk di tempat tidur kami dengan punggung menghadap prajurit Israel yang menghitung kami, karena dia tak bersenjata. Dia hanya butuh waktu lima menit untuk menghitung kami dan lalu kami boleh tidur lagi.

Jalsa! Jalsa!” jerit emir pada jam 8:30 pagi. Ini adalah saat rapat dua kali sehari yang dilakukan organisasi Hamas dan Jihad Islam. Aku tidak bisa tidur dua jam penuh. Ini sungguh menjengkelkan. Sekali lagi, orang² berbaris ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri menghadiri jalsa jam 9 pagi.

Di jalsa Hamas pertama hari itu, kami belajar aturan membaca Qur’an. Aku sudah tahu akan hal ini dari ayahku, tapi kebanyakan tawanan tidak mengetahuinya. Jalsa kedua hari itu membicarakan tentang Hamas, sikap disiplin di dalam penjara, pengumuman tentang tawanan² yang baru datang, dan kabar tentang kejadian di luar penjara. Tak ada rahasia atau rencana apapun, hanya berita umum saja.

Setelah setiap jalsa, kami seringkali menghabiskan waktu dengan nonton TV di bagian ujung ruangan, berhadapan dengan kamar kecil. Suatu pagi, aku sedang menonton kartun dan lalu sebuah iklan ditayangkan.

GEDEBUG!

Sebuah papan kayu besar jatuh di hadapan layar TV.

Aku meloncat kaget dan melihat sekeliling.

“Ada apa?”

Aku lalu mengetahui bahwa papan itu terikat pada tali besar yang diikatkan pada langit². Di sebelah ruangan tampak seorang tawanan memegang erat² ujung tali itu. Rupanya tugasnya adalah melihat segala yang dianggap haram dan menjatuhkan papan kayu di depan TV agar penonton tidak bisa melihatnya.

“Kenapa kau menjatuhkan papan kayu itu?” tanyaku.

“Untuk melindungi kamu sendiri,” katanya kasar.

“Melindungi? Dari apa?”

“Gadis di iklan itu,” jelasnya. “Gadis itu kan tak pakai jilbab.”

Aku melihat emir. “Apakah dia serius tentang ini?”

“Ya, tentu saja,” kata emir.

“Tapi kami semua punya TV di rumah kami, dan kami tidak melakukan hal seperti ini di rumah. Kenapa musti melakukannya di sini?”

“Berada di penjara membuat orang menghadapi godaan² yang tak lumrah,” jelasnya. “Di sini tidak ada perempuan. Yang mereka tayangkan pada TV bisa menimbulkan masalah dan berakibat buruk bagi mereka. Karena itulah dibuat aturan seperti ini dan beginilah kami menanggulangi masalah itu.”

Tentu saja tidak semua orang setuju akan hal itu. Apa yang boleh atau tak boleh dilihat sangat tergantung dari orang yang memegang tali. Jika orang itu berasal dari Hebron, dia akan menjatuhkan papan untuk menutupi layar TV, bahkan jika yang muncul hanyalah sosok kartun wanita tanpa jilbab. Tapi jika orang itu berasal dari Ramallah, kami bisa nonton lebih bebas. Kami seharusnya bergiliran memegang tali, tapi aku tak mau menyentuh benda edit moderator*) itu.

Setelah makan siang, tiba waktunya untuk melakukan sholat Dhuhr, lalu setelah itu saat tenang. Kebanyakan tawanan tidur siang. Biasanya aku membaca buku. Dan di sore hari, kami diperbolehkan pergi ke lapangan olahraga untuk berjalan-jalan sedikit atau mengobrol dengan tawanan lain.

Hidup di penjara sangatlah membosankan bagi para anggota Hamas. Kami tak boleh bermain kartu. Kebebasan membaca buku dibatasi dan hanya boleh membaca Qur’an dan literatur Islam saja. Organisasi non-Hamas tidak menerapkan aturan sekeras itu.

Saudara sepupuku Yousef akhirnya muncul di suatu sore, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Penjaga² Israel memperbolehkan kami menyimpan alat cukur, dan kami memangkas habis rambut kepalanya untuk menghilangkan bau penjara Moskabiyeh.

Yousef bukanlah anggota Hamas; dia adalah orang sosialis. Dia tidak percaya pada Allâh, tapi percaya akan Tuhan. Dengan begitu, dia lebih cocok jadi anggota Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), DFLP berjuang untuk berdirinya Negara Palestina, dan ini tidak sama dengan tujuan Hamas yang bercita-cita mendirikan Negara Islam.

Beberapa hari setelah Yousef datang, pamanku yakni Ibrahim Abu Salem, datang menjenguk. Dia berada di penahanan administratif sejak dua tahun lalu, meskipun tiada tuduhan resmi yang diajukan padanya. Karena dia dianggap berbahaya bagi keamanan Israel, dia akan terus berada di sana untuk waktu yang lama. Sebagai Hamas VIP (Very Important Person = Orang Sangat Penting), pamanku Ibrahim diijinkan mengunjungi mi’var dan kamp penjara dan dari satu kamp ke kamp yang lain. Maka dia datang berkunjung ke mi’var untuk menengok keponakannya, agar yakin aku baik² saja, dan membawa beberapa baju bagiku – tanda peduli yang sangat bertentangan dengan sifatnya sebagai orang yang dulu suka memukuliku dan tidak peduli pada keluargaku saat ayah sedang dipenjara.

Dengan tinggi hampir mencapai 180 cm, Ibrahim Abu Salem adalah orang yang tinggi besar. Perutnya yang menonjol keluar – tanda kecintaannya pada makanan – membuat dia tampak gembul dan tidak berbahaya. Tapi aku tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pamanku Ibrahim adalah orang yang kejam, mementingkan diri sendiri, pendusta, dan munafik – sangat bertolak belakang dengan ayahku.

Tapi di dalam tembok penjara Megiddo, paman Ibrahim diperlakukan bagaikan seorang raja. Semua tawanan menghormatinya, tidak peduli dari organisasi manapun , karena usianya, kemampuannya mengajar, pekerjaannya di universitas², dan prestasi politik dan akademinya. Biasanya, para pemimpin tawanan memanfaatkan kedatangannya dan memintanya untuk memberi kuliah.

Semua tawanan suka mendengarkan Ibrahim saat dia memberi kuliah. Dia tidak mengajar seperti dosen, tapi lebih sebagai penghibur. Dia suka membuat orang tertawa, dan jika dia mengajar tentang Islam, maka dia menyampaikan ajarannya dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapapun bisa mengerti.

Akan tetapi, hari ini tiada seorang pun yang tertawa. Sebaliknya, semua tawanan duduk bersebelahan dengan diam saat Ibrahim bicara dengan kemarahan berkobar-kobar tentang orang² yang bekerja sama dengan Israel dan bagaimana mereka mempermalukan keluarga mereka dan merupakan musuh orang² Palestina. Dari caranya bicara, aku merasa dia sebenarnya berkata padaku, “Jika kau tahu sesuatu yang belum kau sampaikan padaku, Mosab, katakan padaku sekarang juga.”

Tentu saja aku tetap diam saja. Bahkan andaikata sekalipun Ibrahim curiga akan hubunganku dengan Shin Bet, dia tidak akan berani mengatakannya terus terang pada putra Syeikh Hassan Yousef.

“Jika kau butuh apapun,” katanya padaku sebelum pergi, “beritahu aku saja. Aku akan mencoba agar kau berada dekat denganku.”

Saat itu adalah musim panas 1996. Meskipun aku baru berusia 18 tahun, aku merasa bagaikan telah menjalani beberapa kehidupan dalam waktu beberapa bulan saja. Dua minggu setelah paman datang, seorang wakil tawanan, atau shawish, datang ke Ruangan Sembilan dan memanggil, “Delapan dua tiga!” Aku mendongak terkejut karena mendengar nomerku dipanggil. Lalu dia juga memanggil tiga atau empat nomer lain dan memberitahu kami agar mengumpulkan barang² kami.

Sewaktu kami keluar dari mi’var ke padang gurun, udara panas menerpaku bagaikan napas naga dan membuat kepalaku pusing sejenak. Sejauh mata memandang tak ada lain yang tampak selain ujung² bagian atas tenda coklat. Kami berbaris menuju bagian tenda pertama, bagian kedua, bagian ketiga. Ratusan tawanan datang berlari menuju pagar tinggi berantai untuk melihat tawanan² yang baru datang. Kami tiba di Bagian Lima, dan pintu gerbang terbuka. Lebih dari lima puluh orang mengelilingi, memeluk kami, dan menjabat tangan kami.

Image

Kami dibawa ke bagian tenda administrasi dan ditanyai dari organisasi mana kami berasal. Lalu aku dibawa ke tenda Hamas, di mana emir menerimaku dan menjabat tanganku.

“Selamat datang,” katanya. “Senang berjumpa denganmu. Kami sangat bangga akan kamu. Kami akan menyiapkan tempat tidur bagimu dan memberi beberapa handuk dan barang² lain yang kau butuhkan.” Lalu dia mengatakan lelucon penjara, “Anggaplah seperti rumah sendiri dan nikmati tinggal di sini.”

Setiap bagian penjara terdiri dari 12 tenda. Setiap tenda berisi 20 tempat tidur dan tempat sepatu. Kapasitas maximum setiap bagian adalah 240 tawanan. Bayangkan bingkai empat persegi panjang, dihalangi dengan pagar kawat duri silet. Bagian Lima dibagi dalam kotak². Sebuah tembok yang bagian atasnya diberi kawat duri silet, membagi-bagi Bagian dari utara ke selatan, dan pagar rendah membagi tempat itu dari timur ke barat.

Image
Kawat duri silet.

Kotak bagian Satu dan Two (sebelah kanan dan kiri atas) masing² memiliki tiga buah tenda Hamas. Kotak bagian Tiga (kanan bawah) memiliki empat tenda – masing² untuk Hamas, Fatah, kombinasi DFLP/PFLP, dan Jihad Islam. Dan Kotak bagian Empat (kiri bawah) memiliki dua tenda, satu untuk Fatah, dan satu lagi untuk DFLP/PFLP.

Kotak Empat memiliki sebuah dapur, WC, tempat mandi, dan tempat untuk shawish dan pekerja dapur, dan baskom² untuk wudhu. Kami berbaris di antrean untuk melakukan sholat di lapangan terbuka di Kotak Dua. Tentunya terdapat menara penjaga di setiap sudut. Pintu gerbang utama di Kotak Lima terletak di pagar kawat antara Kotak Tiga dan Empat.

Satu keterangan lagi: pagar dari timur ke barat memiliki pintu² gerbang diantara Kotak Satu dan Tiga dan Dua dan Empat. Pintu² dibiarkan terbuka hampir sepanjang hari, kecuali pada saat penghitungan kepala di mana pintu² ini ditutup agar penjaga bisa menghitung setiap bagian.

Aku ditempatkan di tenda Hamas di ujung atas Kotak bagian Satu, di ranjang ketiga dari kanan. Setelah penghitungan kepala, kami semua duduk² sambil ngobrol, dan lalu terdengar suara, “Barid, ya mujahidin! Barid!” (Surat bagi pejuang kemerdekaan! Surat!).

Suara itu milik sawa’id dari bagian lain, dan semua orang memperhatikannya. Sawa’id adalah petugas keamanan Hamas di dalam penjara, yang membagi-bagikan pesan dari satu bagian ke bagian lainnya. Kata Sawa’id dalam bahasa Arab berarti “tangan² yang melempar.”

Setelah terdengar teriakan itu, dua orang laki berlari ke luar tenda, menjulurkan tangan² mereka di udara dan melihat langit. Bagaikan sudah diatur saja, sebuah bola datang entah dari mana dan jatuh tepat di tangan² yang sudah siap itu. Beginilah cara para pemimpin Hamas di bagian kami menerima perintah² bersandi rahasia dari pemimpin di bagian lain. Setiap organisasi Palestina di penjara menggunakan cara ini untuk berkomunikasi. Masing² organisasi memiliki nama sandi tersendiri, sehingga jika suara diteriakkan, para “penangkap bola” tahu bahwa mereka harus lari ke tempat di mana bola itu akan jatuh.

Bola² ini dibuat dari roti yang diempukkan dengan air. Pesan dimasukkan ke dalamnya dan roti digulung bulat bagaikan bola sebesar bola softball, dikeringkan sampai mengeras. Tentu saja hanya pelempar dan penerima terbaik yang dipilih sebagai “tukang pos.”

Kejadian menarik itu berakhir dengan cepat. Lalu tiba saat makan malam.

Bab 24 - Tahanan yang Dilindungi

Musim Gugur 2002 - Musim Semi 2003

Aku merasa lelah. Aku sudah merasa terlalu lelah karena memainkan berbagai peranan berbeda dalam waktu yang bersamaan. Aku lelah karena harus merubah sifat dan penampilan agar sesuai dengan lingkungan di mana aku berada. Ketika aku bersama ayah dan para pemimpin Hamas lainnya, aku harus berperan sebagai anggota Hamas yang setia. Ketika aku berada bersama Shin Bet, aku harus berperan sebagai mata² Israel. Ketika aku berada di rumah, aku seringkali harus mengambil posisi sebagai ayah dan pelindung saudara²ku. Ketika aku bekerja di kantor, aku harus berperan sebagai karyawan biasa yang merangkap sebagai mahasiswa semester akhir di universitas. Sebentar lagi aku harus menghadapi ujian kuliah, tapi aku tak bisa konsentrasi.

Saat itu adalah akhir bulan September 2002, dan aku mengambil keputusan bahwa sudah saatnya untuk melakukan permainan nomer 2 yang diprakarsai oleh Shin Bet.

“Aku tidak bisa terus-menerus begini,” kataku pada Loai. “Apa yang harus kulakukan? Dikurung beberapa bulan di penjara? Kita bisa saja kan mengatur agar aku menjalani segala prosedur interogasi, dan setelah itu kau bebaskan aku. Lalu aku bisa kembali ke rumah dan menyelesaikan kuliahku. Aku bisa kembali bekerja di USAID dan hidup biasa lagi.”

“Bagaimana dengan ayahmu?”

“Aku tidak akan meninggalkannya sehingga dia bisa terbunuh. Tangkaplah dia juga.”

“Jika itu yang memang kau inginkan, Pemerintah akan dengan senang hati melakukannya, karena akhirnya kita bisa menangkap Hassan Yousef.”

Aku beritahu ibuku di mana ayah bersembunyi, dan aku membiarkan ibu mengunjungi ayah. Lima menit setelah ibu tiba di rumah persembunyian ayah, pasukan keamanan khusus menyerbu sekitar rumah tersebut. Para prajurit berlarian di komplek tetangga, memerintahkan penduduk sipil untuk masuk ke dalam rumah.

Image
Narghile (pipa rokok Turki).

Image
Abdullah Barghouti, ahli perakit bom bunuh diri.

Salah seorang warga “sipil” yang sedang menyedot narghile (pipa rokok Turki) di depan rumahnya, tak lain daripada Abdullah Barghouti, sang master perakit bom bunuh diri. Dia tidak tahu bahwa dia tinggal di rumah bersebelahan dengan rumah rahasia Hassan Yousef. Dan para prajurit IDF juga tidak tahu bahwa mereka baru saja berteriak pada pembantai massal yang paling dicari di Israel.

Semua orang tak mengerti apa yang terjadi. Ayahku tidak tahu bahwa putranya telah menyerahkan dirinya agar bisa melindunginya dari pembunuhan. Dan IDF juga tidak tahu bahwa Shin Bet telah mengetahui di mana Hassan Yousef bersembunyi selama ini dan bahwa beberapa prajurit Israel bahkan makan siang dan tidur di rumah tempat Hassan Yousef bersembunyi.

Seperti biasa, ayah menyerah dengan damai. Dia dan pemimpin² Hamas lainnya mengira bahwa Shin Bet telah mengikuti ibuku ke tempat persembunyian ayah. Tentu saja ibu jadi sedih, tapi dia juga senang karena suaminya akan aman di penjara dan tidak lagi tercantum dalam daftar orang² yang akan dibunuh Israel.

“Kami akan menemuimu nanti malam,” kata Loai padaku melalui telepon setelah ayah ditangkap.

Setelah matahari terbenam, aku duduk di rumahku, melihat ke jendela di mana tampak dua puluh pasukan khusus bergerak cepat dan mengambil posisi di sekitar rumahku. Aku tahu bahwa aku harus mempersiapkan diri diperlakukan kasar. Dua menit kemudian, mobil² Jeep masuk. Lalu sebuah tank. IDF telah menutup daerah itu. Seseorang meloncat ke atap rumah. Lalu terdengar orang memukul keras² pintu rumahku.

“Siapa itu?” kataku pura² tidak tahu.

“IDF! Buka pintu!”

Aku membuka pintu, dan mereka mendorongku ke lantai, dan dengan cepat memeriksa apakah aku bersenjata.

“Apakah ada orang lain di sini?”

“Tidak.”

Aku tak tahu mengapa mereka bertanya begitu. Mereka lalu mulai menendangi pintu² kamar sampai terbuka dan memeriksa setiap kamar di rumah. Begitu aku dibawa keluar, aku bertatapan muka dengan temanku Loai.

“Kemana saja kau?” Loai bertanya kasar padaku, seakan aku benar² buronan. “Kami telah mencarimu di mana². Apakah kau ingin ditembak mati? Kau tentunya sudah gila melarikan diri dari rumah ayahmu tahun lalu.”

Sekumpulan prajurit IDF mengamati dengan mata marah.

“Kami sudah menangkap ayahmu,” kata Loai, “dan akhirnya kami bisa menangkapmu pula! Kita nanti lihat apa yang akan kau katakan saat interogasi!”

Dua orang prajurit melemparkan aku ke dalam Jeep. Loai datang, dan merunduk agar orang tidak bisa mendengarkan apa yang kami bicarakan, dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai kawan? Apakah kau baik² saja? Borgolnya terlalu ketat?”

“Semua baik² saja,” kataku. “Jangan biarkan aku berada di sini terlalu lama, dan awasi agar prajurit² tidak memukuliku di sepanjang perjalanan.”

“Jangan khawatir. Seorang agen kami akan berada bersamamu.”

Mereka membawaku ke Pusat Militer Ofer, di mana kami duduk di ruangan yang sama, yang dulu sering kami gunakan untuk rapat. Kami duduk bersama selama dua jam untuk “interogasi,” sambil minum kopi dan membicarakan keadaan terakhir.

“Kami akan membawamu ke Maskobiyeh,” kata Loai, “hanya untuk waktu singkat saja. Kita akan berpura-pura kau telah menjalani interogasi yang berat. Ayahmu telah berada di sana, dan kau akan bertemu dengannya. Dia tidak akan ditanyai atau disiksa. Setelah itu kami akan membawamu ke penjara biasa. Kau akan berada di sana selama beberapa bulan, dan setelah itu, kami akan minta perpanjangan penjara bagimu selama tiga bulan, karena siapapun dengan status seperti dirimu tentunya telah diduga akan berada cukup lama di penjara.”

Ketika aku melihat para interogator, bahkan yang dulu menyiksaku ketika aku pertamakali dibawa ke tempat ini, aku heran karena aku tidak merasa benci sama sekali pada orang² ini. Satu²nya cara untuk bisa menerangkan perasaanku hanyalah melalui ayat berikut: Ibrani 4:12 berkata bahwa “Perkataan Tuhan adalah perkataan yang hidup dan kuat; lebih tajam dari pedang bermata dua. Perkataan itu menusuk sampai ke batas antara jiwa dan roh; sampai ke batas antara sendi-sendi dan tulang sumsum, sehingga mengetahui sedalam-dalamnya pikiran dan niat hati manusia.” Aku telah membaca dan merenungkan ayat ini berkali-kali, begitu juga dengan perintah Yesus untuk memaafkan musuhmu dan mencintai mereka yang menindasmu. Meskipun aku belum bisa menerima Yesus sebagai Tuhan, perkataannya terasa hidup, aktif, dan bekerja dalam diriku. Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa melihat manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai orang Yahudi atau Arab, tawanan atau interogator. Bahkan kebencian yang dulu mendorongku untuk membeli senjata dan merencanakan pembunuhan atas orang² Israel telah diganti dengan rasa kasih yang tak kumengerti.

Aku dimasukkan ke dalam sel penjara seorang diri selama dua minggu. Jika teman² Shin Bet-ku sedang tidak sibuk memeriksa tawanan, mereka mengunjungiku di sel penjara sekali atau dua kali sehari untuk sekedar mengobrol dan menanyakan keadaanku. Aku diberi makan dengan baik, tidak dikerudungi dengan tutup kepala yang bau, tak usah bertemu dengan penjaga penjara yang seperti kera besar, tak ada lagi lagu Leonard Cohen (meskipun nantinya dia jadi penyanyi favoritku - aneh, ya?). Di Tepi Barat tersebar berita bahwa aku benar² tangguh di penjara, karena tidak mengatakan informasi apapun meskipun disiksa berat oleh Israel.

Beberapa hari setelah aku dimasukkan ke penjara, aku dipindahkan ke sel penjara ayahku. Wajah ayah tampak sangat lega saat dia memelukku. Dia melihat wajahku dan tersenyum.

“Aku mengikutimu,” kataku sambil tertawa. “Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Ada dua orang lain dalam sel tersebut, dan kami ngobrol dengan gembira bersama. Secara jujur aku mengakui bahwa aku merasa sangat senang melihat ayahku aman berada di penjara. Tiada usaha bunuh atau tiada misil yang akan menyerang dari langit.

Kadangkala ketika ayah membacakan Qur’an bagi kami, aku senang melihat padanya dan mendengarkan suaranya yang indah. Kuingat betapa lembutnya dia pada kami anak²nya ketika kami masih kecil. Dia tidak pernah memaksa kami bangun pagi untuk melakukan sholat fajar, tapi kami semua melakukannya karena kami ingin membuatnya bangga. Dia telah memberikan hidupnya bagi Allâh sejak masih sangat muda, dan meneruskan ajarannya kepada kami anak²nya.

Sekarang aku berpikir: Ayahku terkasih, aku sangat senang bisa duduk bersamamu. Aku tahu kau tidak mau berada di penjara saat ini, tapi jika kau tidak berada di sini, tubuhmu yang hancur berantakan mungkin sudah berada di dalam kantung plastik kecil di suatu tempat. Kadangkala dia mendongak dan melihatku tersenyum padanya dengan rasa sayang dan hormat. Dia tidak mengerti apa pikiranku, dan aku pun tidak bisa menjelaskan padanya.

Ketika para penjaga akhirnya datang untuk memindahkanku ke penjara biasa, ayah dan aku berpelukan erat. Dia tampak ringkih dalam pelukanku, tapi aku tahu betapa kuatnya dia. Kami menjadi begitu dekat selama beberapa hari terakhir, sehingga sukar untuk berpisah. Aku bahkan merasa sedih berpisah dengan teman² Shin Bet-ku. Hubungan kami selama bertahun-tahun telah berkembang menjadi sangat amat akrab. Aku melihat wajah² mereka dan berharap mereka mengetahui bahwa aku sangat menghargai mereka. Mereka menatapku kembali dengan rasa sedih. Mereka tahu bahwa perjalananku berikut tidak akan semudah di tempat ini.

Ekspresi wajah para prajurit IDF yang memborgolku untuk dibawa ke penjara lain sangatlah berbeda dengan ekspresi wajah para temanku. Bagi prajurit IDF, aku adalah teroris yang pernah lepas dari buruan mereka, sehingga membuat mereka malu dan tampak bodoh. Kali ini aku dibawa ke Penjara Ofer, yang merupakan bagian dari pusat militer di mana aku dulu sering rapat dengan Shin Bet.

Jenggotku tampak panjang dan tebal seperti jenggot para tawanan lainnya. Aku bergabung bersama tawanan lain dan melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Ketika waktu sholat tiba, aku bersujud, bersimpuh, dan berdoa, tapi tidak lagi pada Allâh. Aku sekarang berdoa pada Pencipta Alam Semesta. Aku semakin menjauh dari Islam. Suatu hari aku menemukan Alkitab berbahasa Arab di bagian agama di perpustakaan penjara. Alkitab ini lengkap, dan tidak hanya Perjanjian Baru saja. Tampaknya tiada seorang pun yang pernah menyentuhnya. Aku berani bertaruh bahwa tiada yang tahu Alkitab ini berada di situ. Sungguh pemberian besar dari Tuhan! Aku membacanya berulangkali.

Kadang² seseorang datang padaku dan menanyakan dengan sopan apa yang sedang kulakukan. Aku jelaskan padanya bahwa aku sedang belajar sejarah dan karena Alkitab adalah buku kuno, maka buku itu mengandung keterangan jaman kuno. Tidak hanya itu, tapi ajarannya juga sangat baik, kataku, dan aku percaya bahwa setiap Muslim harus membacanya pula. Para tawanan biasanya tidak keberatan dengan jawabanku. Mereka hanya tampak jengkel ketika bulan Ramadan, karena tampaknya aku lebih banyak membaca Alkitab daripada Qur’an.

Kegiatan Belajar Alkitab yang sering kukunjungi di Yerusalem Barat terbuka bagi siapapun - orang Kristen, Muslim, Yahudi, atheis, pokoknya dari golongan manapun. Melalui kelompok ini, aku mendapat kesempatan untuk bisa duduk bersama dengan orang² Yahudi yang datang dengan tujuan yang sama denganku: untuk mempelajari agama Kristen dan mengenal Yesus. Sungguh merupakan pengalaman menarik bagiku sebagai seorang Muslim Palestina untuk belajar tentang Yesus bersama dengan seorang Yahudi Israel.

Dari kelompok ini, aku berkenalan akrab dengan pria Yahudi bernama Amnon. Dia telah menikah dan punya dua anak yang cantik. Dia sangat cerdas dan mahir berbicara dalam beberapa bahasa. Istrinya adalah orang Kristen dan telah mendorongnya sejak lama untuk dibaptis. Akhirnya, Amnon bersedia melakukan itu. Kelompok itu berkumpul bersama di suatu petang untuk menyaksikan upacara baptisnya di tempat mandi milik pendeta. Ketika aku datang, Amnon telah selesai membaca suatu ayat dan mulai menangis keras².

Dia tahu ketika dia mempersilakan dirinya dibaptis, dia tidak hanya menyatakan persekutuan dengan Yesus Kristus, tapi dia juga telah bercerai dengan budaya Yudaismenya. Dia telah memalingkan tubuh dari agama ayahnya, seorang profesor di Universitas Ibrani. Dia telah meninggalkan tradisi agama masyarakat Yahudi dan mempertaruhkan masa depannya.

Tak lama setelah itu, Amnon menerima surat perintah bahwa dia harus bergabung bersama IDF. Di Israel, semua warga non-Arab, laki atau perempuan, di atas usia 18 tahun diwajibkan ikut dalam militer - pria selama tiga tahun, dan wanita selama dua tahun. Tapi Amnon telah melihat banyak pembantaian di pos penjagaan. Dia merasa bahwa sebagai orang Kristen, dia tidak mau ditempatkan di tempat itu, karena kemungkinan akan menanggung resiko membunuh warga sipil tak bersenjata. Dia juga tak mau mengenakan seragam militer dan pergi ke Tepi Barat.

“Bahkan jikalau pun aku bisa melakukan tugasku dengan menembak anak yang melempar batu di kakinya dan bukan di kepalanya, aku tetap tak mau melakukan itu. Aku kan disuruh untuk mengasihi musuhku,” begitu penjelasannya.

Surat perintah kedua datang. Lalu surat perintah ketiga.

Ketika dia tetap saja tak mau melakukan tugas wajib militer, Amnon ditangkap dan dipenjara. Aku tidak tahu bahwa selama aku berada di penjara Ofer, Amnon pun dipenjara di situ, di bagian penjara bagi orang² Yahudi. Dia dipenjara karena dia tidak mau bekerja bagi Israel; aku dipenjara karena aku setuju untuk bekerja bagi Israel. Aku sedang mencoba untuk melindungi orang² Yahudi; dia sedang mencoba melindungi orang² Palestina.

Aku tidak beranggapan bahwa semua orang di Israel dan Palestina harus jadi orang Kristen agar bisa menghentikan pertumpahan darah. Tapi kupikir, jika saja kita memiliki 1.000 Amnon di dalam masyarakat Yahudi dan 1.000 Mosab di dalam masyarakat Palestina, maka akan terjadi perubahan besar. Dan jika jumlahnya lebih besar lagi ... siapa tahu kemungkinan ini bisa terjadi?

Dua bulan setelah tiba di Ofer, aku dibawa ke pengadilan, di mana tak seorang pun mengetahui siapa diriku - hakim dan jaksa penuntut tidak tahu, dan pengacaraku sendiri juga tidak tahu.

Di pengadilan, Shin Bet bersaksi bahwa aku adalah seorang teroris yang berbahaya dan mereka meminta aku dipenjara lebih lama lagi. Pak Hakim setuju dan menetapkan aku harus dipenjara selama enam bulan lagi di penjara lain. Lagi² aku ditransfer.

Image
Letak penjara Ktzi'ot di padang pasir Negev, dekat perbatasan dengan Mesir.

Image
Penjara Ktzi'ot dari atas.

Image
Penjara Ktzi'ot.

Setelah melakukan perjalanan pakai mobil selama lima jam di gurun pasir Negev, akhirnya mobil berhenti dekat pusat nuklir Dimona. Lalu aku melihat tenda penjara Ktzi’ot, di mana kau meleleh di musim panas dan membeku di musim dingin.

“Apa organisasimu?”

“Hamas.”

Ya, aku masih mengaku sebagai bagian dari Hamas, tapi aku tidak lagi seperti tawanan yang lain.
Hamas masih merupakan organisasi mayoritas. Tapi sejak dimulainya Intifada Kedua, Fatah juga berkembang dengan pesat, dan masing² organisasi memiliki jumlah tenda yang hampir sama banyaknya. Aku sudah lelah berpura-pura, dan iman baruku juga melarangku untuk berdusta. Agar aman, aku tidak banyak bergaul dengan siapapun dan menyendiri saja selama aku berada di situ.

Ktzi’ot adalah tempat terasing yang masih liar. Di malam hari terdengar suara angin bercampur dengan lolongan srigala, hyena, dan macan tutul. Aku telah mendengar cerita bahwa beberapa tawanan bisa melarikan diri dari Ktzi’ot, tapi tak satu pun selamat melalui gurun pasir. Musim dingin lebih buruk daripada musim panas - udara sangat dingin membeku, salju yang beterbangan, dan hanya kanvas tenda saja yang melindungi kami dari udara luar. Setiap tenda memiliki kain penangkal lembab di langit² tenda. Tapi sebagian tawanan menyobek kain itu untuk memakainya sebagai gorden prifasi di sekitar tempat tidurnya. Udara lembab dari nafas kami seharusnya tertahan pada kain tersebut. Tapi yang terjadi adalah udara lembab itu menguap dan menempel pada bagian atas kemah menjadi cairan air liur yang berkumpul sampai terlalu berat dan lalu menetes bagaikan hujan pada kami di sepanjang malam ketika sedang tidur.

Orang² Israel menyebarkan begitu banyak papan² berlem penangkap tikus di seluruh kamp tawanan untuk mengontrol populasi tikus. Di suatu pagi yang sangat dingin, ketika semua orang masih tidur dan aku sedang membaca Alkitab, terdengar suara mencicit. Aku menengok ke bawah tempat tidurku dan melihat seekor tikus tertempel di papan lem. Yang mengejutkan aku, di situ terdapat seekor tikus lain yang mencoba menyelamatkan tikus yang terperangkap sambil berusaha tidak menginjak lem. Apakah tikus lain itu pasangannya atau temannya? Aku tak tahu. Aku melihat selama sekitar setengah jam bagaimana seekor binatang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan binatang lain. Aku sangat terharu sehingga aku bebaskan keduanya.

Di penjara, bahan bacaan terbatas pada Qur’an dan pelajaran tentang Qur’an saja. Aku hanya punya dua buku berbahasa Inggris yang diselundupkan temanku melalui pengacaraku. Aku sangat berterimakasih mempunyai bahan bacaan yang memperkuat kemampuan bahasa Inggrisku, tapi sebentar kemudian buku itu mulai lapuk karena terlalu sering kubaca. Suatu hari, ketika aku sedang berjalan seorang diri, aku melihat dua tawanan sedang membuat teh. Di sebelah mereka terdapat sebuah kotak kayu besar berisi novel² yang dikirim oleh Palang Merah. Dan kedua orang ini menyobeki halaman buku² untuk dijadikan bahan bakar api! Aku sungguh tak tahan melihatnya. Aku dorong kotak kayu itu menjauh dari mereka dan mulai mengambili buku² tersebut. Mereka mereka aku menginginkan buku² itu untuk membuat teh bagi diriku.

“Apakah kalian gila?” tanyaku pada mereka. “Aku butuh waktu sangat lama untuk bisa mendapatkan dua buku bahasa Inggris sehingga aku bisa membacanya, dan sekarang kau bikin teh dengan buku² ini!”

“Itu buku² Kristen,” kata mereka.

“Ini bukan buku² Kristen,” kataku pada mereka. “Ini buku² New York Times bestsellers! Aku yakin buku² ini tidak mengatakan apapun yang menentang Islam. Ini hanyalah buku² fiksi tentang pengalaman manusia.”

Mereka mungkin mengira ada yang salah terhadap putra Hassan Yousef. Dia tampak sangat diam, suka menyendiri, dan membaca. Tiba² saja sekarang dia ngamuk gara² sekotak buku. Jika bukan karena ayahku, mungkin mereka sudah akan berkelahi denganku untuk mempertahankan bahan bakar mereka. Tapi mereka membiarkan aku mengambil novel² tersebut, dan aku kembali ke tempat tidurku dengan kotak besar penuh buku. Aku tumpuk buku² ini di sekitarku dan bergelimangan dalam buku² tersebut. Aku tak peduli apa kata orang. Hatiku bernyanyi dan memuji Tuhan karena menyediakan bagiku buku bacaan sewaktu aku mencoba menghabiskan waktu di tempat ini.

Aku membaca enam belas jam sehari sampai mataku jadi lemah karena penerangan di penjara yang kurang baik. Selama empat bulan di Ktzi’ot, aku menghafalkan empat ribu perbendaharaan kata bahasa Inggris.

Ketika aku berada di sana, aku mengalami dua kali kekacauan di penjara, jauh lebih parah daripada yang pernah kualami di Megiddo. Tapi Tuhan menyelamatkan diriku dari dua malapetaka tersebut. Sebenarnya aku merasakan kehadiran Tuhan jauh lebih kuat di penjara tersebut daripada di lain tempat. Aku belum mengenal Yesus sebagai sang Pencipta, tapi aku jelas telah belajar untuk mengasihi Tuhan sang Bapa.

[center]***************[/center]

Pada tanggal 2 April, 2003 – sewaktu tentara Sekutu menyerang Baghdad – aku dibebaskan. Aku dianggap sebagai pemimpin Hamas yang dihormati, teroris berpengalaman, dan buronan licin. Aku telah ditahan dan sekarang bebas. Resiko ketahuan sebagai mata² juga telah sangat berkurang, dan ayahku masih hidup di tempat aman.

Sekali lagi, aku bisa dengan bebas berjalan-jalan di Ramallah. Aku tidak lagi harus bersembunyi sebagai buronan. Aku bisa jadi diriku lagi, bisa menelepon ibuku; dan lalu menelepon Loai.

“Selamat datang kembali, Pangeran Hijau,” katanya. “Kami sangat rindu padamu. Banyak yang terjadi sewaktu kau pergi, dan kami tak tahu harus berbuat apa tanpa kau.”

Beberapa hari setelah aku keluar dari penjara, aku bertemu Loai dan teman² baik Israelku. Mereka hanya punya satu laporan saja untuk disampaikan, tapi ini adalah laporan yang sangat penting.

Di bulan Maret, Abdullah Barghouti telah diketahui persembunyiannya dan ditangkap. Setelah itu, pembuat bom dari Kuwait ini diadili di pengadilan militer karena telah membunuh enam puluh enam orang dan melukai sekitar lima ratus orang. Aku tahu jumlah korban lebih dari itu, tapi hanya itulah yang bisa kami buktikan. Barghouti awalnya dihukum enam puluh tujuh kali hukuman seumur hidup – satu untuk setiap korban pembunuhannya dan satu ekstra bagi semua korban yang terluka. Sewaktu mendengar ini, dia tidak menunjukkan rasa sesal sedikit pun, menyalahkan Israel, dan hanya menyesal karena tidak punya kesempatan untuk membunuh orang² Israel lagi.

“Teror pembunuhan membabi-buta yang dilakukan pihak tertuduh merupakan satu dari pembunuhan berdarah yang paling keji dalam sejarah negara ini,” kata Hakim. [12] Barghouti mengamuk, mengancam untuk membunuh Hakim dan akan mengajar semua anggota Hamas yang dipenjara bagaimana cara membuat bom. Karena ancamannya itu, dia lalu ditempatkan di sel penjara terisolasi seorang diri tanpa kontak dengan tawanan lain. Sementara itu, Ibrahim Hamed, sahabatku Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya masih belum ditemukan.
[12] Associated Press, “Pembuat Bom Palestina Dihukum 67 Kali Seumur Hidup,” MSNBC, 30 November, 2004, http://www.msnbc.msn.com/id/6625081/.

Di bulan Oktober, proyek USAID-ku telah selesai, dan aku tidak bekerja lagi bagi mereka. Maka aku memusatkan perhatian pada tugasku untuk Shin Bet dengan mengumpulkan semua keterangan sebaik mungkin.

Di suatu pagi, dua bulan kemudian, Loai menelepon.

“Kami telah menemukan Saleh.”

Bab 27 – Selamat Tinggal

2005-2007

“Ada apa?” tanya ayahku ketika melihatku menangis.

Ketika aku tidak mengatakan apapun, dia mengajakku memasak makan malam untuk ibu dan saudara² perempuanku. Ayah dan aku sudah menjadi begitu dekat selama bertahun-tahun terakhir, dan dia mengerti bahwa aku kadang² harus menyelesaikan masalahku seorang diri saja.

Tapi ketika aku mempersiapkan makanan bersamanya, hatiku bertambah hancur membayangkan bahwa ini mungkin jam² terakhir kami bisa bersama untuk jangka waktu yang lama di masa depan. Aku mengambil keputusan agar dia tidak ditangkap seorang diri saja.

Setelah makan malam, aku menelepon Loai.

Hari itu tanggal 25 September, 2005. Aku mendaki lembah² Ramallah untuk mencapai tempat favoritku, dimana aku sering berdoa dan membaca Alkitab. Aku berdoa lebih lama lagi, menangis lagi, dan meminta belas kasih Tuhan bagiku dan keluargaku. Ketika aku pulang, aku duduk dan menunggu. Ayahku yang tak mengetahui apa yang akan terjadi, telah tidur. Tak lama kemudian setelah jam 12 malam, pasukan keamanan Israel datang.

Mereka membawa kami ke Penjara Ofer, dimana kami digiring masuk ke aula besar dan disatukan bersama ratusan tawanan lainnya yang diciduk dari seluruh kota. Kali ini mereka juga menangkap saudara² lakiku Oways dan Mohammad. Loai memberitahuku diam² bahwa mereka berdua diduga terlibat dalam kasus pembunuhan. Salah seorang teman sekolah mereka telah menculik, menyiksa, dan membunuh orang Israel, dan Shin Bet telah menyadap panggilan telepon yang dilakukan oleh pembunuh kepada Oways beberapa hari sebelumnya. Mohammad akan dibebaskan beberapa hari kemudian. Oways dipenjara selama empat bulan sebelum akhirnya dinyatakan tidak terlibat dalam kasus pembunuhan ini.

Kami duduk di atas lutut kami di aula tersebut selama sepuluh jam dengan tangan diborgol di belakang tubuh. Aku diam² berterima kasih pada Tuhan karena seseorang memberi sebuah kursi pada ayah, dan aku melihat dia diperlakukan dengan hormat.

Aku dihukum tiga bulan di penjara administratif. Teman² Kristenku memberiku sebuah Alkitab, dan aku menjalani masa hukuman sambil mempelajari Alkitab. Aku dibebaskan di hari Natal 2005. Ayahku masih belum bebas. Sampai saat aku menulis buku ini, dia masih berada di penjara.

Pemilu Parlemen akan segera berlangsung, dan setiap pemimpin Hamas ingin berkuasa. Mereka masih tetap memuakkan bagiku. Mereka bisa berjalan-jalan dengan bebasnya, sedangkan satu²nya orang yang mampu memimpin masyarakat malahan ditahan di belakang pagar berkawat silet. Setelah kami ditangkap, ayah enggan berpartisipasi dalam pemilu. Dia meminta aku untuk menyampaikan pesannya kepada Mohammad Daraghmeh, wartawan pengamat politik bagi Associated Press dan teman baiknya.

Kabar bahwa ayah tidak ikut Pemilu tersebar dua jam kemudian, dan teleponku mulai berdering. Para pemimpin Hamas mencoba menghubungi ayah di penjara, tapi dia tak mau bicara dengan mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya mereka padaku. “Ini sungguh celaka! Kami akan kalah pemilu jika ayahmu tidak bersedia mencalonkan diri jadi pemimpin, dan ini akan tampak seakan dia tidak merestui seluruh proses pemilu!”

“Jika dia tidak mau ikut pemilu,” kataku pada mereka, “maka kalian harus menghormati keputusannya.”

Image
Ismail Haniyah, tokoh penting Hamas dan perdana menteri PA yang baru.

Lalu datang panggilan telepon dari Ismail Haniyah, yang merupakan tokoh penting Hamas dan akan jadi perdana menteri PA yang baru.

“Mosab, sebagai pemimpin gerakan, aku meminta kau untuk mengatur acara jumpa press dan mengumumkan bahwa ayahmu masih tetap berperanan penting dalam Hamas. Katakan pada mereka bahwa laporan AP itu salah.”

Sekarang mereka minta aku berdusta. Apakah mereka lupa bahwa Islam melarang untuk berbohong pada sesama Muslim, atau mereka pikir hal itu boleh² saja karena politik tak mengenal agama?

“Aku tak bisa melakukan itu,” kataku padanya. “Aku menghormati kau, tapi aku lebih menghormati ayah dan kejujuranku.” Aku menutup telepon.

Tiga puluh menit kemudian, aku menerima ancaman kematian. “Buat jumpa press sekarang juga,” begitu kata penelepon, “atau kami akan bunuh kamu!”

“Kalau begitu, silakan datang dan bunuh aku.”

Aku menutup telepon dan menelepon Loai. Beberapa jam kemudian, pria yang mengancam ini sudah ditangkap.

Aku tidak begitu peduli dengan ancaman² mati. Tapi ketika ayah mendengar akan hal itu, dia menelepon Daraghmeh dan mengatakan padanya bahwa dia akan mencalonkan diri dalam pemilu. Lalu dia mengatakan padaku untuk bersikap tenang dan menunggu saatnya dia dibebaskan. Dia akan berurusan dengan Hamas, begitu penjelasannya padaku.

Tentu saja ayah tidak bisa kampanye pemilu lewat penjara. Tapi dia tak perlu melakukan itu. Hamas memajang wajahnya di mana², sebagai bujukan agar orang² mencoblos Hamas dalam pemilu. Saat persiapan pemilu berlangsung, Syeikh Hassan Yousef digiring masuk ke dalam parlemen sambil membawa banyak orang lain bersamanya bagaikan kotoran² dalam rambut singa.

Aku menjual bagian kepemilikan perusahaanku Electric Computer Systems kepada rekan bisnisku karena aku merasakan banyak perubahan yang akan terjadi dengan hidupku.

Siapakah aku sebenarnya? Masa depan apakah yang akan kumiliki jika keadaan tetap berlangsung seperti ini?

Usiaku telah mencapai dua puluh tujuh tahun, tapi aku tidak bisa pacaran. Gadis Kristen akan takut dengan reputasiku sebagai putra pemimpin Hamas. Gadis Muslim juga tak akan tertarik pada pria Kristen Arab. Dan mana ada gadis Yahudi yang mau pacaran dengan putra Hassan Yousef? Bahkan jikalau sekiranya ada gadis yang bersedia pergi keluar bersamaku, apakah yang akan kami bicarakan? Apakah aku bisa bebas membagi pengalaman hidupku? Hidup seperti apakah ini? Sebenarnya untuk siapakah aku berkorban selama ini? Palestina? Israel? Perdamaian?

Apa yang telah kucapai sebagai mata² Shin Bet? Apakah keadaan masyarakatku jadi membaik? Apakah pertumpahan darah berhenti? Apakah ayah berada di rumah bersama keluarganya? Apakah Israel lebih aman? Apakah aku telah menjadi contoh yang lebih baik bagi saudara²ku? Aku merasa aku telah mengorbankan sepertiga hidup untuk hal yang percuma, “semuanya sia-sia seperti usaha mengejar angin,” begitu kata Raja Salomo di Pengkhotbah 4:16.

Aku bahkan tidak bisa menyampaikan apa yang telah kupelajari, karena posisiku sekarang. Siapa yang akan percaya padaku?

Aku menelepon Loai. “Aku tak bisa bekerja bagimu lagi.”

“Mengapa? Apa yang terjadi?”

“Tak ada masalah. Aku mencintai kalian semua. Dan aku suka bekerja sebagai mata². Kupikir aku malah jadi ketagihan melakukan pekerjaan itu. Tapi kita tidak mencapai hasil apapun. Kita berperang dalam perang yang tidak bisa dimenangkan melalui penangkapan, interogasi, dan pembunuhan. Musuh kita sebenarnya adalah pandangan ideologi, dan ideologi tidak peduli akan serangan dan jam malam. Kita tidak bisa menghancurkan ideologi melalui tembakan Merkava. Kau bukan masalah bagi kami, dan kami pun bukan masalah bagimu. Kita semua bagaikan tikus² yang terperangkap dalam jaringan jalan yang ruwet. Aku tidak bisa lagi melakukan hal ini. Waktuku sudah selesai.”

Aku tahu ini merupakan pukulan berat bagi Shin Bet. Kami sedang berada di tengah peperangan.

“Baiklah,” kata Loai. “Aku akan menyampaikan ini pada pemimpin dan tunggu apa yang mereka katakan.”

Ketika kami bertemu lagi, dia berkata, “Inilah tawaran pemimpin kami bagimu. Israel memiliki perusahaan komunikasi yang besar. Kami akan memberimu semua uang yang kau butuhkan untuk mendirikan perusahaan serupa yang dulu kau miliki di Palestina. Ini adalah kesempatan besar dan akan membuatmu aman seumur hidupmu.”

“Kau tidak mengerti. Masalahku bukanlah masalah uang. Masalahku adalah aku tidak mencapai apapun.”

“Orang² di sini membutuhkanmu, Mosab.”

“Aku akan menemukan cara lain untuk menolong mereka, tapi aku tidak bisa menolong mereka dengan melakukan hal yang sama. Bahkan Shin Bet sendiri juga tidak tahu harus mengarah ke mana.”

“Lalu apa dong yang kau inginkan?”

“Aku ingin meninggalkan negara ini.”

Dia menyampaikan pembicaraan kami dengan atasannya. Kami bolak-balik seperti itu, sang pemimpin bersikeras aku harus tetap tinggal, sedangkan aku bersikeras ingin pergi.

“Baiklah,” kata mereka. “Kami akan memperbolehkan kau pergi ke Eropa selama beberapa bulan, mungkin barang setahun, tapi kau harus berjanji untuk kembali.”

“Aku tak mau pergi ke Eropa. Aku ingin pergi ke Amerika Serikat. Aku punya beberapa teman di sana. Mungkin aku akan kembali dalam waktu setahun, dua tahun, atau lima tahun. Aku tak tahu. Yang kutahu adalah sekarang aku butuh saat jeda.”

“Pergi ke Amerika sih susah bagimu. Di sini kau punya uang, kedudukan, dan perlindungan dari berbagai pihak. Kau telah punya reputasi terkenal, membangun perusahaan yang menguntungkan, dan hidup nyaman. Apakah kau tahu bagaimana hidupmu di AS? Kau akan jadi sangat kecil dan tak punya pengaruh apapun.”

Aku katakan pada mereka bahwa aku tak peduli andaikata sekalipun aku harus bekerja sebagai pencuci piring di sana. Dan ketika aku terus bersikeras, mereka menetapkan keputusan tegas.

“Tidak,” kata mereka. “Tidak boleh ke Amerika Serikat. Hanya boleh ke Eropa dan hanya untuk jangka waktu singkat saja. Pergilah dan nikmati hidupmu. Kami akan tetap membayar gajimu. Silakan pergi dan bersenang-senang. Nikmati waktu jedamu. Lalu kembali ke sini.”

“Baiklah,” kataku akhirnya. “Aku akan pulang. Aku tak mau melakukan apapun bagi kalian. Aku tak akan meninggalkan rumah karena aku tak mau kebetulan melihat pembom bunuh diri dan harus melaporkan hal itu pada kalian. Jangan meneleponku lagi. Aku tak bekerja lagi bagi kalian.”

Aku kembali pulang ke rumah orangtuaku dan mematikan ponselku. Aku membiarkan jenggotku tumbuh panjang dan tebal. Ibuku jadi sangat khawatir melihatku, dan dia sering menjenguk ke kamarku untuk melihat keadaanku sambil bertanya apakah semuanya baik² saja.

Dari hari ke hari, aku membaca Alkitab, mendengarkan musik, menonton TV, memikirkan semua yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, dan bergulat dengan rasa depresiku.

Pada akhir bulan ketiga, ibuku mengatakan aku menerima telepon dari seseorang. Aku katakan pada ibu bahwa aku tak mau bicara dengan siapapun. Tapi ibu berkata penelepon mengatakan hal ini sangat penting, dan dia adalah teman lama yang juga mengenal ayahku.

Aku turun tangga dan mengangkat gagang telepon. Ternyata dia adalah salah seorang dari Shin Bet.

“Kami ingin bertemu denganmu,” katanya. “Ini sangat penting. Kami punya kabar baik bagimu.”

Aku lalu menemui mereka dalam rapat. Karena aku tidak mau lagi bekerja bagi mereka, maka mereka pun tidak mendapatkan keuntungan apapun dari keadaan ini. Mereka menyadari bahwa aku benar² ingin berhenti bekerja bagi mereka.

“Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi ke Amerika Serikat, tapi hanya untuk beberapa bulan saja, dan kau harus berjanji untuk kembali.”

“Aku tak mengerti mengapa kau bersikeras meminta sesuatu yang kau pasti tak akan dapatkan,” kataku pada mereka dengan tenang tapi tegas.

Akhirnya mereka berkata, “Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi dengan dua persyaratan. Pertama, kau harus menyewa pengacara dan mengajukan surat permohonan pada kami bahwa kau ingin meninggalkan negeri ini untuk alasan kesehatan. Jika tidak begitu, maka kau akan ketahuan sebagai mata². Kedua, kau kembali ke sini.”

Shin Bet tidak pernah mengijinkan anggota² Hamas keluar perbatasan kecuali mereka membutuhkan perawatan medis yang tak tersedia di daerah Palestina. Aku sebenarnya punya masalah dengan rahang bawahku yang membuatku sukar mengatupkan gigi rapat² dan aku tak bisa mendapatkan perawatan operasi untuk masalah ini di Tepi Barat. Masalah rahang ini tidak pernah terlalu menggangguku, tapi ini merupakan alasan baik. Maka aku lalu menyewa seorang pengacara untuk melaporkan kondisi medis ke pengadilan, meminta ijin untuk pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani operasi.

Tujuan semua ini adalah untuk menampakkan bukti administrasi yang jelas bahwa aku menjalani semua prosedur yang benar dan sulit untuk keluar dari Israel. Jika Shin Bet menyingkirkan semua kesulitan, maka tentunya ini tampak sebagai tindakan yang tak adil dan orang² akan curiga mengapa aku mendapat perlakuan istimewa dari Shin Bet. Jadi kami harus membuat semua proses ini tampak sukar dan aku harus berjuang keras untuk setiap kemajuan yang kudapatkan.

Tapi pengacara yang kusewa ternyata malah jadi masalah tersendiri. Dia rupanya tidak yakin aku bisa mendapatkan ijin keluar negeri, sehingga dia minta pembayaran di muka – dan aku lalu membayarnya – tapi setelah itu dia enak² duduk dan tidak melakukan apapun. Shin Bet juga tak menerima surat laporan diriku untuk diurus karena pengacaraku tidak mengirim apapun. Minggu demi minggu, aku terus meneleponnya dan bertanya apakah ada kemajuan dalam kasusku. Yang perlu dilakukannya hanyalah mengurus surat² saja, tapi dia tetap menunda-nunda dengan berbagai alasan. Ada masalah, katanya. Kasus ini lebih rumit. Dia minta uang berkali-kali lagi, dan aku pun membayarnya berkali-kali pula.

Semua ini terus berlangsung sampai enam bulan. Akhirnya di Tahun Baru 2007, aku menerima panggilan telepon.

“Kau sudah diperbolehkan pergi,” kata pengacaraku, yang lagaknya bagaikan telah memecahkan masalah kelaparan di seluruh dunia.

[center]***************[/center]

“Apakah kau bisa sekali lagi bertemu dengan salah satu ketua Hamas di kamp penampungan Jalazone?” tanya Loai. “Kaulah satu²nya orang yang …”

“Aku akan meninggalkan negeri ini dalam waktu lima jam lagi.”

“Baiklah,” katanya menyerah. “Jaga dirimu baik² dan terus berhubungan dengan kami. Telepon aku begitu kau sudah melampaui perbatasan agar semua berjalan lancar.”

Aku telepon beberapa orang yang kukenal di California dan mengatakan pada mereka bahwa aku akan datang. Tentu saja mereka tidak mengira aku adalah putra ketua Hamas dan mata² bagi Shin Bet. Tapi mereka sangat senang mendengar kedatanganku. Aku mulai memasukkan beberapa buah baju ke dalam koper kecil dan turun tangga untuk memberitahu ibuku. Dia saat itu sudah berada di ranjang.

Aku berlutut di sampingnya dan menjelaskan bahwa aku akan pergi dalam waktu beberapa jam, melampaui perbatasan ke Yordania dan terbang ke Amerika Serikat. Aku bahkan tak bisa menjelaskan mengapa aku harus pergi.

Mata ibu mengatakan semuanya. Ayahmu sedang berada di penjara. Kau berperan sebagai ayah bagi saudara² laki dan perempuanmu. Apa yang akan kau lakukan di Amerika? Aku tahu ibu tidak mau melihat aku pergi, tapi di saat yang sama, ibu ingin aku hidup dengan damai. Dia berkata bahwa dia berharap aku bisa mendapatkan kehidupan yang menyenangkan di sana setelah hidup penuh bahaya di rumah. Ibu tentu tidak mengetahui bahwa aku sudah melihat begitu banyak bahaya.

“Mari kucium kau sebelum pergi,” katanya. “Bangunkan aku di pagi hari sebelum kau berangkat.”

Ibu memberkati aku, dan aku katakan padanya bahwa aku akan berangkat di waktu subuh dan dia tak perlu melihat aku pergi. Tapi dia adalah ibuku. Dia menungguiku sepanjang malam di ruang tengah kami, bersama saudara² laki dan perempuanku dan juga sahabatku Jamal.

Sewaktu aku mempersiapkan semua barang² yang akan kubawa sebelum pergi, aku hampir saja membawa serta Alkitabku – yang penuh catatan², Alkitab yang sama yang kupelajari selama bertahun-tahun, bahkan di penjara – tapi sekarang aku memiliki dorongan keras untuk memberikannya pada Jamal.

“Aku tak punya hadiah lebih mahal yang bisa kuberikan padamu sebelum aku pergi,” kataku padanya. “Inilah Alkitabku. Bacalah dan ikutilah.” Aku tahu dia akan melakukan permintaanku dan mungkin akan membacanya kapanpun dia teringat padaku. Aku membawa cukup uang untuk hidup di tempat baru untuk sementara, lalu pergi meninggalkan rumah, dan menuju ke Jembatan Allenby yang menghubungkan Israel dan Yordania.

Aku tak menemukan masalah melintasi pos pemeriksaan Israel. Aku telah membayar $35 pajak keluar dan masuk ke terminal imigrasi yang sangat luas dan dilengkapi dengan alat pendeteksi metal, mesin² X-ray, dan Ruang 13 yang terkenal menyeramkan, tempat interogasi orang² yang dicurigai. Tapi alat² ini pada umumnya digunakan bagi orang² yang mau masuk Israel dari Yordania dan bukan orang² yang meninggalkan Israel.

Terminal padat dengan berbagai orang dalam berbagai bentuk, yang mengenakan yarmulke (tutup kepala kecil bundar pria Yahudi) dan berpakaian Arab, pakai jilbab atau topi biasa, sebagian memanggul ransel dan yang lain mendorong kereta penuh kopor. Akhirnya, aku naik ke bus JETT – satu² alat transportasi publik yang diperbolehkan melintasi jembatan.

Baiklah, pikirku, sudah hampir sampai nih.

Tapi aku masih saja gelisah. Shin Bet biasanya tidak mengijinkan orang seperti aku meninggalkan Israel. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan Loai sendiri heran bagaimana aku bisa mendapatkan ijin pergi.

Ketika aku tiba di daerah Yordania, aku menunjukkan passportku. Aku khawatir karena meskipun aku dapat ijin tinggal selama tiga tahun di AS, passportku hampir kadaluwarsa dalam waktu kurang dari tiga puluh hari.

Aduh, tolong dong, aku berdoa, perbolehkan aku masuk Yordania meskipun sehari saja. Hanya itu yang kuinginkan.

Tapi sebenarnya aku tak perlu khawatir. Tiada masalah apapun. Aku naik taxi ke Amman dan membeli tiket pesawat terbang Air France. Aku tinggal di hotel selama beberapa jam, lalu menuju Queen Alia International Airport di Yordania dan masuk ke pesawat terbang yang menuju California melalui Paris.

Sewaktu aku duduk di pesawat, aku merenungkan apa yang kutinggalkan di belakang, semua hal yang baik dan buruk – keluarga dan teman²ku dan juga pertumpahan darah, kesia-siaan, dan kegagalan yang tak ada habisnya.

Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kemerdekaanku yang baru. Aku merdeka untuk menjadi diriku sendiri, merdeka dari pertemuan² rahasia dan penjara² Israel, merdeka dari sikap curiga ada yang mengetahui posisiku.

Sungguh hal ini terasa aneh dan juga sangat menyenangkan.

Image
Mosab Hassan Yousef ketika diwawancarai di San Diego, California.

Suatu hari sewaktu aku sedang berjalan di trotoar di California, aku melihat wajah yang kukenal berjalan ke arahku. Itu adalah wajah Maher Odeh, otak dari begitu banyak serangan bom bunuh diri – aku melihat orang ini di tahun 2000 ketika dikunjungi tukang pukul Arafat. Aku dulu mengungkapkan pada Shin Bet bahwa dia dan teman²nya adalah pendiri Brigade Syahid Al-Aqsa.

Awalnya aku tak yakin bahwa orang itu adalah Odeh. Orang² memang bisa tampak berbeda di lingkungan yang amat berbeda. Aku harap aku salah. Hamas tidak berani melakukan serangan bom bunuh diri di AS. Akan jelek akibatnya bagi AS jika Odeh berada di California. Tentunya hal itu juga akan berdampak jelek bagiku.

Mata kami bertemu dan saling tatap selama sedetik. Aku sangat yakin melihat percikan sinar matanya yang menandakan dia mengenaliku sebelum dia terus berjalan melewatiku.